Jumat, 07 Juli 2017

Bahari yang Fitri

Bahari yang Fitri
Radhar Panca Dahana  ;   Budayawan
                                               MEDIA INDONESIA, 23 Juni 2017



                                                           
DALAM sebuah tanya jawab, Ayah Mursyid, juru bicara masyarakat Badui Dalam yang tutur katanya halus, santun, dan sangat modern, bicara dalam beberapa bahasa asing, disodori pertanyaan, “Apa sebenarnya ilmu orang Badui dalam mempertahankan diri dari serangan, semacam bela diri. Yang menurut banyak orang kebal dibacok, tahan api, dan sebagainya?”

Jubir yang sangat sederhana, bukan hanya dalam busana, melainkan juga sikap hingga gerak tubuh hingga tatapan matanya itu menjawab dengan halus, “Ilmu seperti itu sebenarnya dimiliki orang Banten, bukan Badui.” “Lalu bagaimana dengan ilmu orang Badui sendiri dalam menghadapi tantangan atau serangan?” tanya lagi penanya muda yang penasaran itu. “Para pu’un (tetua adat tertinggi Badui-pen) hanya mengajarkan satu ilmu saja,” jawab Mursyid, masih dengan kehalusan suara dan bahasa. “Ilmu apa itu?” sergah sang anak muda tak sabar. Ayah Mursyid sejenak diam, menjawab dengan lirih tetapi lugas, “Ilmu itu bernama, kejujuran.”

Saya yang kebetulan duduk di sisi sang Mursyid, terhenyak, terdiam lama, dan merasakan palu godam menghantam semua level kesadaran saya, mulai sosial, kultural, spiritual, hingga 'ideologis'. Hanya dengan satu ilmu itu, orang Badui menghadapi dunia yang sekian lama mengaharu biru dirinya, menciptakan masyarakat yang wajahnya seperti tak pernah dihinggapi kepeningan, gembira, dan mempertahankan istiadat juga budaya yang ribuan tahun lamanya.

Dan kenyataan 'luar biasa' itu ada di Indonesia, menjadi bagian dari negeri dan bangsa ini, menjadi bagian yang sering kita nafikan, bahkan kita rendahkan, kita bikin eksotik seolah pajangan etalase dalam nafsu kepariwisataan kita, misalnya. Padahal, ya Allah, begitu banyak pelajaran dari kesederhanaan, 'keprimitifan' kata sebagian, kita dapatkan juga kita gunakan sebagai panduan atau cara hidup kita di tengan dunia yang kian tak terpahami ini.

Namun telanjur sudah, kita yang mengenal pendidikan (ala Kontinental) dari jenjang PAUD hingga S-S-dan-S itu, kita yang modern, positivistik, materialistik, dan rasionalistik itu, kita yang menguasai –tepatnya, mengangkangi--negeri dan bangsa ini (seolah kita yang membuat dan memilikinya)--secara tidak adil bahkan pandir menganggap semua pelajaran itu murahan, lampau/kuno, beku, dan tak berguna. Dunia Badui yang diberi roh oleh adab bahari itu, yang tidak kenal listrik apalagi bangku sekolahan, kita beri stigma sebagai kumpulan manusia dengan adat, ilmu/kearifan rendah, underdeveloped.

Padahal, siapa bisa merenungkan betapa esensial dan fundamentalnya nilai yang dijadikan ilmu Badui itu, 'kejujuran'. Bagaimana dengan nilai itu saja, sebuah kebudayaan bahkan sebuah peradaban yang mampu memuliakan manusia, juga lingkungan serta alam sekitarnya. Dalam arti memuliakan semua makhluk-Nya, semua yang ilahiah, dapat dibangun dan ditegakkan. Namun, ternyata, justru di satu nilai yang menjadi watak purba bangsa Indonesia itu, kita lack, lemah, dan incapable.

Pohon spiritual

Hampir semua peristiwa juga fenomena yang terjadi dalam sekujur nasib bangsa ini dapat ditelusuri sebab muasalnya, dari absennya satu nilai utama di atas. Mulai pelanggaran kecil dalam cara kita berlalu lintas di jalan, kekerasan dalam kriminalitas hingga konflik horisontal, manipulasi jabatan hingga korupsi triliunan. Pohon-pohon kekar dari kejahilan adab masa kini kita terjadi karena tercerabutnya kita dari nilai/akar kebudayaan kita, kejujuran.

Tidakkah begitu juga cara kita beragama, beribadah, meyakini banyak hal yang mistik secara spiritual, hingga puasa dan harapan akan berkah-berkahnya yang ada selama masa Ramadan ini? Adakah kejujuran itu menjadi lantai di hati kita untuk bersujud, memasrahkan hidup atau nasib kita pada-Nya? Atau justru pamrih, dengan sedikit ancaman, yang jadi landasan atau motif bersujud itu?

Benarkah lapar dan haus menjadi ibadah Ramadan kita bukan hanya sebagai pelaksanaan perintah-Nya melainkan juga exercise hidup cukup bahkan kurang sebagai lawan dari gaya hidup kita yang eksesif (berlebih). Atau semua itu ternyata semata gaya atau lagak keimanan kita?Kejujuran, satu hal yang kita dapat hikmati dari masyarakat Badui, sesungguhnya hanya satu dari puluhan nilai dasar (purba) adab dan budaya bahari negeri ini. Nilai (-nilai) yang daya kerjanya mampu bukan saja menumbuhkan daya hidup atau daya tahan bangsa ini, melainkan juga memuliakan makhluk-makhluk ilahiah yang menjadi elemen pembentuknya. Katakanlah nilai-nilai itu (sebagian) antara lain kebersamaan, keterbukaan, keseteraan, akseptan, dan kesantunan.

Nilai-nilai yang bukan hanya klaim atau keyakinan kosong sebagaimana ada pada kita saat ini, melainkan juga dapat dijelaskan kenyataan dan keberadaannya baik secara historis, arkeologis, maupun filosofis. Semua nilai itu juga yang menjadi akar penunjang pohon spiritual kita, dengan cabang dan daun keberagamaan kita. Kebenaran supranatural (ilahiah) adalah kebenaran yang mengisi atau menjadi roh dari tiap jejak, langkah atau cara kita menjalani hidup ini. Kenyataan purba yang kini langka bahkan hampir punah dalam kenyataan kontemporer kita. Zaman di saat semua hal yang 'supra' dan mistis itu sudah kita materialisasi, menjadi ukuran-ukuran palsu atau artifisial sebagai parameter bagi derajat kemanusiaan kita dalam piramida sosial (politik, akademik, dst) yang ada saat ini.

Tidak mengejutkan bila kemudian kesalehan kita dalam ibadah tidak lagi diukur dalam perilaku, sikap, atau produk kreatif yang menciptakan maslahat bagi orang lain (khalayak), tapi terjebak dalam simbolisasi busana, gaya hidup, tanda di kening, kedermawan padat pretensi, hingga ritus-ritus modern yang berharga mahal. Maka, betapa meruginya kita ketika kita dijambangi tamu terhormat yang bernama Ramadan, kita sambut dan sikapi dengan artifisialisasi atau kepalsuan semacam itu. Harusnya kita malu, pada diri sendiri, sebelum kepada Yang Khalik sebagai pengirim duta suci bernama Ramadan itu.

Ibadah rendah hati

Mungkin ada baiknya, kesalehan kita yang sosial saja diisi oleh sebesar-besarnya kerendahan hati, sebagai produk utama kejujuran, dalam hal pengakuan akan tingkat keimanan kita, misalnya, saat berhadapan dengan orang lain. Kita selalu menganggap masih begitu rendahnya iman dan kesolehan itu, sehingga kita kecut, takut, dan khawatir bila kita menonjolkan sedikit saja simbol kesalehan itu pada lain orang. Kita malu bahkan takut sesungguhnya akan dusta kita, pada diri sendiri, pada Dia Yang Maha Melihat.

Maka, sehebat apa pun kita merasa telah menjalani ibadah vertikal atau spiritual kita selama Ramadan, melengkapi semua rukun hingga sunah-sunahnya, kita akan selalu merasa menjadi 'yang lemah' dan 'yang kurang' di hadapan-Nya, di hadapan semua makhluk-Nya. Semangat atau etos 'yang lebih' apalagi berlebih sebagaimana tradisi dan budaya Kontinental yang mengglobal itu, menjadi haram bahkan kutukan bila terselip dalam cara kita berpikir, bersikap, dan berperilaku.

Bisa kita meyakini bersama, dengan modal nilai sederhana dari kekayaan nilai adab bahari yang kita miliki itu, sebuah perbaikan semacam reparasi mental dan batin akan dapatkan bagi keseluruhan dimensi diri kita. Sebuah perbaikan yang dalam ruang lebih lapang menjadi semacam gerakan atau perubahan, untuk akhirnya menjadi jawaban bagi tantangan dan kesulitan hidup yang kita alami selama ini, sebagai pribadi maupun sebagai sebuah negeri.

Di penutup Ramadan, saat fajar Syawal menyingsing, kita tidak perlu berharap bahwa kefitrian itu akan menjadi rizki hidup kita. Rizki itu adalah makhluk yang terus mencari: siapa dan apa saja yang pantas ia datangi. Dengan hidup dalam adab murni kita bahari di atas, setidaknya kita cukup tenang karena tahu kita telah meretas siratul mustaqim yang akan melurus saf dari baris-baris nasib kita di masa depan. Kita pun tak perlu tahu apakah rizki kefitrian (sudah) datang atau belum. Karena ketika ia pun datang, kita tidak akan pernah mengklaim, tidak akan pernah apalagi mempertunjukkannya karena satu nilai itu saja: rendah hati, anak dari kejujuran hati kita. Selamat berbahari, semoga kita Idul Fitri.