Sabtu, 01 Juli 2017

Mengisi Ulang Baterai Birokrasi

Mengisi Ulang Baterai Birokrasi
Abdullah Azwar Anas  ;   Bupati Banyuwangi
                                                   KORAN SINDO, 21 Juni 2017




                                                           
KITA semua patut bersyukur, tahun ini diberi kesempatan untuk berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadan.

Ramadan seyogianya dimaknai bukan hanya sebagai bulan bagi kita untuk berpuasa. Bukan pula sekadar berharap ampunan dari Yang Mahakuasa. Ramadan juga bukan sekadar bulan kala umat Islam mengharapkan pahala dan penghapusan dosa. Lebih dari itu Ramadan adalah saat ketika kita memasang cermin kehidupan yang merefleksikan apa yang telah kita perbuat selama setahun terakhir. Momentum untuk melakukan refleksi, becermin, berkontemplasi, menelaah diri sendiri seutuhnya adalah momentum yang dibutuhkan setiap manusia.

Melalui momentum ini setiap manusia disadarkan bahwa hidup tak selalu harus terus berlari dan menerjang. Sesekali kita harus menengok ke belakang untuk mengambil jeda dan mengevaluasi diri. Melalui rangkaian Ramadan dan berlanjut ke momen Idul Fitri, kita mengisi ulang baterai kejiwaan kita. Hidup sesekali harus berhenti, menarik napas panjang, mengumpulkan energi kehidupan untuk kemudian berlari kembali menuju tahapan yang lebih baik lagi. Makna itu pula yang semestinya diupayakan di lingkungan kita sehari-hari.

Dalam hal ini adalah birokrasi, tempat kini saya menghabiskan waktu. Selepas Ramadan dan memasuki Idul Fitri, kita berharap bisa menjadi sosok yang lebih mampu memahami apa arti pelayanan publik. Pemahaman baru ini diharapkan bisa memacu kinerja birokrasi menjadi semakin baik. Birokrasi perlu terus melakukan terobosan agar pelayanan publik berjalan semakin baik mengingat pelayanan publik menjadi jantung bagi seluruh aktivitas masyarakat. Yang perlu dilakukan bukan lagi pelayanan publik yang bersifat business as usual.

Dalam konteks inilah inovasi menjadi penting dan relevan. Tren perbaikan kinerja birokrasi semestinya semakin mendapatkan pemaknaan yang lebih dalam setelah Ramadan dan momen Idul Fitri, setelah kita memiliki pemahaman segar mengenai hubungan manusia dan kemanusiaan, termasuk dalam relasi antara birokrat dan warga.

Melebur Kesalahan

Berbarengan dengan upaya perbaikan kinerja birokrasi, Idul Fitri memberi makna lain, yaitu bagaimana kita semua melebur kesalahan dan kekhilafan dalam hubungan antarmanusia. Kita tak bisa meremehkan salah, khilaf, dan kesalahan hati yang muncul dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia. Staf punya kesalahan, tapi pimpinan jauh lebih banyak memiliki kesalahan.

Oleh karena itu di momen inilah semua kesalahan itu harus saling dimaafkan sehingga bisa terbentuk birokrasi yang solid. Satu lagi makna yang mesti diambil dari rangkaian Ramadan dan Idul Fitri adalah perlunya birokrasi menanamkan paradigma kerja yang merangkul banyak pihak hingga level terbawah dan kepemimpinan bersama (shared leadership). Karena dari situlah keberlanjutan program pelayanan publik bisa terjaga.