|
HAJI
adalah sebuah ritus yang menggambarkan tentang kesinambungan Islam dengan
agama-agama sebelumnya. Haji sebagai prosesi tapak tilas atas jejakjejak
rohaniah yang telah diretas Ibrahim. Hal mana semua agama besar bermuara
kepadanya. Ibrahim sering dinobatkan sebagai bapak dari agama-agama yang ada di
bumi.
Di
titik ini sebenarnya haji meneguhkan makna ihwal keniscayaan hadirnya toleransi
dalam upaya membangun solidaritas. Demi menyambut keadaban hidup. Haji bukan
hanya ritus rohaniah, melainkan juga upacara sosial yang mengajarkan kita
bagaimana menjalin persekutuan dengan berbagai umat yang berlatar belakang
budaya berbeda dari berbagai pelosok negara. Persekutuan ini pada gilirannya
harus dijadikan alasan utama tentang kemutlakan menjalin hubungan yang sama
dengan mereka yang berbeda ketika pulang ke Tanah Air masing-masing.
Keragaman
tidak cukup dijadikan alasan saling menafikan. Justru merupakan kesempatan
untuk bisa berempati sebagaimana dicontohkan Ibrahim AS dan Muhammad SAW yang
notabene kedua nabi itu hendak diteladani dalam upacara tapak tilas haji itu.
Bukankah
sejarah mencatat bagaimana keragaman dapat menciptakan Madinah yang damai.
Piagam Madinah adalah dokumen penting yang merekam jejak-jejak kenega rawanan
sang nabi. Dalam piagam yang disebut Haikal sebagai dokumen politik itu
diteguhkan, di antaranya: (1) menjamin kebebasan beragama, (2) larangan saling
mengganggu satu sama lain, (3) harus membantu satu sama lain dalam kehidupan
sehari-hari, dan (4) larangan orang melakukan kejahatan.
Sebuah
piagam yang hakikatnya menginjeksikan kesadaran tentang keharusan membangun
bumi berkeadilan di atas haluan sikap mengapresiasi secara positif fakta sosial
yang plural. Piagam visioner tentang hidup damai di tengah keberbedaan.
Pidato kemanusiaan
Ihwal
pentingnya toleransi ini dengan mengagumkan diserukan Muhammad SAW dalam pidato
monumentalnya saat beliau menyelenggarakan haji terakhir.
Sebuah pidato dari atas mimbar Arafah yang menyerukan kepada setiap kita agar
menyadari makna penting persaudaraan. Bahwa persaudaraan adalah sesuatu yang
tidak boleh dikorbankan atas nama apa pun. Persaudaraan ini pula mendapatkan
momentumnya yang strategis untuk direnungkan bersama di Padang Arafah. Di
padang itu jutaan umat manusia dari berbagai pelosok tanpa sekat larut menjadi
satu. Sebuah laboratorium mencengangkan yang mencerminkan akan kohesivitas
dalam maknanya yang autentik. Tentu saja persaudaraan dan toleransi ini
mengandaikan adanya sikap dari setiap kita untuk mengorbankan wataku watak
pongah, tinggi hati, dan selalu merasa menang dan benar sendiri. Mensyaratkan
kesediaan membungkam egoisme dan egosentrisme.
Di
Mina sesungguhnya egoisme dan egosentrisme ini disembelih. Tempo hari egoisme
inilah yang dilempari Ibrahim AS sehingga beliau selamat dan Ismail digantikan
hewan kurban dan akhirnya kedua nabi itu kembali bercengkerama dalam jalinan
persaudaraan yang utuh (karena Ismail pun dengan heroik mampu membungkam ego
dan lewat kesadaran penuh dengan sukarela menerima dijadikan kurban).
Kembali ke pusat
Pesan
toleransi haji juga diperkuat dengan makna haji itu sendiri yang artinya adalah
pulang kepada Tuhan. Dan bukankah Tuhan adalah zat yang telah menurunkan
risalah dengan modus utamanya menebarkan damai kasih di bumi. Rahmatan lil alamin. Pesan ini menjadi
sesuatu yang bersifat fitri sebagai wujud nyata `kepulangan kita' kepada Tuhan.
Dalam
bukunya yang sangat bagus, Haji, Ali Syariati pernah menulis bahwa ibadah haji
merupakan, `Cermin kepulanganmu kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki
keterbatasan, dan yang tak diserupai oleh sesuatu pun juga.' Pulang kepada Allah,
lanjut Syariati, maknanya adalah sebuah gerakan menuju ke sempurnaan, kebaikan,
keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta.
Tuhan
dan nilai-nilai kebaikan universal diposisikan sebagai pusat dari seluruh
rangkaian sejarah pengalaman religi, sementara monumen-monumen bersejarah dan
bahkan agama yang ditinggalkan para nabi hanyalah tonggak menuju Tuhan. Monumen
itu sejatinya diposisikan sebagai situs spiritual yang diharapkan dapat
menancapkan palung keinsafan manusia untuk meneguhkan makna penting hidup
berada dalam kesadaran terang Ilahi (transendensi) dan juga tanggung jawab
kemanusiaan (humanisasi).
Kembali
pada titik pusat lingkaran (Allah) adalah sesuatu yang penting untuk kita
renungkan bersama di tengah kehidupan manusia modern yang sedang dilanda krisis
baik yang berdimensi material maupun spiritual. Di mana deka densi humanistis
itu, seperti sering dikatakan Sayyed Hossen Nasr, pangkalnya karena manusia
berada di pinggir, di luar bahkan kian menjauh dari Pusat. Lari dari Tuhan.
Ketidaksadaran
untuk kembali ke Pusat dengan kesediaan mengikuti moralitas dan etika yang
ajek, sekali lagi yang menjadi muara krisis kemanusiaan. Dalam ungkapan Majid
Tahrenian, itulah akibat dari `tirani kongnitif', `perancuan kognisi' (Peter
Berger) atau istilah almarhum Cak Nur, `kepanikan epistemologi'.
Tuhan
inilah yang ketika dimaknai secara fungsional dalam kehidupan nyata tidak lain
adalah tindakan menjunjung tinggi toleransi, keadilan dan keadaban hidup. Jika
pesan seperti ini terabaikan, secara tidak langsung substansi agama pun menjadi
hilang. Haji kehilangan dimensi kemanusiaannya yang artinya kemabrurannya pun
dipertanyakan. Bukankah dalam kearifan lama diteguhkan bahwa untuk berdamai
dengan langit orang mesti terlebih dahulu berdamai dengan bumi.
Hilangnya
substansi agama seperti ini akhirnya akan membuat kaum agamawi beragama dengan
penuh kepura-puraan bahkan kekerasan diabsahkan dengan berjubahkan agama. Agama
yang telah kehilangan sikap toleransi inilah yang dahulu pada awal abad ke-14
dituduh sebagai candu yang membuat penderitaan masyarakat dapat tertangguhkan
(Karl Mark).
Bahkan
pada tahun 1882, filsuf Jerman yang akhir hayatnya mati secara mengenaskan,
Nietszhe dengan radikal merasa terpanggil melenyapkan Tuhan itu sendiri (God is dead) sekaligus menobatkan
dirinya sendiri sebagai pemegang takdir (I
am a destiny).
Gilirannya
`santri-santrinya' seperti eksistensialis Jean Paul Sartre (1905-1980) menuduh
Tuhan sebagai zat yang mengambil kemerdekaan atau Albert Camus (1913-1960)
menyuarakan, “Orang harus menampik agama
agar cinta mereka tertumpah sepenuhnya kepada umat manusia.“ Sebuah
interupsi pedas terhadap kaum agamawan yang acap kali beragama dengan penuh
kepura-puraan.
Dalam
ungkapan filsuf Sunda Haji Hasan Mustapa, haji harus dijadikan kendaraan bagi
kita untuk meraih aji dan dari aji kita dapat merengkuh pangaji. Semoga haji
kita kali ini dapat menjadi inspirasi bagi bangsa kita untuk menumbuhkan
toleransi demi membangun bangsa yang penuh harga diri. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar