Pada
Akhirnya, Kita Hendak Mudik ke Mana?
Candra Malik ; Budayawan Sufi
|
DETIKNEWS, 23 Juni 2017
Akhirnya, sampailah saya di titik terakhir safari Ramadan
tahun ini: Tasikmalaya. Sore itu, menjelang beduk maghrib, saya duduk santai
bareng Ipang Lazuardi di dalam tenda transit. Dia menceritakan kacamata baru
yang dibelinya dari Vicky 'Burgerkill'. Tapi, berbeda dengan saya yang sudah
usai perjalanan tur, Ipang dan kawan-kawan masih satu titik lagi waktu itu:
Arcamanik, Bandung. Vokalis BIP itu pun bertanya," Mudik, Gus?"
Saya jawab dengan pertanyaan balik, "Mas Ipang mudik
ke mana?" Rocker berambut gimbal yang suka tampil kasual itu tertawa
renyah. "Saya tidak pernah mudik, Gus. Ya Jakarta ini kampung halaman
saya," ungkapnya. Ipang sesungguhnya lahir di Bandung, namun tumbuh dan
besar di Jakarta. Begitu pun istrinya. Dia dan anak-anaknya tinggal di
ibukota. "Jadinya irit, dan tidak pernah kena macet mudik," seloroh
empu lagu 'Ada Yang Hilang' itu.
Mudik. Ya, menjelang hari-hari terakhir Bulan Ramadan,
kesibukan kita beralih ke rutinitas tahunan pulang kampung. Tidak hanya
setahun sekali, sebenarnya, tapi pulang kampung untuk merayakan Hari Idul
Fitri memang terasa istimewa. Walau harus terjebak kemacetan panjang pun, tak
ada yang benar-benar mengeluh dan memutuskan untuk tidak akan mudik lagi
dalam gelombang manusia rindu pulang. Lebaran tetap di perantauan, duh sakit!
Berliyan, karib saya yang tahun lalu sudah menikah dan
kini menanti kelahiran anak pertamanya, menyusul sang istri yang sudah lebih
dulu mudik ke Lampung. Dia, pada tahun-tahun sebelumnya, mudik ke Malang,
kampung halamannya. Kini tak lagi sama sejak berumah tangga. Yang bikin saya
geleng kepala, Berliyan akan bermotor ke Lampung. Padahal, kampung halaman
istrinya masih tujuh jam lagi dari pusat kota. Tapi, semua itu toh dijalani.
Kampung halaman. Sesungguhnya, di manakah kampung
halamanmu? Tidak jarang kita diingatkan bahwa dunia bukan kampung halaman
kita yang sejati. Ada adagium Jawa yang meneguhkan, "Urip iku mung
mampir ngombe. Hidup (di dunia) hanya mampir minum." Banyak yang
berpetuah bahwa kehidupan dunia itu fana. Sementara belaka. Tidak abadi.
Bahkan: fatamorgana. Tampak nyata, tapi ternyata maya. Bukan kehidupan
sejati.
Tapi, orang-orang tidak menjawab ketika saya bertanya,
"Di mana alamat akhirat?" Setuju atau tidak, percaya atau tidak,
suka atau tidak, siap atau tidak, setiap yang bernapas niscaya akan menjumpai
ajal. Satu di antara nikmat dari Allah yang tidak dapat kita pegang, karena
ia selalu seketika pergi sejak tiba, ialah waktu. Ya, waktu tidak pernah
lebih cepat, tidak pula lebih lambat. Waktu selalu tepat waktu. Dan, batas
waktu bagi usia adalah ajal.
Akhirat. Di mana itu? Di dunia saja, kita memerlukan
alamat untuk menuju ke titik perjumpaan tertentu. Sudah ada alamat pun, kita
masih membutuhkan ancar-ancar untuk lebih memudahkan mencapai tujuan. Itu pun
masih ditambah lagi: jika ada pengantar yang pernah ke tujuan itu, maka kita
lebih lega. Nah, bagaimana dengan akhirat? Di mana alamatnya, ada atau tidak
ancar-ancarnya, dan adakah pengantar yang bisa kita harapkan?
Ketika orang-orang bahkan sudah berani mengkapling-kapling
surga, bahkan lagi dengan mengkafir-kafirkan orang lain dan mengolok-olok mereka
sebagai ahli neraka, pertanyaan saya masih sama: di mana akhirat? Di mana
surga? Di mana neraka? Anda tahu? Saya tidak sedang mempertanyakan hal-hal
mengenai iman. Saya sedang mempersoalkan betapa kita sesungguhnya tidak
mengenal batas dan bahkan kelewat sering melampauinya.
Kita sungguh-sungguh tidak tahu apa-apa. Ya, saya di
Jakarta. Jakarta di Jawa. Jawa di Indonesia. Indonesia di Asia. Asia di bumi.
Bumi di Tata Surya. Tata Surya di Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti di
Alam Semesta. Alam Semesta di mana? Ketika pertanyaan itu telah terjawab oleh
ilmu pengetahuan dan teknologi pun, saya tak akan berhenti bertanya: di mana
itu? Tolonglah saya. Sesungguhnya kita di mana? Ke mana kita harus mudik?
Satu-dua tahun yang lalu, saya pernah menanyakan hal
serupa kepada anak sulung saya, Bima. "Lalu, di manakah Alam Semesta
itu, Kak?" Bima, yang waktu itu masih berumur 11-12 tahun tertegun.
Tidak lama kemudian dia menjawab, "Di dalam Allah! Bukankah Allah
Pemilik dan Pengatur Alam Semesta?" Senyum saya mengembang. Anak saya
mengerti, Allah meliputi segala sesuatu. Tiada yang di luar dan keluar dari
Kemahaagungan-Nya.
Saya masih berharap ada yang menjawab di mana alamat
akhirat, namun saya tidak memintanya sekarang. Harapan saya, kita masih
memiliki waktu yang cukup untuk memiliki jawabannya, dan betapa jawaban itu
sungguh penting khususnya bagi kita sendiri. Sebab, bukan soal waktu yang
telah berlalu, namun lebih tentang waktu yang masih tersisa. Kita sama-sama
tidak tahu kapan akhir waktu bagi usia masing-masing. Saat itulah kita akan
mudik.
Mudik? Di mana kampung halamanmu yang sejati? Yusuf,
sahabat saya yang lain, pernah sampai menangis demi beroleh jawaban atas
pertanyaan itu. Alih-alih bisa merasa lega, ia justru mendapat perkara baru:
jika kau memang penghuni rumah itu, bukankah seharusnya kau tahu di mana
alamatnya? Ah, rumah asal, rumah asal. Pergiku telah terlampau jauh dan
lupaku sudah terlalu akut sampai-sampai tidak ingat lagi di mana rumah asalku
sendiri. Di sini, di dunia ini, setiap Lebaran tiba, aku selalu diingatkan
untuk pulang ke Kesejatian. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar