BBM
dan Senja Kala Ekonomi
Ahmad
Erani Yustika, Guru Besar Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya;
Direktur
Eksekutif Indef
SUMBER : MEDIA INDONESIA, 26 Maret 2012
“Dampak
tersebut masih bisa diteruskan efeknya terhadap kenaikan pengangguran,
penurunan ekspor, dan lain sebagainya. Ringkasnya, pemerintah mesti berhitung
neraca laba rugi sosial-ekonomi lebih cermat lagi dalam soal rencana penaikan
harga BBM itu agar senja kala perekonomian nasional tidak terjadi."
MALAPRAKTIK
pengelolaan ekonomi meru pakan kisah kelabu yang seakan tidak ada ujungnya di
Indonesia. Aneka kebijakan ekonomi yang tak masuk akal silih berganti
diproduksi pemerintah untuk menyantuni kepentingan mereka sendiri. Di sektor perdagangan
terjadi persaingan mematikan antara usaha skala besar dan kecil, investasi
dibuka secara telanjang, sektor pertanian dibiarkan tersengal-sengal, industri
manufaktur jauh dari basis sumber daya ekonomi domestik, dan masih banyak lagi
keganjilan lain yang bisa disampaikan. Di antara keanehan-keanehan itu yang
paling menyedihkan ialah pengelolaan kekayaan sumber daya alam (SDA), khususnya
minyak dan gas (migas).
Saat produksi minyak masih melimpah (sebelum 2003)
masyarakat tidak bisa menikmati karena hasilnya sebagian tidak dipakai untuk
pembangunan, tapi saat sekarang volume minyak tidak mencukupi kebutuhan
domestik (dan harganya melambung) masyarakat juga yang menjadi korban. Situasi
itu terjadi karena satu hal tadi: malapraktik pengelolaan SDA.
Malapraktik Pengelolaan SDA
Dalam
eksplorasi migas di Indonesia, pemain domestik (Pertamina dan perusahaan swasta
dalam negeri) melakukan ekplorasi kurang dari 20% sehingga mayoritas dikerjakan
pelaku ekonomi/korporasi luar negeri (asing). Sebenarnya praktik itu tidak
hanya terjadi dalam kasus migas, tetapi juga pada komoditas SDA lainnya,
misalnya emas, tembaga, dan mineral. Komposisi eksplorasi tersebut nyaris tidak
ada perubahan ketimbang kondisi 30-40 tahun lampau ketika pada saat itu
Indonesia dianggap tidak memiliki modal, teknologi, dan sumber daya manusia.
Jika benar pemerintah mengklaim pembangunan ekonomi berhasil, tentunya saat ini
modal sudah dipunyai, teknologi dikuasai, dan tenaga kerja terlatih sehingga
pengelolaan SDA seharusnya sudah digeser ke pelaku ekonomi domestik. Jika
kemudian pengelolaan SDA itu masih juga dikuasai asing, kemungkinannya cuma
dua: pembangunan ekonomi gagal atau mental pemerintah suka dijajah.
Praktik
pengelolaan SDA seperti itulah yang menjadi sumbu persoalan ekonomi nasional
saat ini. Di satu sisi kebutuhan energi terus meningkat oleh sebab tuntutan
kegiatan ekonomi, tapi di sisi lain penguasaan energi tidak sepenuhnya dikuasai
pemerintah (lewat BUMN). Dengan pola eksplorasi yang dilakukan sekarang,
sekurangnya terdapat dua masalah yang timbul. Pertama, sulit bagi pemerintah
mengontrol sepenuhnya jumlah produksi dan mekanisme distribusi, meskipun
beragam metode telah didesain. Perbedaan data produksi minyak antara versi
Kementerian ESDM, Pertamina, dan BP Migas merupakan contoh dari sulitnya
memastikan berapa sebetulnya volume produksi minyak yang dihasilkan. Kedua,
manipulasi biaya pemulihan (cost recovery)
sangat mungkin terjadi karena ketidakjelasan variabel dan keterbatasan
pengawasan. Bayangkan, pemerintah setiap tahun harus keluar sekitar Rp120
triliun hanya untuk cost recovery
(tahun ini eksplorator meminta Rp138 triliun).
Deskripsi
itu dengan terang menunjukkan adanya persoalan etis dalam pengelolaan SDA sebab
dalam aspek produksi tidak tergambarkan adanya unsur kemanfaatan bagi negara.
Oleh sebab itu, selaiknya sebelum kebijakan penaikan harga BBM dieksekusi,
pemerintah memanggul tugas mahapenting, menyelesaikan persoalan terkait
malapraktik pengelolaan SDA itu.
Sebenarnya
sangat gampang untuk memberi pemahaman kepada rakyat bahwa harga minyak murah
tidak lagi bisa dipertahankan akibat cadangan SDA yang menipis dan harga minyak
internasional yang melambung (sementara Indonesia menjadi net importir). Namun,
meminta rakyat mengerti atas situasi itu tanpa mengatasi malapraktik
pengelolaan minyak, perampokan masif SDA, dan membiarkan perburuan rente di
sektor pertambangan sama halnya dengan menodai intisari konstitusi yang
memaklumatkan SDA bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sehingga rakyat pasti
tidak dapat menerimanya.
Alokasi Belanja APBN
Sebelum
diajukan APBN-P 2012 saat ini, deskripsi APBN 2012 dapat dilihat sebagai
berikut. (a) Porsi belanja birokrasi (belanja pegawai dan barang) mengambil
bagian terbesar, yaitu sekitar 41,85% dari total belanja pemerintah pusat (setelah
dikurangi dana transfer). Pos subsidi dan belanja modal menempati urutan
berikutnya, yakni 20,64% dan 15,52%. (b) Secara nominal belanja subsidi 2012
turun sekitar 11,95% ketimbang 2011, dengan rincian subsidi energi turun 13,69%
dan subsidi nonenergi 3,86%. Total, pada 2011 subsidi energi mencapai Rp195,2
triliun dan subsidi nonenergi Rp41,9 triliun. (c) Meskipun subsidi energi tiap
tahun terus meningkat, penerimaan migas nasional juga bertambah tiap tahun.
Pada 2005, penerimaan migas baru mencapai Rp138,9 triliun, tetapi pada 2010
penerimaan menjadi Rp220 triliun. Selama 20052010, rata-rata persentase subsidi
energi terhadap total penerimaan migas mencapai 64% (minyak 44% dan listrik
20%).
Secara
lebih detail, belanja pemerintah pusat yang tercantum dalam APBN bisa dibagi
dalam delapan pos penting, yakni belanja pegawai, barang, modal, pembayaran
bunga utang, subsidi, belanja hibah, sosial, dan lain-lain. Pada APBN 2012,
porsi belanja pegawai mengambil bagian terbesar, yaitu 22,37%. Setelah itu pos
subsidi menempati urutan kedua sebanyak 20,64%. Jika dibandingkan dengan APBN
2011, urutan itu terbalik. Pada periode tersebut subsidi mengambil porsi
belanja pemerintah pusat yang terbesar (26,12%), diikuti dengan belanja pegawai
20,14%. Jadi, dalam rancangan APBN 2012 subsidi sudah relatif berkurang, bahkan
dalam jumlah yang lumayan besar, sekitar 5%, jika dibandingkan dengan 2011. Itu
artinya seandainya harga BBM internasional meningkat, seharusnya pemerintah
tidak tergesa-gesa menaikkan harga BBM sebab masih ada ruang fiskal sekitar 5%
(jika dibandingkan dengan 2011). Pendeknya, subsidi masih bisa ditambah asalkan
tidak melebihi 25% dari belanja pemerintah pusat.
Deskripsi
di muka menunjukkan dua hal besar menyangkut alokasi APBN dalam beberapa tahun
terakhir. (1) Belanja birokrasi (belanja pegawai dan barang) mengambil porsi
yang makin besar dari tahun ke tahun (juga pertumbuhannya) sehingga watak APBN
sebagai instrumen kesejahteraan masyarakat menjadi hilang. Tren seperti itu
tentu membahayakan karena tidak meletakkan fungsi APBN dalam posisi yang tepat.
(2) Instrumen subsidi yang dianggarkan dalam APBN makin lama porsinya kian
menciut. Subsidi energi (minyak dan listrik) pada 2004 masih 23,21% dan turun
menjadi 17,47% (2012), sedangkan subsidi nonenergi (pangan, pupuk, benih, dan
lain-lain) pada 2004 sebesar 7,57% yang turun menjadi 4,18% (2012) terhadap
total belanja pemerintah pusat. Jadi, wajar bila argumen subsidi minyak lebih
banyak dinikmati kaum kaya mudah dipatahkan sebab terdapat banyak alokasi lain
yang justru menunjukkan alokasi APBN tidak dinikmati rakyat miskin.
Daya Beli dan Makroekonomi
Tidak
sulit untuk menyatakan kebijakan minyak pasti akan memengaruhi tatanan
perekonomian secara keseluruhan mengingat sebagian besar kegiatan ekonomi
bergantung pada minyak, seperti sektor industri, transportasi, konstruksi,
perdagangan, dan pertanian. Jika harga minyak naik, sebagian besar aktivitas
ekonomi mengalami lonjakan harga (inflasi) pula. Proporsi inflasi antarsektor
ekonomi bervariasi, bergantung pada bobot penggunaan energi (minyak) dan
struktur pasar pada sektor/komoditas yang bersangkutan. Secara umum, dampak
yang ditimbulkan dari penaikan harga BBM itu dapat dilacak dari dua sisi.
Pertama, penurunan daya beli masyarakat. Data menunjukkan tenaga kerja yang
betul-betul dianggap bekerja penuh (minimal 35 jam/minggu) hanya sekitar 70%,
sedangkan sisanya setengah penganggur dan penganggur terbuka.
Lebih dramatis lagi, mereka yang dianggap bekerja penuh ternyata 65% bekerja di
sektor informal dan hanya 35% bekerja di sektor formal (BPS, 2011).
Masyarakat
miskin menjadi lebih rentan lagi terhadap penaikan harga minyak karena
pertumbuhan penda patan mereka jauh lebih kecil ketimbang kelompok pendapatan
menengah ke atas. Jika pengeluaran masyarakat dibagi dalam 10 kelas (desil),
akan dijumpai data sebagai berikut. Pengeluaran terendah kelompok pertama dan
kedua, yakni sekitar Rp153 ribu dan Rp 204 ribu/kapita/ bulan, pada 2010 hanya
tumbuh 9,08% dan 8,25%. Sebaliknya, pengeluaran tertinggi kelompok pertama dan
kedua, yaitu sekitar Rp1,48 juta dan Rp768 ribu/ kapita/bulan, pada tahun yang
sama tumbuh 15,36% dan 18,77% (BPS, 2011).
Jelasnya, pertumbuhan pendapatan mereka yang berpengeluaran besar boleh
dikatakan dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok miskin. Itu pula yang
menjadi sebab ketimpangan pendapatan makin tinggi saat pertumbuhan ekonomi
nasional juga melesat, sekaligus menggambarkan kelompok pendapatan rendah itu
akan mudah terguncang oleh kejutan ekonomi sekecil apa pun.
Kedua,
dampak terhadap makroekonomi. Dengan asumi penaikan harga BBM sebesar
Rp2.000/liter, simulasi yang saya lakukan menghasilkan proyeksi sebagai
berikut. (i) Pertumbuhan ekonomi merosot menjadi 5,7%-5,8%. Kemerosotan
pertumbuhan ekonomi itu antara lain disebabkan investasi yang jatuh (akibat
kenaikan suku bunga kredit). (ii) Inflasi melonjak 3%-3,5% sehingga daya beli
masyarakat jatuh, dengan daya beli kaum miskin berkurang sekitar 10%-15%. (iii)
Jumlah kemiskinan meningkat 1,1%-1,3% (sekitar 1,5 juta penduduk) akibat
penurunan daya beli meskipun aneka skema kompensasi sudah dijalankan. (iv) Secara
keseluruhan pendapatan nasional berkurang Rp125 triliun jika dibandingkan
dengan apabila harga BBM tidak dinaikkan (sehingga pertumbuhan ekonomi 6,5%).
Dampak tersebut masih bisa diteruskan efeknya terhadap kenaikan pengangguran,
penurunan ekspor, dan lain sebagainya. Ringkasnya, pemerintah mesti berhitung
neraca laba rugi sosial-ekonomi lebih cermat lagi dalam soal rencana penaikan
harga BBM itu agar senja kala perekonomian nasional tidak terjadi. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar