Jumat, 04 Oktober 2013

Epos Toleransi Haji

Epos Toleransi Haji
Asep Salahudin  ;  Dekan Fakultas Syariah IAILM Tasikmalaya
MEDIA INDONESIA, 04 Oktober 2013


HAJI adalah sebuah ritus yang menggambarkan tentang kesinambungan Islam dengan agama-agama sebelumnya. Haji sebagai prosesi tapak tilas atas jejakjejak rohaniah yang telah diretas Ibrahim. Hal mana semua agama besar bermuara kepadanya. Ibrahim sering dinobatkan sebagai bapak dari agama-agama yang ada di bumi.

Di titik ini sebenarnya haji meneguhkan makna ihwal keniscayaan hadirnya toleransi dalam upaya membangun solidaritas. Demi menyambut keadaban hidup. Haji bukan hanya ritus rohaniah, melainkan juga upacara sosial yang mengajarkan kita bagaimana menjalin persekutuan dengan berbagai umat yang berlatar belakang budaya berbeda dari berbagai pelosok negara. Persekutuan ini pada gilirannya harus dijadikan alasan utama tentang kemutlakan menjalin hubungan yang sama dengan mereka yang berbeda ketika pulang ke Tanah Air masing-masing.

Keragaman tidak cukup dijadikan alasan saling menafikan. Justru merupakan kesempatan untuk bisa berempati sebagaimana dicontohkan Ibrahim AS dan Muhammad SAW yang notabene kedua nabi itu hendak diteladani dalam upacara tapak tilas haji itu.

Bukankah sejarah mencatat bagaimana keragaman dapat menciptakan Madinah yang damai. Piagam Madinah adalah dokumen penting yang merekam jejak-jejak kenega rawanan sang nabi. Dalam piagam yang disebut Haikal sebagai dokumen politik itu diteguhkan, di antaranya: (1) menjamin kebebasan beragama, (2) larangan saling mengganggu satu sama lain, (3) harus membantu satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari, dan (4) larangan orang melakukan kejahatan.

Sebuah piagam yang hakikatnya menginjeksikan kesadaran tentang keharusan membangun bumi berkeadilan di atas haluan sikap mengapresiasi secara positif fakta sosial yang plural. Piagam visioner tentang hidup damai di tengah keberbedaan.

Pidato kemanusiaan

Ihwal pentingnya toleransi ini dengan mengagumkan diserukan Muhammad SAW dalam pidato monumentalnya saat beliau menyelenggarakan haji terakhir.
Sebuah pidato dari atas mimbar Arafah yang menyerukan kepada setiap kita agar menyadari makna penting persaudaraan. Bahwa persaudaraan adalah sesuatu yang tidak boleh dikorbankan atas nama apa pun. Persaudaraan ini pula mendapatkan momentumnya yang strategis untuk direnungkan bersama di Padang Arafah. Di padang itu jutaan umat manusia dari berbagai pelosok tanpa sekat larut menjadi satu. Sebuah laboratorium mencengangkan yang mencerminkan akan kohesivitas dalam maknanya yang autentik. Tentu saja persaudaraan dan toleransi ini mengandaikan adanya sikap dari setiap kita untuk mengorbankan wataku watak pongah, tinggi hati, dan selalu merasa menang dan benar sendiri. Mensyaratkan kesediaan membungkam egoisme dan egosentrisme.

Di Mina sesungguhnya egoisme dan egosentrisme ini disembelih. Tempo hari egoisme inilah yang dilempari Ibrahim AS sehingga beliau selamat dan Ismail digantikan hewan kurban dan akhirnya kedua nabi itu kembali bercengkerama dalam jalinan persaudaraan yang utuh (karena Ismail pun dengan heroik mampu membungkam ego dan lewat kesadaran penuh dengan sukarela menerima dijadikan kurban).

Kembali ke pusat

Pesan toleransi haji juga diperkuat dengan makna haji itu sendiri yang artinya adalah pulang kepada Tuhan. Dan bukankah Tuhan adalah zat yang telah menurunkan risalah dengan modus utamanya menebarkan damai kasih di bumi. Rahmatan lil alamin. Pesan ini menjadi sesuatu yang bersifat fitri sebagai wujud nyata `kepulangan kita' kepada Tuhan.

Dalam bukunya yang sangat bagus, Haji, Ali Syariati pernah menulis bahwa ibadah haji merupakan, `Cermin kepulanganmu kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan, dan yang tak diserupai oleh sesuatu pun juga.' Pulang kepada Allah, lanjut Syariati, maknanya adalah sebuah gerakan menuju ke sempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta.

Tuhan dan nilai-nilai kebaikan universal diposisikan sebagai pusat dari seluruh rangkaian sejarah pengalaman religi, sementara monumen-monumen bersejarah dan bahkan agama yang ditinggalkan para nabi hanyalah tonggak menuju Tuhan. Monumen itu sejatinya diposisikan sebagai situs spiritual yang diharapkan dapat menancapkan palung keinsafan manusia untuk meneguhkan makna penting hidup berada dalam kesadaran terang Ilahi (transendensi) dan juga tanggung jawab kemanusiaan (humanisasi).
Kembali pada titik pusat lingkaran (Allah) adalah sesuatu yang penting untuk kita renungkan bersama di tengah kehidupan manusia modern yang sedang dilanda krisis baik yang berdimensi material maupun spiritual. Di mana deka densi humanistis itu, seperti sering dikatakan Sayyed Hossen Nasr, pangkalnya karena manusia berada di pinggir, di luar bahkan kian menjauh dari Pusat. Lari dari Tuhan.

Ketidaksadaran untuk kembali ke Pusat dengan kesediaan mengikuti moralitas dan etika yang ajek, sekali lagi yang menjadi muara krisis kemanusiaan. Dalam ungkapan Majid Tahrenian, itulah akibat dari `tirani kongnitif', `perancuan kognisi' (Peter Berger) atau istilah almarhum Cak Nur, `kepanikan epistemologi'.
Tuhan inilah yang ketika dimaknai secara fungsional dalam kehidupan nyata tidak lain adalah tindakan menjunjung tinggi toleransi, keadilan dan keadaban hidup. Jika pesan seperti ini terabaikan, secara tidak langsung substansi agama pun menjadi hilang. Haji kehilangan dimensi kemanusiaannya yang artinya kemabrurannya pun dipertanyakan. Bukankah dalam kearifan lama diteguhkan bahwa untuk berdamai dengan langit orang mesti terlebih dahulu berdamai dengan bumi.

Hilangnya substansi agama seperti ini akhirnya akan membuat kaum agamawi beragama dengan penuh kepura-puraan bahkan kekerasan diabsahkan dengan berjubahkan agama. Agama yang telah kehilangan sikap toleransi inilah yang dahulu pada awal abad ke-14 dituduh sebagai candu yang membuat penderitaan masyarakat dapat tertangguhkan (Karl Mark).

Bahkan pada tahun 1882, filsuf Jerman yang akhir hayatnya mati secara mengenaskan, Nietszhe dengan radikal merasa terpanggil melenyapkan Tuhan itu sendiri (God is dead) sekaligus menobatkan dirinya sendiri sebagai pemegang takdir (I am a destiny).

Gilirannya `santri-santrinya' seperti eksistensialis Jean Paul Sartre (1905-1980) menuduh Tuhan sebagai zat yang mengambil kemerdekaan atau Albert Camus (1913-1960) menyuarakan, “Orang harus menampik agama agar cinta mereka tertumpah sepenuhnya kepada umat manusia.“ Sebuah interupsi pedas terhadap kaum agamawan yang acap kali beragama dengan penuh kepura-puraan.

Dalam ungkapan filsuf Sunda Haji Hasan Mustapa, haji harus dijadikan kendaraan bagi kita untuk meraih aji dan dari aji kita dapat merengkuh pangaji. Semoga haji kita kali ini dapat menjadi inspirasi bagi bangsa kita untuk menumbuhkan toleransi demi membangun bangsa yang penuh harga diri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar