Minggu, 12 Januari 2014

Enak Jamanku, To?

Enak Jamanku, To?

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO,  12 Januari 2014
                                                                                                                        


Bung Karno orang hebat dalam politik. Dia proklamator yang berani meneruskan diri untuk memimpin bangsa ini walaupun pada masa itu politik negara sedang karut-marut. 

Biasaaa ... pascakemenangan (Proklamasi 1945) terjadi euforia, semua mau benar sendiri dan mau menang sendiri. Maka Bung Hatta memilih untuk mengundurkan diri. Tapi Bung Karno jalan terus dan berhasil membuat setiap orang Indonesia ketika itu bangga menjadi orang Indonesia. Di sisi lain, paling tidak di mata saya, Bung Karno adalah orang biasa. Dia memang tidak menghimpun harta dan bukan gila kuasa. Beliau wafat dalam keadaan miskin walaupun tidak pernah dimiskinkan oleh KPK (yang waktu itu belum ada). 

Dia memang dinobatkan sebagai presiden seumur hidup, tetapi bukan atas kemauan sendiri, melainkan atas strategi politik kelompok militer untuk mencegah jabatan presiden jatuh ke tangan komunis. Begitulah yang saya baca. Tapi dia adalah penghimpun wanita. Koleksi istrinya mencapai sembilan orang. Mulai dari Siti Oetari Tjokroaminoto (dinikahi pada 1921) sampai yang terakhir Heddy Jafar (1966). Seingat saya ada delapan anak yang dihasilkan sebagai buah dari perkawinan-perkawinan Bung Karno: 5 dari Fatmawati (termasuk Megawati), 2 dari Hartini, dan 1 dari Kartini Manoppo. 

Tapi tidak ada satu pun di antara anakanaknya itu yang diproyeksikan untuk jadi presiden atau setidaknya jadi politisi. Padahal sudah biasa orang tua Indonesia ingin anaknya mewarisi profesi orang tuanya. Ayah saya dokter, salah satu dari adik saya juga jadi dokter, dan salah satu dari anak dia (keponakan saya) juga jadi dokter. Saya psikolog, salah satu anak saya juga jadi psikolog. Karena itu tidak aneh kalau Edhie Baskoro Yudoyono, putra SBY, juga jadi aktivis politik, syukur-syukur kelak jadi presiden seperti ayahnya. 

Namun Bung karno tidak melakukan itu terhadap anakanaknya. Ada tiga putri Bung Karno yang berusaha menjadi politisi, yaitu Megawati, Rahmawati, dan Sukmawati, tetapi itu atas usaha masing-masing walaupun tetap membawa bendera ayahnya, Bung Karno. Dari tiga itu, yang berhasil hanya Megawati yang akhirnya sempat menjadi presiden kelima Republik Indonesia. Jarak waktu antara lengsernya Bung Karno (1966) dan naiknya Megawati sebagai presiden (2001) adalah 35 tahun. Apakah Edhie Baskoro akan berhasil seperti Megawati? Saya tidak tahu. Boleh jadi kita perlu 35 tahun lagi untuk membuktikannya karena SBY baru lengser di tahun 2014 ini. 

Tapi menunggu 35 tahun terlalu lama. Melihat gelagatnya, ada kemungkinan Megawati akan masuk lagi memimpin untuk mengisi kekosongan ini. Kalau bukan dia sendiri, mungkin melalui Jokowi yang elektabilitasnya untuk menjadi presiden dalam Pemilu 2014 sangat tinggi. Namun ke mana kader Suharto? *** Kebetulan saya punya satu kaus (T-shirt) hitam yang bergambar foto Pak Harto sedang tersenyum (namanya juga the smiling general) dan di bawahnya tertera tulisan, “Rak penak jamanku, to?” Suatu ekspresi penuh harapan dari desainer kaus yang didukung para pemakainya (termasuk saya), yaitu harapan akan zaman yang lebih baik, zaman Orde Baru, seperti era Pak Harto. 

Tapi siapa kader Pak Harto untuk merealisasi zaman enak itu? Tidak ada. Pak Harto dulu dibantuolehpakar-pakarekonomi yang juga dosen-dosen FE UI. Mereka ini bukan politisi, melainkan dosen-dosen full timer di UI, yang kebetulan pernah belajar di Universitas California Berkeley sehingga mereka dijuluki “Mafia Berkeley”. Tapi ketika Pak Harto lengser, begitu juga para teknokrat itu. Prof Wijoyo Nitisastro dan kawankawan satu per satu me-ninggalkan gelanggang birokrasi dan membiarkan posisi-posisi penting tingkat nasional itu tidak ada yang mengurusi. 

Mbak Tutut pernah dicoba untuk diorbitkan ayahnya sebagai menteri sosial, tetapi dia dan saudara- saudaranya kelihatannya lebih berbakat jadi pedagang. Tampaknya, persyaratan utama untuk berhasil dalam politik di Indonesia adalah harus punya bakat. Jokowi dan Ahok adalah contohnya. Dua orang itu tidak berlatar belakang keluarga politik, tidak pernah bersekolah politik, tetapi jadi politisi yang sukses, hanya karena bakat yang ditempa pengalaman. Tapi hal ini rupanya tidak banyak yang menyadarinya. 

Kalau Edhie Baskoro sudah diorbitkan sekarang dan kita masih harus menunggu lama untuk melihat hasilnya, Ibu Atut yang Gubernur Banten dengan penuh percaya diri mengorbitkan banyak anggota keluarganya sebagai politisi. Semuanya tanpa latar belakang keluarga politik, tanpa pendidikan ilmu politik, dan tanpa bakat, apalagi pengalaman politik. Tapi semuanya berhasil didudukkan dalam posisiposisi politik yang penting. Mulai dari wakil bupati, sampai wali kota dan anggota DPRD. Namun, hasilnya, satu per satu tumbang karena diciduk KPK. 

Memang bangsa Indonesia sedang belajar dalam membangun demokrasinya. Jatuh bangun soal biasa. Namanya juga usaha. Yang jelas tidak lama lagi kita akan melaksanakan pemilu. Saya sendirimasihbingung, mau pilih parpol yang mana? Lebih bingung lagi mau capres yang mana? 

Tapi kebingungan dari banyak calon pemilih Indonesia masih lebih baik daripada ketidakbingungan rakyat Korea Utara yang ketika presidennya Kim Il-sung wafat pada tahun 1994 langsung mendapat presiden baru, yaitu Kim Jong-il yang merupakan anak Kim Il-sung, dan ketika Kim Jong-il wafat pada tahun 2011, langsung juga ada penggantinya, yaitu Kim Jong-un yang merupakan anak Kim Jong-il, yang tidak lama setelah berkuasa mengeksekusi paman sendiri, Jang Song-thaek, yang juga penasihat politiknya, dengan alasan berkhianat dan membahayakan negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar