Senin, 13 Januari 2014

Memuja Bahasa Inggris

                                            Memuja Bahasa Inggris

Bandung Mawardi  ;   Pendiri Sekolah Bahasa Indonesia di Pare, Kediri
JAWA POS,  13 Januari 2014
                                                                                                                        


Hidup di Indonesia hidup dengan beratus bahasa, dari Aceh sampai Papua. Ratusan bahasa itu terbentuk selama ratusan tahun, digunakan dan diwariskan dari masa ke masa. Sebagian bahasa masih hidup, sebagian punah tanpa kiriman karangan bunga berduka cita dan air mata. Sejak 1928, kaum muda membuat janji suci, menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. 

Di Indonesia, bahasa pujaan adalah bahasa Inggris. Bahasa Indonesia itu masa lalu. Agenda kemajuan politik, ekonomi, peradaban, pendidikan "mengharuskan" kita memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Hidup kita memang di Indonesia, tapi modal untuk melajutkan pendidikan, mencari kerja, mengejar obsesi politik adalah bahasa Inggris. Kita diajak menjadi pemuja dan pengguna bahasa Inggris agar hidup tidak menjadi sia-sia.

Gejala pengabaian bahasa Indonesia dan puja bahasa Inggris telah berlangsung puluhan tahun, tanpa koreksi atau protes merujuk konstitusi. Rahardi Ramelan (Jawa Pos, 10 Januari 2014) pun bersedih dan marah: "Ketidakseriusan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa nasional kita, dalam ruang publik, oleh para pejabat sudah sangat meng­khawatirkan. Bahasa sebagai salah satu ekspresi budaya yang penting sepertinya terabaikan.”
Kesedihan Rahardi Ramelan bermula dari pengabaian bahasa Indonesia dalam agenda World Culture Forum 2013 di Bali. Indonesia sebagai tuan rumah terlalu minder saat meladeni para tamu dari puluhan negara. Pemerintah dilanda kebingungan dalam berbahasa untuk berkomunikasi dengan orang-orang asing. Bahasa Indonesia dianggap tidak bakal komunikatif saat digunakan dalam peristiwa bertaraf internasional. Bahasa Inggris pun dipilih dengan kesepakatan mutlak menjadi bahasa utama. Tulisan-tulisan di tempat pelaksanaan acara, pidato, diskusi sering menggunakan bahasa Inggris. Acara berlangsung di Indonesia, tapi ada peminggiran atau "pemusnahan" bahasa Indonesia. Ironis!

Para pejabat tak ingat sejarah. Dulu Soetomo menganjurkan para pelajar pribumi belajar bahasa Inggris jika ingin menempuh pendidikan tinggi. Anjuran itu berkaitan dengan kunjungan Soetomo ke Eropa, masa 1930-an. Pengetahuan di Eropa menimbulkan keinsafan bagi Soetomo. Pencapaian ilmu di zaman modern sering bermodal pengetahuan bahasa Inggris. Pengalaman selama di Eropa menjadi argumentasi untuk mengusulkan agar bahasa Inggris menjadi pelajaran wajib di sekolah nasional. Usul ini tak membuat Soetomo abai atas bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Ingat, warisan besar Soetomo adalah majalah berbahasa Jawa: Panjebar Semangat. Bahasa Inggris dianjurkan dengan pengertian dan misi pendidikan tanpa mengubah identitas kultural Jawa atau Indonesia.

Anjuran berbahasa Inggris juga pernah diberikan oleh Soekarno. Proklamasi, 17 Agustus 1945, memerlukan pengumuman ke dunia. Soekarno insaf bahwa bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Soekarno pun menganjurkan kaum muda dan seniman membuat poster-poster propaganda menggunakan bahasa Inggris, berisi pesan kemerdekaan dan kebebasan. Poster itu dipasang di ruang publik. Pengumuman melalui radio juga menggunakan bahasa Inggris. Mengapa Soekarno memilih bahasa Inggris? Pilihan itu siasat agar propaganda kemerdekaan bisa terbaca dan diwartakan oleh para wartawan asing ke Asia, Eropa, Amerika, Australia, Afrika.

Para pejabat mengajak kita sengaja berbangga menggunakan bahasa Inggris. Di Indonesia, negeri beratus bahasa, pemerintah sengaja mengajak kita memuja bahasa Inggris. Gejala itu tampak di Pare, Kediri, Jawa Timur. Ratusan kursus bahasa Inggris ada di Pare. Ribuan pelajar dan mahasiswa dari pelbagai daerah rela datang ke Pare demi bisa berbahasa Inggris demi kuliah dan pekerjaan. 

Gejala kerepotan berbahasa Inggris terjadi menjelang ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 di Surabaya, Jawa Timur. Pihak panitia ingin tampil meng­hormati para tamu asing dengan bahasa Inggris dan Mandarin. Mereka tak ingin memberikan sambutan atau penghormatan dengan bahasa Indonesia. Pemerintah Kota Surabaya memutuskan mendirikan Rumah Bahasa di Gedung Budaya Surabaya. Rumah Bahasa berperan menjadi tempat kursus bahasa Inggris dan Mandarin bagi UKM, pelaku pariwisata, sopir, kaum awam. Kursus gratis itu diniatkan agar memunculkan peluang investasi, perdagangan, pariwisata. Bahasa Inggris memang bahasa mulia, penting, terhormat, menguntungkan. Oh! Apakah ada pengajaran bahasa Indonesia di Rumah Bahasa? Apakah bahasa Indonesia tak penting dalam acara bertaraf internasional. Kita enggan menjawab. Pemerintah harus menjawab!  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar