|
BARU belakangan ini para pejabat publik
beramai-ramai menyatakan menolak launching
mobil murah. Mereka memang sudah terbiasa mengendarai mobil mahal yang bisa
mengubah gaya hidupnya menjadi gaya hidup borjuis. Mungkin juga karena tak
mampu lagi memikirkan tantangan membeludaknya pengendara sepeda motor yang akan
beramai-ramai beralih mengendarai mobil murah.
Dapat dibayangkan jika membeludaknya pengendara sepeda motor, yang oleh Meneg BUMN Dahlan Iskan dikatakan sebagai revolusi transportasi bersepeda motor, nanti ditambah dengan peralihan ke kendaraan pribadi mobil murah. Tak dapat dimungkiri, jalan raya akan berubah total menjadi tempat parkir berjalan jika pembangunan infrastruktur angkutan umum dengan ragam modanya tak segera terlaksana dengan cepat.
Kemacetan bagi para konsumen mobil mahal justru sebagai ajang pamer dan entertainment (hiburan) di jalan raya. Coba lihat dan perhatikan ketika ada mobil supermahal melintas di jalan raya. Justru orang-orang yang ada di dalamnya begitu bangga dan menikmati kemacetan jalan.
Mereka dilihat orang biasa, juga orang miskin, yang lalu lalang di pinggir jalan yang merasa kagum. Hal ini membuktikan bahwa produk barang dan jasa akan sangat diminati masyarakat konsumen manakala produk tersebut memberikan nilai lebih dari sisi kualitas dan harga. Tapi, belakangan ini harga murah dan berkualitas saja tidak cukup. Produk barang dan jasa itu harus memberikan nilai entertainment.
Bernd H. Schmitt dalam bukunya, There's Show Businness (2004), menyatakan, konsumen kini menilai sebuah produk barang dan jasa (brand) dari suatu perusahaan berdasar pengalaman yang pernah dialaminya. Pengalaman ini haruslah menghibur (entertaining), melibatkan konsumen (engaging), memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar yang diharapkan konsumen (boundary breaking), dan pada saat yang bersamaan menciptakan nilai bisnis (value creating). Selanjutnya, menurut Schmitt, semua bisnis kini harus dikelola sebagai show business yang menyenangkan semua orang (happy appealing).
Mobil murah memberikan harapan konsumen seperti itu dibandingkan mengendarai sepeda motor dan angkutan umum yang tak ada nilai entertainment-nya. Barangkali, meski harus menjual 4-5 unit sepeda motor untuk uang muka, umpamanya, mereka bisa tidak peduli. Sebab, dengan mobil murahnya, mereka yang semula bisa kehujanan dan kepanasan tidak akan mengalaminya lagi. Sepeda motor dinilai tak bergengsi. Kecuali bersepeda motor moge (motor gede) yang juga memiliki nilai entertainment bagi orang yang gaya hidupnya borjuis.
Mengapa mobil murah maupun yang mahal menjadi moda transportasi pribadi dambaan semua orang sebagai pengganti angkutan umum? Selain nilai entertainment, mobil mempunyai fasilitas lain yang tak ada di angkutan umum dan sepeda motor. Kapasitasnya familier, penumpang lebih dari dua orang, ada air conditioner/AC-nya, serta membawa barang banyak tanpa mengganggu keseimbangan. Apalagi, kehidupan anak-anak kita saat ini yang sejak lahir pada 1980-an, umpamanya, sudah mengenal ruang ber-AC. Sekarang rumahnya ber-AC. Di sekolah, ruang kelasnya ber-AC. Ke plaza, lingkungannya ber-AC. Bahkan, minimarket pun ber-AC.
Karena itu, nyaris lingkungan yang tak ber-AC seperti pasar tradisional dan angkutan umum belakangan ini ditinggalkan publik. Kondisi pasar tradisional yang becek, berbau dan kotor, serta banyak copetnya sudah bukan lagi menjadi pilihan utama tempat berbelanja. Begitu juga angkot dan bus kota yang kondisinya semakin bobrok dan pengap telah sirna dari memori anak-anak kita.
Nah, apakah angkutan umum yang dijanjikan seperti monorel dan semacamnya mampu menggantikan kendaraan pribadi mobil murah, mobil mahal, dan sepeda motor? Harapan publik, tak hanya murah, nyaman, aman, dan tepat waktu, tapi juga memberikan nilai tambah entertainment bagi konsumennya. Jika tidak, gagasan dan pembangunan itu akan sia-sia.
Harapan dan keinginan masyarakat konsumen selalu melampaui kenyataan riil yang dihadapinya. Untuk itu, dalam waktu yang bersamaan keberadaan angkutan umum akan diabaikan dan ditinggalkan manakala tak memenuhi seleranya. Karena itu, alangkah baiknya kita belajar kepada filosofi mantan Presiden RI B.J. Habibie: Mulailah dari sesuatu yang mutakhir. Jangan memulai dari yang awal, agar kita tak menjadi bangsa yang selalu ketinggalan zaman. ●
Dapat dibayangkan jika membeludaknya pengendara sepeda motor, yang oleh Meneg BUMN Dahlan Iskan dikatakan sebagai revolusi transportasi bersepeda motor, nanti ditambah dengan peralihan ke kendaraan pribadi mobil murah. Tak dapat dimungkiri, jalan raya akan berubah total menjadi tempat parkir berjalan jika pembangunan infrastruktur angkutan umum dengan ragam modanya tak segera terlaksana dengan cepat.
Kemacetan bagi para konsumen mobil mahal justru sebagai ajang pamer dan entertainment (hiburan) di jalan raya. Coba lihat dan perhatikan ketika ada mobil supermahal melintas di jalan raya. Justru orang-orang yang ada di dalamnya begitu bangga dan menikmati kemacetan jalan.
Mereka dilihat orang biasa, juga orang miskin, yang lalu lalang di pinggir jalan yang merasa kagum. Hal ini membuktikan bahwa produk barang dan jasa akan sangat diminati masyarakat konsumen manakala produk tersebut memberikan nilai lebih dari sisi kualitas dan harga. Tapi, belakangan ini harga murah dan berkualitas saja tidak cukup. Produk barang dan jasa itu harus memberikan nilai entertainment.
Bernd H. Schmitt dalam bukunya, There's Show Businness (2004), menyatakan, konsumen kini menilai sebuah produk barang dan jasa (brand) dari suatu perusahaan berdasar pengalaman yang pernah dialaminya. Pengalaman ini haruslah menghibur (entertaining), melibatkan konsumen (engaging), memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar yang diharapkan konsumen (boundary breaking), dan pada saat yang bersamaan menciptakan nilai bisnis (value creating). Selanjutnya, menurut Schmitt, semua bisnis kini harus dikelola sebagai show business yang menyenangkan semua orang (happy appealing).
Mobil murah memberikan harapan konsumen seperti itu dibandingkan mengendarai sepeda motor dan angkutan umum yang tak ada nilai entertainment-nya. Barangkali, meski harus menjual 4-5 unit sepeda motor untuk uang muka, umpamanya, mereka bisa tidak peduli. Sebab, dengan mobil murahnya, mereka yang semula bisa kehujanan dan kepanasan tidak akan mengalaminya lagi. Sepeda motor dinilai tak bergengsi. Kecuali bersepeda motor moge (motor gede) yang juga memiliki nilai entertainment bagi orang yang gaya hidupnya borjuis.
Mengapa mobil murah maupun yang mahal menjadi moda transportasi pribadi dambaan semua orang sebagai pengganti angkutan umum? Selain nilai entertainment, mobil mempunyai fasilitas lain yang tak ada di angkutan umum dan sepeda motor. Kapasitasnya familier, penumpang lebih dari dua orang, ada air conditioner/AC-nya, serta membawa barang banyak tanpa mengganggu keseimbangan. Apalagi, kehidupan anak-anak kita saat ini yang sejak lahir pada 1980-an, umpamanya, sudah mengenal ruang ber-AC. Sekarang rumahnya ber-AC. Di sekolah, ruang kelasnya ber-AC. Ke plaza, lingkungannya ber-AC. Bahkan, minimarket pun ber-AC.
Karena itu, nyaris lingkungan yang tak ber-AC seperti pasar tradisional dan angkutan umum belakangan ini ditinggalkan publik. Kondisi pasar tradisional yang becek, berbau dan kotor, serta banyak copetnya sudah bukan lagi menjadi pilihan utama tempat berbelanja. Begitu juga angkot dan bus kota yang kondisinya semakin bobrok dan pengap telah sirna dari memori anak-anak kita.
Nah, apakah angkutan umum yang dijanjikan seperti monorel dan semacamnya mampu menggantikan kendaraan pribadi mobil murah, mobil mahal, dan sepeda motor? Harapan publik, tak hanya murah, nyaman, aman, dan tepat waktu, tapi juga memberikan nilai tambah entertainment bagi konsumennya. Jika tidak, gagasan dan pembangunan itu akan sia-sia.
Harapan dan keinginan masyarakat konsumen selalu melampaui kenyataan riil yang dihadapinya. Untuk itu, dalam waktu yang bersamaan keberadaan angkutan umum akan diabaikan dan ditinggalkan manakala tak memenuhi seleranya. Karena itu, alangkah baiknya kita belajar kepada filosofi mantan Presiden RI B.J. Habibie: Mulailah dari sesuatu yang mutakhir. Jangan memulai dari yang awal, agar kita tak menjadi bangsa yang selalu ketinggalan zaman. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar