Senin, 10 Juli 2017

Instagram dan War-war Perempuan Milenial

Instagram dan War-war Perempuan Milenial
Kalis Mardiasih  ;   Menulis opini dan menerjemah; Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama
                                                     DETIKNEWS, 23 Juni 2017



                                                           
Di akun Instagram-nya (selanjutnya disebut IG) seorang teman perempuan yang kini telah berstatus ibu mengunggah foto anak balitanya. Tentu saja, foto itu tidak lengkap tanpa pesan. Ia menulis bahwa ia kelak tidak akan memaksa anak perempuannya pandai matematika, fisika, bahasa asing atau pelajaran-pelajaran lainnya. Ia hanya ingin anaknya kelak menjadi pribadi yang saleha.

Dalam hati saya bertanya, "Bukankah untuk menjadi saleha seseorang perlu menyerap keilmuan dengan baik, mengartikulasi output dari ilmu yang diserap dengan efektif, lalu mengekspresikannya kepada sesama dengan strategi yang benar?"

Tetapi, buru-buru saya tepis pikiran bawel yang pasti hanya kecemburuan pribadi saya belaka sebagai jomblo ini. Ya, beranda akun IG pribadi saya memang lebih banyak dipenuhi dengan akun-akun teman sekolah yang kini sebagian besar telah menjadi ibu muda alias mahmud. Mereka yang telah menjadi mahmud ini, ada yang berpenampilan jauh berbeda dari zaman sekolah dan kuliah.

Jika dulu berkaos kasual dan jins biasa, kini mereka bergamis anggun dan berhijab syar'i kekinian. Tipe pertama yang gemar mengeksplorasi foto keluarga lengkap dengan pesan sakinah mengharu biru ini identik dengan artis role model keluarga islami kekinian seperti Irwansyah feat Zaskia Sungkar, atau Dude Herlino dan Alyssa Soebandono.

Tipe kedua adalah tipe unggahan foto makanan bayi dan aktivitas bayi. Setelah masa enam bulan ASI ekslusif, biasanya bayi akan disodori Makanan Pendamping ASI alias MPASI. Nah, menu MPASI hari pertama hingga tak terhingga inilah yang diunggah beserta bahan dan cara membuatnya. Barisan ibu-ibu penganut HHBF alias Homemade Healthy Baby Food, sebuah komunitas yg menjunjung tinggi nilai-nilai MPASI rumahan dengan memakai standar WHO itu giat menjelaskan pola tekstur makanan bayi bertahap, mulai dari puree, bubur saring, tim, baru kemudian nasi.

Foto harian menu itu, tentu tidak lengkap tanpa pesan seperti, "Alhamdulillah ya, Nak. Hari ini ibu tetap membuat sendiri MPASI kamu. Bagaimanapun, menu homemade lebih terjamin untuk perkembangan kamu dan merupakan bukti kasih sayang ibu."

Dengar-dengar, di grup Whatsapp ibu-ibu milenial, isu MPASI ini juga jadi salah satu topik moms-war unggulan selain isu ASI vs Susu Formula, dan isu ibu rumah tangga vs ibu bekerja.

Soal aktivitas bayi, siapa sih yang tidak kenal baby Tatan atau baby Kirana? Hayo ngaku, kalian tim Tatan atau tim #TemanMainKirana? Buku Happy Little Soul karangan @retnohening, si ibu selebgram bayi ini bahkan jumlah pre-order-nya mencapai juta copy sebelum terbit. Yak, hanya bermodal branding awareness via tingkah-tingkah lucu si bayi. Tidak perlu endorsement tokoh atau gelar berderet, hanya perlu mencuri hati para ibu. Jadi, masih berani memandang sepele the power of emak-emak?

Tetapi, belakangan ada barisan ibu-ibu pengambil hikmah yang juga menyampaikan pesan mulia. Menurut mereka, akun IG membuat ibu jadi kurang bersyukur pada kemampuan masing-masing anak. Kebiasaan takjub pada aktivitas anak orang lain mengakibatkan si ibu memiliki keinginan agar anaknya pun mampu melakukan hal yang sama, padahal perkembangan tiap anak tentu saja tidak sama.

Skip. Lagi-lagi, tipe kedua ini pun tidak bisa terjangkau oleh jomblo, eh single semacam saya. Meninggalkan dunia istri dan ibu, marilah kita membicarakan akun artis dan akun selebgram. Sebagai fans akun @princesssyahrini garis keras, hidup saya jadi selalu bahagia. Bayangkan saja, pagi hari ketika membuka mata, saya langsung membuka IG story Syahrini. Pagi itu, saya tahu Sang Princess sedang berada di Tokyo, Eropa atau New York, dengan penampilannya yang selalu berkilauan dan cetar membahana.

Dari IG story, kegiatan hariannya mulai dari fitting baju, make up, naik pesawat, mengunjungi tempat wisata dan lokasi syuting, membeli oleh-oleh, hingga pemotretan selalu dikabarkan dengan bahagia. Dengan mem-follow akun artis, saya diingatkan untuk selalu gembira dan bagaimana memiliki etos kerja tinggi.

Lain artis, lain akun selebgram. Dalam survei yang saya lakukan secara acak dan tidak metodologis, konon selebgram adalah cita-cita sebagian besar anak-anak kecil zaman sekarang, selain menjadi Youtuber. Salah satu akun selebgram yang moncer, tentu saja adalah akun Karin Novilda alias @awkarin. Karin tidak hanya jadi selebgram, tapi juga rutin mengunggah vlog (video blog) di Youtube yang isinya aktivitas berlibur lengkap dengan drama percintaannya.

Kenapa saya mengikuti perkembangan akun Karin? Konon, Karin yang pemasukan bulanannya bernilai ratusan juta itu suka berkata kasar dan saru. Kata-kata itu diulang hampir beberapa menit sekali ketika ia berbicara. Jadilah terkadang saya kurang kerjaan menghitung dan mendaftar kata-kata apa saja yang ia utarakan. Dari aktivitas sia-sia dan jauh dari pahala yang saya kerjakan ini, saya memperoleh satu kesimpulan bahwa berkata kasar dan saru kini sudah tidak rebel; di era kekinian, yang rebel adalah menghormati orangtua.

Oya, mengamati akun selebgram juga membuat kita tahu tatto terbaru dan flipper lip yang mereka pakai.

Selain tipe-tipe di atas, yang paling mengerikan tentu saja adalah akun gosip. Di era kiwari, semua orang adalah subjek yang layak dibicarakan, sehingga semua orang bisa layak menyandang gosip meskipun mereka bukan artis. Inilah yang menyebabkan akun Lambe Turah kini tidak hanya mengikuti aktivitas memsye-pepsye Raffi-Nagita dan Ayu Ting-ting dengan balajaer-nya, tapi juga membahas isu apa saja yang menggetarkan, mencengangkan, memalukan, sampai kadang-kadang menjijikkan.

Akun-akun penyedia jasa gosip itu tahu bahwa kita harus menjadi egaliter dan membumi dengan membahas semua manusia apapun identitas, profesi dan golongannya. Astaghfirullah...istighfar, Mbak!

Lalu, misteri selanjutnya adalah pertanyaan: ke mana laki-laki dalam semesta Instagram?

Laki-laki adalah penikmat. Salah seorang teman memberi kesaksian bahwa di kala aplikasi sosial media yang lain penuh dengan perdebatan tak berujung yang menjemukan, akun IG adalah layaknya taman-taman bunga yang indah. Salah satu pameo menggelitik kekinian adalah bahwa secantik-cantiknya perempuan ialah mereka yang tidak mengunci akun Instagram-nya.

Ungkapan nakal itu tentu saja disebabkan dua hukum di dunia yang tidak adil bagi kaum lelaki, yakni selain tidak boleh menangis, laki-laki juga haram buat ber-selfie. Sayangnya, hal-hal mendesak yang mesti menjadi perhatian bersama kaum perempuan lebih sering tidak menarik di Instagram. Komnas Perempuan, misalnya, meluncurkan catatan tahunan (Catahu) untuk memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret.

Tahun ini, beberapa hal yang menjadi perhatian penting Catahu adalah soal dispensasi perkawinan, femisida dan kekerasan di dunia maya. Dispensasi usia perkawinan kerap melahirkan mata rantai lanjutan seperti kemiskinan, kekerasan seksual pada perempuan dan pola asuh anak yang dipaksakan. Femisida adalah pembunuhan seorang perempuan berdasar sentimen gender yang seringkali masih dianggap sebagai kasus kriminal biasa. Juga untuk bullying dunia maya yang berdampak tidak sederhana. Jumlahnya terus meningkat.

Begitulah. Ada banyak sekali tantangan menjadi perempuan dalam semesta Instagram. Selanjutnya, ada baiknya para perempuan saling berpegangan tangan dan saling menguatkan, selain agar tidak terus terjebak di pusaran war-war alias perang stereotip yang menyudutkan perempuan, tentu agar dompet aman dari akun-akun belanjaan.