Jumat, 04 Oktober 2013

Mata Angin Bangsa Besar

Mata Angin Bangsa Besar
Candra Malik  ;  Sufi
TEMPO.CO, 04 Oktober 2013


Kita masih menyusu pada temuan teknologi dari luar negeri, masih disuapi oleh negara adikuasa, masih ditimang oleh lembaga internasional, dan masih dininabobokan oleh kepongahan kita sendiri.

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia belum berumur genap satu abad. Jika dibaca dari Soempah Pemoeda pada Kongres Pemoeda II, sejarah memperlihatkan usia bangsa Indonesia mulai dihitung sejak 28 Oktober 1928. Jika riwayat ditulis sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, umur bangsa ini semakin tampak belia lagi. Cukup sulit untuk mendapatkan logika yang tepat tentang cara menghitung masa penjajahan: bagaimana bisa Indonesia dijajah 350 tahun jika usianya saja belum seratus tahun?  

Jika sebagai bangsa saja belum satu zaman, sesungguhnya bangsa ini belum bisa disebut telah memiliki kebudayaan. Yang ada masih sekadar kebiasaan, yang oleh pola tertentu dalam kehidupan rakyatnya kemudian dibentuk sebagai himpunan tradisi. Idiom bahasa menunjukkan bangsa pun belum berlaku utuh dan solid ketika bahkan pemimpin negeri ini belum benar-benar bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. 

Bahasa percakapan yang lebih pesat berkembang daripada bahasa persatuan membuktikan betapa bahasa Indonesia melemah di usia pertumbuhan. Di sisi lain, penggunaan bahasa nasional di daerah justru dianggap sebagai ancaman bagi bahasa setempat-apalagi sejak bahasa ibu makin lenyap disergap bahasa "loe gue". Penyiar radio lokal mengambil peran penting dalam pelenyapan itu, pun tentu saja presenter program hiburan di televisi nasional beserta deretan opera sabun. 

Supaya terlihat menonjol dalam pergaulan, bahasa Inggris, Arab, Mandarin, dan sejumlah bahasa asing diasah lebih tajam daripada pisau bahasa sendiri. Padahal, disebut bahasa asing karena memang asing bagi lidah kita. Salah sedikit, tak mengapa. Salah masih banyak, wajar saja, toh memang bahasa asing. Tidak menggunakannya pun merupakan pilihan. Menggunakannya pun tak perlu sampai menghilangkan kemedokan dialek. Mengapa demi menghapus kata "asing", kita rela menghilangkan kata "asli" dari kamus asal-muasal kita?

Adalah penyair yang berupaya keras menempuh penjelajahan bahasa melalui studi atas karya sastra maupun penciptaan karya-karya baru. Penulis prosa layak pula diapresiasi, sebagaimana pelaku bahasa lainnya; akademisi, peneliti, penerjemah, redaktur, kritikus, pengguna, dan penikmat bahasa Indonesia. Mereka adalah sastrawan dalam situasi masing-masing. Lebih tepatnya, sastrawan di tengah puting-beliung bahasa sehari-hari yang memojokkan mereka dengan dakwaan sok nyastra dan lebay, karena berbahasa yang baik dan benar.

Bangsa Indonesia dilahirkan oleh para pemuda berbangsa Nusantara dari berbagai kepulauan di negeri ini. Ibu bangsa ini memang bangsa besar bernama bangsa Nusantara, yang terdiri atas suku-suku, bahasa-bahasa, adat-istiadat, dan perikehidupan yang beraneka ragam. Usia bangsa Nusantara ini dapat dilacak dari pernyataan resmi Proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia, Ir Sukarno. Pada 30 September 1960, Presiden Sukarno dalam Sidang Umum XV Perserikatan Bangsa-Bangsa berpidato tentang "Membangun Dunia Kembali", menawarkan Pancasila sebagai ideologi dunia. Dia menyatakan, lima sendi negara Indonesia yang masih muda itu tidak berpangkal dari Manifesto Komunis, tidak pula dari Declaration of Independence. Sebaliknya, bahkan Pancasila jauh lebih tua daripada keduanya. Menurut dia, gagasan-gagasan dan cita-cita Pancasila telah terkandung dalam kehidupan bangsa ini selama 2.000 tahun. 

Dua ribu tahun! Nusantara bukan dimulai dari zaman Majapahit ketika Patih Gajah Mada mengucap Sumpah Palapa pada 1336. Dari Sukarno, diketahui bangsa Nusantara sepantaran dengan kalender Masehi. Lumrah jika ia percaya diri melahirkan kembali Bhinneka Tunggal Ika menjadi Pancasila. Ki Hadjar Dewantara kembali mempopulerkan Nusantara pada 1920-an, berhadap-hadapan dengan pilihan nama Hindia Belanda, sebelum akhirnya disepakati nama Indonesia, sebagaimana teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. 

Dari buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localisation of Plato's Lost Civilization karya Arysio Santos, terlacak bangsa Nusantara berinduk pada bangsa Sunda, yang berinduk pada bangsa Atlantis. Terbukti, kitab Timaeus karya Plato (427-347 SM) tentang Atlantis/Pulau Atlas bukan sekadar mitologi Atala yang hilang pada 9500 SM. Sedangkan tentang Paparan Sunda, temuan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 tentang Garis Wallace, yang memisahkan Asia dengan zona ekologi Indomalaya dan Australasia, adalah jejak dari sudut geografi hewan. Paparan Sunda adalah babak baru benua di mana bangsa ini membangun kembali peradaban sejak Benua Atlantis sirna ditelan bumi karena letusan gunung, gempa, dan tsunami. 

Bangsa ini bangsa besar, entah mengapa sebagian anak bangsa ini mengalami minder akut sehingga tidak berani gagah berdiri sebagai anak bangsa Indonesia. Fenomena Gunung Padang, misalnya, dengan cepat menjadi bahan ledekan. Mereka menertawai "menyanologi", metode penelusuran dengan menyan sebagai media teknologi komunikasi. Mistik, klenik, dianggap sebagai kemunduran peradaban dalam sejarah bangsa Indonesia, yang padahal ternyata masih berumur pendek.

Kita adalah anak zaman yang tidak berhak merendahkan tapak-tapak kaki leluhur kita sendiri yang membekas di bumi Nusantara ini. Siapa yang berani menertawai Candi Borobudur, keris, wayang kulit, dan batik, yang telah ditahbiskan oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia? Kita masih anak kemarin sore yang belum mewariskan apa-apa untuk bangsa ini, apalagi untuk masyarakat dunia. Kita masih menyusu pada temuan teknologi dari luar negeri, masih disuapi oleh negara adikuasa, masih ditimang oleh lembaga internasional, dan masih dininabobokan oleh kepongahan kita sendiri.

Perpustakaan tak cukup menampung dan merawat karya sastra yang tumbuh. Museum tidak bisa terlalu diandalkan ketika fakta menunjukkan berita-berita pencurian dan betapa sejumlah benda purbakala justru tergolek di luar negeri. Obrolan mengenai kebudayaan dan sastra perlu dihidupkan lagi sebagai keseharian, apalagi kelompok aliran keras mengambil peran penting dalam upaya penghilangan paksa roh bangsa ini. Tuduhan syirik menjadi senjata baru untuk menjajah Indonesia. 

Bangsa ini bangsa adiluhung. Sastra, kesenian, ritualitas upacara, dan spiritualitas ajaran tidak selayaknya dikotakkan sebagai peninggalan kuno, melanggar syariat, bahkan distempel syirik. Empat mata angin peradaban itu adalah pusaran waktu yang bergerak ke arah porosnya, yaitu karakter bangsa. Saudaraku, kita adalah anak bangsa Indonesia, bukan anak bangsa lain. 

Kita perlu ngobrol. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar