Jumat, 04 Oktober 2013

Menyebarkan Kampanye Politik

Menyebarkan Kampanye Politik
Toeti Prahas Adhitama  ;  Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA, 04 Oktober 2013


BELUM lama ini seorang guru besar bertanya, “Mengapa media massa tidak banyak menyebarkan pendidikan politik? Kecenderungan berita-berita yang disiarkan malahan meresahkan.” Komentar selanjutnya bernada kecurigaan bahwa media bisa digiring untuk menyampaikan pesan-pesan penggiringnya; tidak selalu atas dasar nurani dan pikiran murni wartawan-wartawannya.

Ungkapan itu tentu mengusik perasaan orang media yang diajaknya bicara. Bukan karena kami menutup diri dari kritik, melainkan karena komentar itu mengejutkan sebab menurut kami akhirakhir ini kami justru fokus pada bagaimana membuat masyarakat sadar akan apa yang sedang terjadi di dunia politik. Bahwa di dalamnya tecermin kekalutan akibat ulah sekelompok orang-orang politik tertentu memang tidak bisa dihindari. Meresahkan? Tentu saja. Tetapi begitulah situasinya. Semakin banyak yang cepat menyadari, semakin baik. Sebenarnya kita justru menunggu gambaran masa depan yang menjanjikan, yang mudah-mudahan tercapai dengan Pemilu 2014. Semoga media massa dapat membantu mengungkap penyu sunan rencana penyelesaian persoalan.

Sejauh apa para pengelola media larut oleh arus zaman? Itu yang menjadi perhatian orang media sendiri sebab orang media tidak homogen. Masing-masing mendapat pengalaman hidup, pendidikan, pembelajar an yang berbeda-beda. Maka telaah dan penilaian mereka tentang berbagai situasi tidak selalu sama. Kesadaran itu membuat mereka terus berusaha memperluas pengetahuan dan bersikap objektif karena yang mereka beritakan bisa berdampak pada kehidupan ribuan bahkan jutaan orang.

Sikap publik yang tidak menyadari kenyataan, atau tidak mau tahu apa yang sedang terjadi, berarti membohongi diri sendiri. Padahal demi masa depan yang memberi harapan, semakin cepat menyadari persoalannya tentu semakin baik. Itu yang antara lain diusahakan oleh media massa. Kelanjutannya, memang terserah pada kalangan politikus dan publik sendiri. Jangan mengharapkan media massa mampu mengatasi masalahnya. Pers hanya menjalankan fungsinya sebagai juru penerang.

Tantangan bagi pers dan politisi

Berbeda dengan politisi yang memang seharusnya menyiapkan dan melengkapi diri untuk terjun di bidang politik praktis dengan segala hiruk-pikuk demi tegaknya demokrasi di NKRI, pers selain menjadi juru penerang juga berusaha lebih mencerdaskan masyarakat. Itu dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa masyarakat cenderung menafsirkan informasi sesuai nilai-nilai yang dianutnya; suatu tantangan besar bagi pers, mengingat heterogenitas masyarakat.

Sesuai keyakinan dan nilainilai yang ada, sungguh tidak gampang menyentuh perhatian masyarakat secara serem pak dan total. Misalnya, untuk yang pengetahuannya terbatas, penyebaran pendidikan politik berbentuk berita dapat serta-merta mereka tolak. Menurut Dr Philip Kottler, ahli social marketing, masyarakat cenderung menyambut baik informasi yang sesuai kebutuhan pikiran dan perasaannya. Ini barangkali menjelaskan mengapa mayoritas penonton televisi Indonesia lebih memilih siaran-siaran hiburan ringan daripada talkshow pendidikan politik yang rumit dan berbelit-belit.

Sebagai masyarakat yang sedang bergerak maju, tentu kita jangan mandek untuk alasan apa pun. Di sinilah diharapkan bimbingan partaipartai politik untuk mengajak dan membawa para konstituen agar terus bergerak maju demi masa depan yang lebih baik. Peran penting kampanye langsung oleh partai-partai politik tampak jelas. Para calon pemimpin seyogianya bukan sekadar mengumbar janji demi terkumpulnya suara, tetapi terutama untuk mencerahkan para konstituen tentang kemungkinan-kemungkinan yang merentang di depan. Kemampuan setiap partai politik diuji; begitu juga kemampuan tokoh-tokoh unggulan.

Mengamati gejala yang ada, konstituen agaknya lebih tertarik pada calon-calon pemimpin yang dengan tegas menunjukkan komitmen mereka. Maka bisa dimengerti mengapa berbagai survei menunjukkan, yang langsung mereka lihat memberikan komitmen terhadap kepentingan rakyat, mendapat dukungan besar. Ini menjadi tantangan konkret bagi semua partai politik. Sekalipun tidak bisa dimungkiri bahwa money politics masih akan laku bagi kelas masyarakat paling bawah, yang selalu membutuhkan penghasilan tambahan.

Menafsirkan demokrasi dan kemerdekaan

Perbedaan pendapat dan debat tentang bagaimana mengurus masa depan akan selalu menjadi topik menarik. Di tengah arus globalisasi, rasanya aneh kalau kita berjalan tanpa menengok kiri-kanan, selain berhati-hati melangkah ke depan. Jangan kita salah mengambil jalan. Tuntutan asas kemerdekaan tidak ringan, apalagi untuk negara berpenduduk terbesar keempat dunia, dengan jumlah mencapai sekitar 240 juta.

Jauh-jauh hari founding fathers sudah menyadari kemungkinan perkembangan itu, begitu pula para pemimpin di era penerusnya. Founding fathers menyusun falsafah dari puncak-puncak sari budaya sendiri untuk membimbing perjalanan bangsa ini. Kemudian di era pembangunan, para pemimpin menyusun kebijakan-kebijakan untuk menjamin jangan kita terjebak arus globalisasi. Antara lain dengan memperhatikan pertumbuhan penduduk dan swasembada pangan.
Sayangnya, policy serbastrategis masa lalu itu terabaikan. Kita memilih konsep pasar bebas yang dianggap lebih menjanjikan. Padahal, apa arti kemerdekaan? Apa arti demokrasi?
Dalam buku kutipan-kutipan terkenal tentang kemerdekaan, Freedom (2003), duta besar Amerika keturunan Austria, Felix Rohatyn, menulis yang kira-kira terjemahannya, “Demokrasi tidak bisa berkembang bila separuh masyarakatnya berkecukupan, tetapi separuh lainnya miskin; sama halnya seperti hidup setengah merdeka dan setengah menjadi budak.“ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar