|
BELUM lama ini seorang guru besar
bertanya, “Mengapa media massa tidak banyak menyebarkan pendidikan politik?
Kecenderungan berita-berita yang disiarkan malahan meresahkan.” Komentar
selanjutnya bernada kecurigaan bahwa media bisa digiring untuk menyampaikan
pesan-pesan penggiringnya; tidak selalu atas dasar nurani dan pikiran murni
wartawan-wartawannya.
Ungkapan itu tentu mengusik perasaan orang media yang
diajaknya bicara. Bukan karena kami menutup diri dari kritik, melainkan karena
komentar itu mengejutkan sebab menurut kami akhirakhir ini kami justru fokus
pada bagaimana membuat masyarakat sadar akan apa yang sedang terjadi di dunia
politik. Bahwa di dalamnya tecermin kekalutan akibat ulah sekelompok
orang-orang politik tertentu memang tidak bisa dihindari. Meresahkan? Tentu
saja. Tetapi begitulah situasinya. Semakin banyak yang cepat menyadari, semakin
baik. Sebenarnya kita justru menunggu gambaran masa depan yang menjanjikan,
yang mudah-mudahan tercapai dengan Pemilu 2014. Semoga media massa dapat
membantu mengungkap penyu sunan rencana penyelesaian persoalan.
Sejauh apa para pengelola media larut oleh arus zaman? Itu
yang menjadi perhatian orang media sendiri sebab orang media tidak homogen. Masing-masing
mendapat pengalaman hidup, pendidikan, pembelajar an yang berbeda-beda. Maka
telaah dan penilaian mereka tentang berbagai situasi tidak selalu sama.
Kesadaran itu membuat mereka terus berusaha memperluas pengetahuan dan bersikap
objektif karena yang mereka beritakan bisa berdampak pada kehidupan ribuan
bahkan jutaan orang.
Sikap publik yang tidak menyadari kenyataan, atau tidak mau
tahu apa yang sedang terjadi, berarti membohongi diri sendiri. Padahal demi
masa depan yang memberi harapan, semakin cepat menyadari persoalannya tentu
semakin baik. Itu yang antara lain diusahakan oleh media massa. Kelanjutannya,
memang terserah pada kalangan politikus dan publik sendiri. Jangan mengharapkan
media massa mampu mengatasi masalahnya. Pers hanya menjalankan fungsinya
sebagai juru penerang.
Tantangan bagi pers
dan politisi
Berbeda dengan politisi yang memang seharusnya menyiapkan
dan melengkapi diri untuk terjun di bidang politik praktis dengan segala
hiruk-pikuk demi tegaknya demokrasi di NKRI, pers selain menjadi juru penerang
juga berusaha lebih mencerdaskan masyarakat. Itu dilakukan dengan kesadaran
penuh bahwa masyarakat cenderung menafsirkan informasi sesuai nilai-nilai yang
dianutnya; suatu tantangan besar bagi pers, mengingat heterogenitas masyarakat.
Sesuai keyakinan dan nilainilai yang ada, sungguh tidak
gampang menyentuh perhatian masyarakat secara serem pak dan total. Misalnya,
untuk yang pengetahuannya terbatas, penyebaran pendidikan politik berbentuk
berita dapat serta-merta mereka tolak. Menurut Dr Philip Kottler, ahli social marketing, masyarakat cenderung
menyambut baik informasi yang sesuai kebutuhan pikiran dan perasaannya. Ini
barangkali menjelaskan mengapa mayoritas penonton televisi Indonesia lebih
memilih siaran-siaran hiburan ringan daripada talkshow pendidikan politik yang rumit dan berbelit-belit.
Sebagai masyarakat yang sedang bergerak maju, tentu kita
jangan mandek untuk alasan apa pun. Di sinilah diharapkan bimbingan
partaipartai politik untuk mengajak dan membawa para konstituen agar terus
bergerak maju demi masa depan yang lebih baik. Peran penting kampanye langsung
oleh partai-partai politik tampak jelas. Para calon pemimpin seyogianya bukan
sekadar mengumbar janji demi terkumpulnya suara, tetapi terutama untuk
mencerahkan para konstituen tentang kemungkinan-kemungkinan yang merentang di
depan. Kemampuan setiap partai politik diuji; begitu juga kemampuan tokoh-tokoh
unggulan.
Mengamati gejala yang ada, konstituen agaknya lebih tertarik
pada calon-calon pemimpin yang dengan tegas menunjukkan komitmen mereka. Maka
bisa dimengerti mengapa berbagai survei menunjukkan, yang langsung mereka lihat
memberikan komitmen terhadap kepentingan rakyat, mendapat dukungan besar. Ini
menjadi tantangan konkret bagi semua partai politik. Sekalipun tidak bisa
dimungkiri bahwa money politics masih
akan laku bagi kelas masyarakat paling bawah, yang selalu membutuhkan
penghasilan tambahan.
Menafsirkan demokrasi
dan kemerdekaan
Perbedaan pendapat dan debat tentang bagaimana mengurus masa
depan akan selalu menjadi topik menarik. Di tengah arus globalisasi, rasanya
aneh kalau kita berjalan tanpa menengok kiri-kanan, selain berhati-hati
melangkah ke depan. Jangan kita salah mengambil jalan. Tuntutan asas
kemerdekaan tidak ringan, apalagi untuk negara berpenduduk terbesar keempat
dunia, dengan jumlah mencapai sekitar 240 juta.
Jauh-jauh hari founding
fathers sudah menyadari kemungkinan perkembangan itu, begitu pula para
pemimpin di era penerusnya. Founding
fathers menyusun falsafah dari puncak-puncak sari budaya sendiri untuk
membimbing perjalanan bangsa ini. Kemudian di era pembangunan, para pemimpin
menyusun kebijakan-kebijakan untuk menjamin jangan kita terjebak arus
globalisasi. Antara lain dengan memperhatikan pertumbuhan penduduk dan
swasembada pangan.
Sayangnya, policy serbastrategis masa
lalu itu terabaikan. Kita memilih konsep pasar bebas yang dianggap lebih menjanjikan.
Padahal, apa arti kemerdekaan? Apa arti demokrasi?
Dalam buku kutipan-kutipan terkenal tentang kemerdekaan, Freedom (2003), duta besar Amerika keturunan Austria, Felix Rohatyn, menulis yang kira-kira terjemahannya, “Demokrasi tidak bisa berkembang bila separuh masyarakatnya berkecukupan, tetapi separuh lainnya miskin; sama halnya seperti hidup setengah merdeka dan setengah menjadi budak.“ ●
Dalam buku kutipan-kutipan terkenal tentang kemerdekaan, Freedom (2003), duta besar Amerika keturunan Austria, Felix Rohatyn, menulis yang kira-kira terjemahannya, “Demokrasi tidak bisa berkembang bila separuh masyarakatnya berkecukupan, tetapi separuh lainnya miskin; sama halnya seperti hidup setengah merdeka dan setengah menjadi budak.“ ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar