Nasib
Pendidikan di Tahun Politik
Junaidi Abdul Munif ;
Direktur El-Wahid Center Universitas Wahid Hasyim Semarang
|
MEDIA
INDONESIA, 13 Januari 2014
|
TAHUN
2014 disambut gegap gempita, terlebih pada tahun ini akan ada momentum lima
tahunan; pemilu legislatif dan presiden. Hiruk pikuk partai politik (parpol)
dan calon presiden sudah mulai marak sejak 2013, bahkan tahun-tahun
sebelumnya. Boleh jadi ini menjadi tahun politik saat `kekaburan' di segala
bidang tampak nyata di depan nyata. Di tahun ini, harapan membuncah,
sekaligus kegamangan tetap saja muncul. Ini kalau ternyata yang terpilih
sebagai pejabat eksekutif dan legislatif tak banyak berpihak pada rakyat. Lagi-lagi rakyat hanya menjadi komoditas politik dan penonton di luar
panggung pemerintahan (kekuasaan).
Bagaimana nasib dunia pendidikan
di tahun politik ini? Pendidikan merupakan jantung kemajuan sebuah negara.
Jika pendidikannya maju, negara akan maju. Pendidikan yang baik akan
menciptakan generasi sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Manusia yang
unggul adalah aset utama dalam menghadapi persaingan global. Ketika sumber
daya alam semakin menipis, manusia unggul akan berusaha menyiasati kondisi
tersebut agar negaranya tetap bertahan.
Hal pertama mesti dilihat, adakah
hubungan yang signifikan antara du nia pendidikan dan dunia politik (praktis)
hari ini? Hubungan secara langsung memang dak ada, atau tidak kasat tidak
ada, atau tidak kasat mata. Namun, bagaimana kita melihat jabatan menteri
pendidikan dan kebudayaan (mendikbud), yang tak bisa dilepaskan dari
konstelasi politik nasional. Sebelum menjabat sebagai mendiknas/bud, Mohammad
Nuh pernah menjabat menristek (menteri riset dan teknologi), jabatan yang
masih ada hubungannya, karena riset dan teknologi merupakan anak kandung
pendidikan itu sendiri.
Kedua, sebagai salah satu
kementerian, anggaran pendidikan dan kebudayaan mesti mendapatkan persetujuan
dari DPR. Di sini terbuka peluang untuk memunculkan kompromi-kompromi politik
dari anggota legislatif yang secara tersirat membawa misi parpol. Artinya,
pendidikan--di tingkat struktur elite-tidak bisa lepas dari kepentingan
politik. Optimalisasi penganggaran sebesar 20% dari APBN, misalnya, dapat
menjadi medan lobi politik.
Terkait dengan dua hal tersebut,
dunia pendidikan tak bisa dilepaskan dari persoalan politik praktis. Dibutuhkan
komitmen bersama dari semua elemen elite politik, baik legislatif maupun
eksekutif, untuk bahu membahu memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Berbagai
survei pendidikan internasional (semisal PISA) 2012 (diumumkan 6 De sember
2013), In donesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara yang berparti sipasi
dalam survei. Skor literasi matematika 375 dan skor literasi sains 382. Shang
hai (China), Singapura, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, dan Vietnam bahkan
berhasil mengungguli Amerika Serikat yang selama ini seolah menjadi kiblat
pendidikan internasional.
Empat
pekerjaan besar
Sudah jamak terdengar bahwa di
Indonesia, ganti menteri ganti kurikulum. Sebelum satu kurikulum diterapkan
dengan sukses, sudah ganti kurikulum baru lagi. Akibatnya, timbul
permasalahan di level guru/pengajar, yang berhadapan langsung dengan siswa.
Guru belum cakap mengimplementasikan kurikulum, tapi sudah ganti kurikulum. Konsentrasi
guru akan terbelah, memahami kurikulum dan mengajarkan pelajaran pada siswa.
Mendapatkan hasil dari sebuah
kurikulum tidak cukup dalam waktu 5-10 tahun. Perlu proses yang panjang,
sejak sosialisasi, pelaksanaan, dan evaluasi. Evaluasi keberhasilan kurikulum
bukan ketika seorang anak didik lulus jenjang pendidikan tertentu, tetapi
kemampuan dia dalam menyelesaikan problem-problem kehidupannya di lingkungan
kerja dan masyarakat. Maka, indikatornya mesti dilihat secara holistis, meski
partikularitasnya tetap diteropong sebagai bahan evaluasi dalam penyusunan
kurikulum di masa mendatang. Bukan dengan mengganti keseluruhan perangkat
kurikulum, melainkan hanya pada aspek sub-subnya, untuk menyesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat. Sering bergonta-gantinya kurikulum akan menjadikan
siswa sebagai `kelinci percobaan' yang masa depannya digadaikan pemerintah.
Setidaknya, ada empat pekerjaan
besar yang menjadi proyek jangka panjang dalam memajukan dunia pendidikan di
Indonesia. Kalau bisa dituntaskan dengan baik, pendidikan di Indonesia akan
mengalami perkembangan yang signifikan untuk bersaing dengan negara-negara
lain. Pertama, ujian nasional (UN) masih menjadi kontroversi yang selalu
hangat setiap tahun. Hal itu akan menjadi isu yang layak dijual untuk menarik
para praktisi dan pemerhati pendidikan. Secara politik, UN juga sangat
mungkin dikomodifi kasi sebagai ‘alat pertarungan’ politik. Pemerintah mesti
memberikan jaminan bahwa UN benar-benar cerminan kualitas siswa. Kalau tak
bisa menjamin, sebagaimana rekomendasi MK pada 2009, UN jangan dipaksakan
untuk tetap dilaksanakan.
Kedua, kurikulum 2013 yang mulai
disosialisasikan 2013 dan berlanjut pada 2014 juga masih menjadi wacana yang
akan tetap renyah dibahas dalam diskusi dalam rangka pengambilan kebijakan.
Berbagai kontroversi yang mengiringi kehadirannya, baik secara teknis maupun
filosofis, memerlukan argumentasi dan penyamaan visi-misi sebagai syarat tetap
dipertahankan sebagai kurikulum nasional. Kurikulum dapat didefinisikan
sebagai sejumlah informasi dan pengalaman yang ingin disampaikan kepada
peserta didik. Kurikulum disusun oleh atas (pusat), diindoktrinasikan kepada
anak didik melalui metode paksaan, dan diukur melalui suatu standar (Tilaar,
2012).
Kurikulum 2013 pun setali tiga uang, buku panduan pelaksanaannya pun
dicetak oleh pusat. Kurikulum yang demikian akan bertolak dari pendidikan
yang berpusat pada anak didik dan masyarakat.
Ketiga, pendidikan karakter yang
masih terus menjadi wacana publik. Pendidikan karakter bisa dikatakan proyek
sepanjang zaman yang tak bisa diganggu gugat, apalagi ditiadakan. Terlebih,
justru pendidikan karakter ini karena merupakan konsep yang abstrak, bisa
ditarik sesuai bidang-bidang tertentu. Praktisi, pengamat, dan peneliti
pendidikan berlomba-lomba menawarkan konsep pendidikan karakter yang tepat
untuk diterapkan di lembaga pendidikan kita.
Doni Koeseoma (2012) menjelaskan
bahwa konsep pendidikan karakter di Indonesia diberikan secara eksplisit pada
pelajaran pendidikan budi pekerti pada 1960-an. Mata pelajaran itu pernah
menjadi pelajaran yang berdiri otonom, seperti pada pelajaran PMP. Namun, apa
yang terjadi ketika anak didik kita masih dianggap sebagai anak-anak yang
`belum berkarakter', siapa yang salah?
Keempat, menghasilkan guruguru
yang berkualitas dan mumpuni. Permasalahan guru memang kompleks karena guru
termasuk pemegang saham (stakeholder)
dalam proses transformasi pendidikan di Indonesia, untuk meningkatkan mutu
sumber daya manusia Indonesia (Tilaar, 2012). Adanya pelatihan terhadap guru
memang sangat baik, kendati masih banyak kritik di sana-sini. Tanpa adanya
guru-guru yang baik sebagai penerjemah dan pelaksana kurikulum di tingkat
satuan pendidikan, kurikulum hanya menjadi macan kertas yang gagah di tataran
konsep.
Mendikbud
visioner
Mudahnya begini, tidak perlu ada
UN yang `didikte' dari pusat andai para guru kita telah siap sebagai pihak
yang paling bisa mengerti keadaan anak didiknya. Pendidikan karakter akan
berbicara seandainya para guru kita sekaligus menjadi teladan buat anak
didik, yakni guru yang kreatif dan menginspirasi anak didik untuk mencintai
ilmu pengetahuan. Pendidikan karakter adalah pendidikan keteladanan.
Patut ditunggu, siapa mendikbud
yang akan terpilih di tahun mendatang. Tugas paling utama mendikbud ialah
menyelesaikan empat pekerjaan rumah tersebut. Dalam menyelesaikan tiga
pekerjaan besar tersebut, kita tidak berharap cara yang dilakukan ialah
dengan mengganti kurikulum. Untuk UN, memang perlu ditinjau ulang yang sesuai
dengan kurikulum 2013, yang di SD dikabarkan tidak akan ada UN lagi.
Kita berharap mendikbud bukan
jabatan yang diberikan dengan dilandasi tawar-menawar politik, melainkan
ikhtiar bersama dalam rangka menuju seabad Indonesia merdeka pada 2045, yang
masih 31 tahun lagi. Pada tahun tersebut, kita mengalami bonus demografi, di
saat penduduk Indonesia akan lebih banyak diisi masyarakat usia produktif.
Jika gagal mengelola pendidikan, bonus demografi itu dapat berubah menjadi
bencana demografi. Masih banyak yang lebih penting ketimbang urusan politik
praktis. Pendidikan adalah kemudi dan jangkar yang akan membuat kapal raksasa
bernama Indonesia berlayar dan berlabuh. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar