Selasa, 20 Maret 2012

“Singo Edan” Mencari Keadilan!


“Singo Edan” Mencari Keadilan!
Rini Kustiasih, WARTAWAN KOMPAS
SUMBER : KOMPAS, 13 Maret 2012



Indra Azwan (53), warga Blimbing, Malang, Jawa Timur, selama 19 tahun mencari keadilan atas kasus tabrak lari yang menimpa anaknya, Rifki Andika (12), pada 1993. Pelaku dinyatakan bebas setelah pengadilan militer menilai kasus Indra sudah kedaluwarsa. Sebagai bentuk perjuangan, ia melakukan aksi jalan kaki dari Malang menuju Jakarta untuk menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sabtu (10/3), Indra sampai di Cirebon, Jawa Barat.

”Singo Edan ojok digarai! Nek digarai, ngerti dhewe akibate!” Jangan bikin gara-gara dengan Singo Edan, jika bikin gara-gara, tahu sendiri akibatnya! Begitulah ungkapan kekesalan sekaligus kepedihan Indra Azwan (53), pria asal Blimbing, Malang.
Ia nekat berjalan kaki dari Malang ke Jakarta untuk menuntut keadilan bagi anaknya dan mengembalikan uang Rp 25 juta kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Indra yang lekat dengan atribut ”Singo Edan”—julukan bagi klub sepak bola Arema—telanjur digarai dengan tidak tuntasnya kasus hukum tabrak lari yang menimpa anaknya, Rifki Andika (12), oleh Joko Sumantri, seorang polisi, tahun 1993. Saat itu Joko berpangkat letnan satu, atau kini inspektur satu. Saat ini Joko berpangkat komisaris.
”Hati saya hancur. Saya enggak bisa membayangkan betapa sakitnya anak saya diperlakukan seperti itu. Setelah ditabrak, kok, ditinggal begitu saja,” ujarnya setengah memekik.
Rifki ditabrak saat akan menyeberang pulang seusai belajar kelompok di Jalan S Parman, Malang, Jawa Timur.
Indra, yang kehilangan anak sulungnya ini, Sabtu (10/3), beristirahat di Cirebon, Jawa Barat, setelah 22 hari berjalan kaki. Ia berangkat dari Malang, 18 Februari 2012. Ketika dihubungi kembali, Senin sore, ia sudah sampai di Pamanukan, Subang, Jawa Barat.
Di dalam mushala sebuah SPBU di Jalan Brigjen Darsono, Cirebon, Indra membersihkan lecet di kakinya dengan mengusapi alkohol dan mengganti plester. Ketika plester itu dibuka, tampaklah lubang-lubang merah berair di telapak kakinya. Kuku jari kelingking yang sebelah kiri bahkan hampir copot. ”Semestinya saya memakai sepatu ukuran 40, tetapi rusak di tengah jalan. Ini saya pakai sepatu cadangan ukuran 39, agak kekecilan,” ujarnya.
Untuk perjalanan Malang-Jakarta yang berjarak 887 kilometer, Indra membawa uang Rp 670.000. Istrinya, Betty Bernatiani (44), memaksa Indra agar mau membawa Rp 600.000 dari keuntungan lapak kelontong mereka. Sisanya, Rp 70.000, adalah uang pribadi Indra. ”Saya enggak khawatir kurang makan. Di jalan nanti banyak sekali yang memberi makan, minum, bahkan ada yang memberi uang,” ujarnya.
Jika lelah berjalan dan malam menjelang, Indra selalu mencari SPBU terdekat. Biasanya ia tidur di mushala atau lantai kosong di teras kantor SPBU. Di mana saja asal ada ruang untuk berselonjor, Indra memanfaatkannya. Untuk sekadar menghangatkan badan, ia mengenakan sarung yang dibawanya dari rumah. Ia membawa tiga celana panjang dan empat kaus bergambar Singo Edan, lambang kebanggaan Arema (Arek Malang).
Bagi Indra yang pendaki gunung ini, terpaan angin dan hujan sudah biasa. Ia paling suka mendaki Semeru. Hampir setiap bulan bapak empat anak ini mendaki gunung tertinggi di Jawa itu.
Kenekatan berjalan kaki Malang-Jakarta pun sudah diperhitungkan matang sesuai kondisi tubuhnya. Ini adalah perjalanan yang ketiga. Pada perjalanan pertama, yakni Juli-Agustus 2010, Indra ditemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hatinya kala itu girang sekali.
Pada pertemuan itu hadir juga Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar, dan Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana. ”Dalam sidang kabinet waktu itu Presiden menugaskan mereka dan Kapolri agar kasus Indra dituntaskan,” katanya.
Selama 19 tahun, Indra tersiksa karena menyaksikan penabrak anaknya melenggang bebas dari jerat hukum. Dalam putusan Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya bernomor PUT/05-K/PMT.III/POL/II/ 2008, Joko dibebaskan dari segala tuntutan karena kasusnya dianggap kedaluwarsa, yakni melewati waktu 12 tahun sejak kecelakaan tahun 1993 hingga dibukanya sidang tahun 2008. Padahal, pada putusan yang sama, majelis hakim yang dipimpin Kolonel Laut AR Tampubolon membenarkan terdakwa (Joko) secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana ”yang karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain”.
Selama rentang waktu 1993-2008, Indra berkali-kali bertanya kepada polisi ataupun Detasemen Polisi Militer Malang mengenai kelanjutan kasus Rifki. Namun, ia dianggap angin lewat.
Pada pertemuan dengan Presiden, 10 Agustus 2010, Indra kemudian diminta bertemu pegawai rumah tangga istana. Indra lalu diberi amplop berisi uang Rp 25 juta. Namun, kasus anaknya masih terkatung-katung juga.
Pada 27 September 2011, ia jalan kaki lagi ke Jakarta. Namun, saat sampai di Nagreg, Jawa Barat, Oktober 2011, ia tak bisa melanjutkan. ”Saya sakit perut karena keracunan susu cokelat setelah makan di warung,” ujarnya.
Sekarang, kepergiannya ke Jakarta sekali lagi untuk menuntut keadilan, dan mengembalikan uang Rp 25 juta kepada Presiden. Indra akan menagih janji Presiden untuk menuntaskan kasus anaknya. ”Bukan amplop ini yang saya cari. Saya menginginkan keadilan untuk kasus anak saya.”
Bagi Indra, perjuangan ini tak semata-mata untuk kepentingan pribadinya. ”Ada ribuan orang yang mungkin nasibnya seperti saya. Dengan aksi ini saya mengimbau indra-indra yang lain muncullah. Jangan takut!”
Aksi seperti dilakukan Indra, menurut pendiri Forum Diskusi Hukum Bandung Memet Ahmad Hakim, adalah ekspresi kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat yang kian memuncak terhadap proses hukum yang diselenggarakan negara.
Ekspresi berbeda dilakukan warga Lampung yang menuntut keadilan dengan menjahit mulut.
Terlepas dari suasana hukum di Tanah Air yang gonjang-ganjing, Indra hanyalah seorang bapak yang berharap masih ada kepedulian di hati para pemimpin negeri ini….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar