Penyair
dan Keruntuhan Sejarah
Faisal Kamandobat ; Penyair
|
KOMPAS,
12 Januari 2014
Sejauh mana sosok manusia
bernama penyair mampu mengada dalam sejarah? Martin Heidegger (1947) menyebut
puisi sebagai media terbaik manusia untuk mengada, karena puisi memiliki
karakteristik yang paling mampu menghadirkan makna dunia yang melimpahi dan
meneguhkan kesadaran.
Ucapan filsuf metafisika
itu mesti dikaitkan dengan penjelasan sosio-antropologis untuk mengetahui
posisi dan peran penyair secara lebih konkret. Pada suatu masa keberadaan
masyarakat bergantung pada posisi dan peran para penyair, sehingga puisi
menjadi teks yang memberi status ontologis masyarakat tersebut. Namun juga
terdapat fase sejarah di mana masyarakat menggantungkan status ontologisnya
pada selain yang bukan puisi, dan sosok penyair menjadi figur pinggiran, yang
meski dipuja tetapi tak cukup didengar.
Namun yang penting, di
tengah pasang surut ”kuasa” para penyair itu, kita dapat mengetahui
faktor-faktor yang menguatkan, mengganggu, bahkan meruntuhkan posisi para
penyair dalam sejarah. Selain itu, kita juga dapat mengetahui hal-hal yang
bertahan dan berubah dalam diri penyair dari masa ke masa, sehingga kendati
peruntungannya tidak selalu baik, beberapa orang berbakat masih terus menulis
puisi, dan cita-cita filosofis Heidegger tetap menemukan relevansinya sebagai
”teori” kesadaran dengan puisi sebagai ”rumah utama” bagi keberadaan manusia.
Untuk mengetahui masa
”kejayaan” para penyair, bukti sejarah yang paling baik terdapat pada masa
pramodern, yaitu ketika kapitalisme dan ilmu pengetahuan belum
sungguh-sungguh melembaga dan otonomi individu belum menguat seiring belum
kokohnya kepemilikan individu. Dalam masyarakat demikian, peran penyair dapat
dikatakan penting dalam menjaga keseimbangan sosial, yang oleh orang Yunani
Kuno disebut kosmos.
Pentingnya peran penyair
tersebut terkait dengan kenyataan bahwa puisi (dalam bentuknya yang paling
umum, yaitu sebagai produk bahasa berdasarkan permainan irama dan repetisi)
masih merupakan bentuk pengucapan yang paling mewakili karakter kosmis dan
transenden dari mitos dan ideologi masyarakat pramodern.
Usaha peng-kosmis-an
dilakukan melalui permainan harmoni dalam irama puisi, dan transendensi
dicapai melalui pola repetisi puisi yang mengantarkan pengucap dan
pendengarnya menempuh tingkatan-tingkatan intensitas hingga mendekati bentuk
penghayatan yang paling menyerupai tatanan semesta yang dibayangkan, sesuai
mitos atau ideologi yang diacu.
Karena itu, tidak heran
jika hampir semua kitab suci agama-agama ditulis dalam bentuk yang puitik,
pula hampir semua teks yang dianggap suci dalam berbagai kelompok etnis. Dan
tentu, kandungan dalam puisi-puisi tersebut mengacu pada peristiwa-peristiwa
yang dianggap penting oleh kelompok yang menganutnya, seperti penciptaan,
kelahiran, kutukan, kiamat, dan penciptaan kembali. Kitab suci agama-agama
lazim diketahui menggambarkan peristiwa-peristwa penting itu, seperti juga
sajak-sajak bini yang dibawakan oleh para manaholo, penyair tradisional Rote,
berisi peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan oleh para tetua adat di
masa yang telah silam.
Melalui puisinya, para
penyair pramodern memosisikan dirinya sebagai sumbu yang ”mengendalikan”
sejarah masyarakatnya berdasarkan sumber mitis yang diacu, karena terhadap
acuan mitis itulah kehidupan masyarakat sehari-hari diorientasikan dan
sekaligus menemukan status historisnya. Tanpa mengacu pada sumber yang
disepakati, sebuah peristiwa tidak dianggap sebagai bagian dari kosmos alias
berada ”di luar dunia”, dan karena itu bersifat ekstra-historis.
Sejarah, dengan demikian,
sebagaimana disebut Mircea Eliade (1991) adalah takdir menjalani peristiwa
pengulangan terus-menerus sesuai pusat acuan dengan hanya sedikit partisipasi
individu dari generasi setelahnya. Hal itu terjadi sejauh individu tersebut
bukan seorang penyair, raja, pendeta, penyihir, atau pemberontak yang
memiliki daya ledak seorang Dionysius yang mampu mengacaukan kosmos. Agar
tidak terlempar dari sejarah, kehidupan sehari-hari yang paling wajar
sekalipun mesti dikaitkan dengan pusat acuan, entah dengan puisi atau
praktiknya, yaitu ritual.
Hidup dalam sejarah
demikian itu, yang terserap secara total ke dalam harmoni kosmis, tak ubahnya
tinggal dalam pandangan Plato tentang dunia ideal, di mana dewa-dewa hidup
bersama manusia di alam yang sama, dan surga di langit menjadi model yang
”melembaga” dalam realitas sosial di bumi. Para penyair menjadi pewarta agung
dalam sejarah yang demikian itu, mengisi makna secara penuh ke hampir seluruh
realitas, sehingga ia sering dianggap suci dan bahkan setengah dewa, dan pada
akhirnya ikut tenggelam dalam dunia yang mereka nubuatkan.
Kuasa yang terbatas
Pada masa selanjutnya,
posisi penyair sebagai penjaga kosmos perlahan terkikis oleh perubahan
sosial. Kosmos masyarakat pramodern tidak semata dibentuk oleh rima dan
repetisi puisi para penyair, tetapi juga didukung oleh organisasi sosial,
pembagian kerja, basis ekonomi, aturan kekerabatan, tatanan religi, yang membentuk
kolektiva sosial yang melampaui eksistensi individu.
Perubahan tersebut terjadi
hampir menyeluruh. Secara ekonomi, datangnya kapitalisme telah mencabut hak
milik adat menjadi milik individu. Dampaknya adalah melemahnya institusi
agama, kekerabatan dan adat, diikuti nilai, ritual, dan upacara yang
berkaitan dengan semua hal itu. Situasi demikian telah mengubah secara
paradigmatik penghayatan masyarakat terhadap sejarah mereka. Sejarah bukan
lagi dipandang sebagai repetisi terhadap pusat acuan mitis yang ditegaskan
melalui puisi dan ritual, melainkan interpretasi individu-individu terhadap
pusat acuan tersebut yang dilakukan demi menjustifikasi posisi dan
kepentingan masing-masing individu itu.
Situasi demikian telah
mengubah secara paradigmatik penghayatan masyarakat terhadap sejarah mereka.
Sejarah bukan lagi dipandang sebagai repetisi terhadap pusat acuan mitis yang
ditegaskan melalui puisi dan ritual, melainkan interpretasi individu-individu
terhadap pusat acuan tersebut yang dilakukan demi menjustifikasi posisi dan
kepentingan masing-masing individu—sesuai sistem ekonomi yang baru.
Dalam konteks tersebut,
konsep waktu yang semula tunggal, kolektif dan siklis, berubah menjadi
plural, individual dan progresif mengikuti kehendak individu. Akibatnya, waktu
dipahami oleh tiap individu sebagai arus linear yang menjelajah ke depan dan
menembus gugusan teritorial, paralel dengan terjadinya diferensiasi sosial,
persebaran penduduk, dan terciptanya struktur sosial baru di pusat-pusat
kapitalisme yang sedang tumbuh.
Di tengah situasi
tersebut, para penyair pramodern pun goyah di singgasana kosmosnya. Sebagian
dari mereka tetap tenggelam dalam kosmologi lamanya, sedangkan sebagian lain
yang cukup sigap mencoba menumpang perahu penyelamat dengan ikut mengkreasi
sejarah modernitas. Dalam medan baru ini, posisi dan peran mereka tidak
sekuat dan sekeramat dulu lagi. Ia harus berbagi kekuasaan dengan para
filsuf, ilmuwan, teknolog, politisi, arsitek, pedagang, dan buruh—peran-peran
yang pada masa pramodern sering hanya ditempatkan sebagai ”figuran” belaka.
Pembagian kekuasaan
tersebut pada akhirnya ikut mengubah bentuk puisi. Pada masa pramodern,
bentuk puisi yang diacu adalah koherensi kata, baris dan rima, yang
merefleksikan ikatan historisnya dengan harmoni kosmis. Dalam puisi modern,
aturan rima demikian justru dilanggar sebagai modus penghadiran individu
penyair ke dalam bahasa, sekaligus merefleksikan kuasa penyair yang kian
terbatas. Dengan kata lain, jika dalam masyarakat pramodern sosok penyair
menjadi manifestasi dari kosmos dan kolektiva sosial, dalam masyarakat modern
ia hanya sesosok individu yang berusaha sekuat tenaga menghadirkan dirinya ke
masyarakat, bukan lagi ”penguasa” atasnya.
Mekanisme penegasan kuasa
sosial para penyair juga ikut berubah. Dalam masyarakat pramodern, puisi
dibacakan dalam kegiatan ritual untuk menegaskan status sucinya, di mana sang
penyair berbagi kekuasaan dengan para dewa-dewi.
Adapun dalam masyarakat
modern, penyair membacakan puisinya dalam festival yang menegaskan status
sekuler dan profannya untuk mereguk sepenuhnya kekuasaan yang terbatas atas
namanya sendiri. Semakin kuat dan inovatif puisi-puisinya, semakin ia
diterima oleh masyarakat; semakin prestisius festival yang diikuti, semakin
tegas aura kuasanya sebagai ”pewarta murung” modernitas.
Perlu mekanisme
baru
Mekanisme penegasan kuasa
semacam itu tentu memiliki konsekuensi. Secara estetis, kuatnya posisi
individu memungkinkan pesatnya inovasi, yang secara sosiologis berarti
memberi banyak pilihan orientasi terhadap masyarakat. Namun karena inovasi
tersebut hanya didukung oleh mekanisme kontestasi yang tidak berkaitan secara
kuat dengan institusi-institusi lainnya, baik ekonomi, politik, agama, adat
maupun keluarga, kuasa penyair dalam memberi orientasi terhadap sejarah menjadi
lemah. Penyair modern (setidaknya di Indonesia) dianugerahi kebesaran nama, tetapi pengaruh sosial dan politiknya telah jauh berkurang.
Untuk meningkatkan ”kuasa”
para penyair dalam sejarah modern, panggung festival dan industri penerbitan
saja tidak cukup. Kita membutuhkan mekanisme yang sanggup menghubungkan puisi
dengan agama, keluarga, kekerabatan, perusahaan, negara, dan pemerintahan
yang luar biasa kompleks karena keragamannya di negeri ini. Di samping itu,
ideologi yang dibawa para penyair juga mampu menyentuh wilayah ”meta-sejarah”
yang menjembatani komunikasi bangsa yang beragam ini, tidak hanya melakukan
kreasi estetis berdasarkan bentuk estetis—kendati dalam kadar tertentu bentuk
estetis juga menentukan ideologinya.
Jika mekanisme tersebut
berhasil dilakukan, para penyair modern setidaknya bisa ikut menunda
”keruntuhan sejarah” bangsanya yang sedang mengalami atomisasi di berbagai
bidang, atau bahkan menjadi dirijen sejarah berdasarkan irama puisi-puisinya,
untuk bergerak mengikuti pancaran ideologi yang mereka nubuatkan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar