Sabtu, 08 Juli 2017

Berpura-pura Miskin

Berpura-pura Miskin
Widodo Surya Putra  ;   Penulis Buku; Editor, Penyuka basket;
Kini sedang menantikan penerbitan buku ketiga
                                                     DETIKNEWS, 20 Juni 2017



                                                           
Dalam sehari, saya agak terganggu mendengar dua cerita terkait ulah tidak sportif—jika saya boleh menyebut demikian—terkait perilaku "mendadak miskin" pada masa pendaftaran sekolah. Kedua cerita itu mirip, yakni mengenai dua orangtua yang menganggap dirinya "miskin" mendadak—lebih tepatnya pura-pura miskin, supaya mendapat keringanan biaya pendidikan untuk anaknya.

Mungkin sebelumnya mereka telah memelajari mengenai kuota untuk calon peserta didik (murid) yang datang dari keluarga kurang mampu secara ekonomi—juga sering disebut keluarga miskin—sehingga mereka tergoda untuk memanfaatkan kuota tersebut, supaya anaknya bisa bersekolah di tempat yang diinginkan.

Saya pun jadi teringat dengan cerita yang terjadi di Semarang beberapa tahun silam. Ceritanya, ada sebuah sekolah swasta yang sejak awal dibuka memberi kuota khusus untuk orang-orang kurang mampu (miskin). Anak-anak mereka akan dibebaskan sepenuhnya dari biaya pendidikan alias gratis, supaya dapat mengenyam pendidikan sama seperti anak-anak dari keluarga dengan perekonomian menengah ke atas.

Suatu ketika, ada seorang bapak yang sehari-hari mengamen, membawa bungkusan berisi uang hasil mengamen yang dikumpulkannya selama beberapa waktu lamanya, lalu menghadap ke kepala sekolah. Orang ini mengetahui bahwa biaya pendidikan memang tidak murah, tapi ia tidak mau anaknya bersekolah sepenuhnya gratis. Oleh karena itu, seberapa yang dapat ia hasilkan dan kumpulkan, dengan penuh kerelaan ia serahkan kepada pihak sekolah. Sungguh mulia sekali hati lelaki itu!

Sekolah yang sama juga pernah mendapat kunjungan mengejutkan dari seorang wanita. Awalnya ia tak mengenali siapa wanita tersebut, tapi ia segera ingat bahwa wanita itu pernah datang ke sekolah, lalu meminta keringanan biaya pendidikan anaknya. Modusnya, ia mengaku miskin dan secara sengaja datang dengan pakaian sederhana dan memakai sandal jepit. Setelah misinya berhasil—sang kepala sekolah dapat diyakinkan sekaligus ditipu—ia segera pulang ke rumah dengan mengendarai mobil bagus.

Repotnya, perilaku wanita itu segera mendapat balasan dari Tuhan. Dalam waktu singkat, usaha suaminya mengalami goncangan hebat, sehingga keluarganya benar-benar jatuh miskin. Ia pun teringat akan perilakunya ketika datang ke sekolah dengan berpura-pura miskin, tanpa sama sekali menyangka bahwa Tuhan "mengabulkan" keinginannya untuk menjadi miskin—supaya orang kasihan kepadanya.

Akhirnya, setelah menyadari kekeliruannya, wanita itu kembali datang ke sekolah, menemui kepala sekolah dan mengakui semuanya. Tak lupa ia pun meminta maaf karena telah mengambil "jatah" yang seharusnya menjadi milik orang yang lebih membutuhkan.

Menurut saya, dari antara dua orang yang terakhir saya ceritakan, lelaki pengamen tersebut lebih tepat disebut sebagai "orang kaya" dibandingkan wanita kaya yang memiliki mobil mewah tapi mengaku miskin. Secara materi, orang yang pertama boleh tertinggal jauh dari orang yang kedua, tapi mentalitas orang yang pertama jauh lebih kaya daripada orang yang kedua!

Jika mau diakui, bukankah mentalitas orang kaya yang berjiwa miskin ini cukup banyak terlihat di sekitar kita? Lokasinya pun bisa beragam, mulai dari ruang pembayaran biaya pendidikan atau uang gedung sekolah, swalayan terbesar di kota Anda, gedung pemerintahan, di rumah ibadah, di warteg atau rumah makan, termasuk di kampung tempat Anda tinggal, dengan pelaku tetangga sebelah yang rumahnya hanya terpisahkan dengan tembok setebal 1-2 meter dari rumah kita!

Jika mau diakui, bukankah kondisi serupa juga terjadi di sekitar kita? Ketika ada kampung yang terkena musibah gempa bumi, lalu beberapa rumah yang roboh mendapat bantuan dana dari pemerintah, berapa persen yang sampai ke pihak yang seharusnya menerima? Bahkan terkadang, dengan alasan "pemerataan" atau "supaya tidak menimbulkan permasalahan di masyarakat", lalu pemerintah desa setempat memutuskan untuk menyunat uang bantuan yang masuk, lalu membagikan ke semua warga?

Di sekolah, ketika ada kebijakan subsidi silang supaya biaya SPP murid dari golongan ekonomi menengah ke atas dapat menopang biaya SPP murid dari keluarga yang kurang mampu, berapa banyak orang kaya yang dengan antusias berkata, "Kami akan bayar lebih, supaya sisanya dapat dipakai untuk membantu biaya SPP murid lain!"?

Dalam skala nasional, berapa banyak dana yang seharusnya dipakai untuk mensubsidi biaya pendidikan atau kesehatan bagi rakyat yang kurang mampu, tapi sebagian uangnya dikorupsi oleh mereka yang secara materi jauh lebih baik daripada rakyat yang menjadi sasaran dari program yang dibuat oleh pemerintah itu?

Melihat, mendengar, dan membaca kisah aneh tapi nyata seperti di atas, saya hanya bisa mengelus dada, geleng-geleng kepala, atau terkadang tak tahan untuk berkomentar negatif mengenai orang-orang yang saya anggap tak tahu diri seperti itu. Namun, akhirnya saya menyadari bahwa "mentalitas" adalah inti dari semua permasalahan tersebut.

Saya pun pernah mengembalikan pertanyaan kepada diri sendiri, "Sudahkah saya memiliki mentalitas orang kaya, sekalipun secara materi belum berkelimpahan?" Namun, semakin ke sini saya menyadari bahwa semuanya dimulai dari mentalitas dalam diri, bukan dari banyak-sedikitnya harta saya.

Saya memohon kepada Yang Mahakuasa agar mengubah dan membentuk mentalitas makmur dan berkelimpahan dalam diri saya. Tak lupa saya pun berdoa supaya menjadi pribadi yang tahu diri, sehingga saya tidak akan mengambil jatah yang seharusnya menjadi hak untuk sesama yang lebih membutuhkan.

Saya bertekad agar sampai kapan pun, saya tidak akan berpura-pura miskin, supaya mendapat belas kasihan dari orang lain. "Gawat kalau Tuhan marah dan membuat saya benar-benar menjadi miskin. Emoh!"