|
Rekening
Gendut DPR
Moh Yamin ; Dosen dan Peneliti
di
Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin
|
SINAR
HARAPAN, 12 Januari 2013
|
Temuan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang
membeberkan ada sejumlah anggota dewan di Senayan, termasuk anggota dewan di
daerah, yang memiliki rekening gendut alias mencurigakan baru-baru ini
menjelang akhir 2012 menunjukkan korupsi ternyata terus menggurita. Hal
tersebut sepertinya akan semakin menggurita di tahun 2013 ini.
Korupsi akan terus berlangsung dengan sedemikian masif dengan
mengorbankan kepentingan rakyat. Uang negara yang seharusnya dimuarakan dalam
rangka pembangunan kehidupan rakyat kemudian akan terus mengalami kegagalan
dengan sedemikian rupa. Tidak akan pernah ada implimentasi sangat serius
untuk menjadikan uang negara untuk bisa dipersembahkan demi pembangunan.
Oleh karenanya, alih-alih mengatakan pemberantasan korupsi
sepanjang 2012 sudah banyak memberikan kepuasan terhadap publik, rakyat di
republik ini justru sangat kecewa. Anggota dewan justru menjadi contoh sangat
telanjang bulat yang sudah menilep uang rakyat demi kepentingan sektoral yang
tidak pernah memiliki hubungan sangat signifikan bagi pembangunan kehidupan
rakyat.
Kondisi ini semakin mempertontonkan bahwa pemberantasan korupsi
seakan dibikin dengan dunia sandiwara. Ringkasnya, memberantas korupsi dan
mengadili para koruptor sangat kesulitan dilakukan.
Menyeret para anggota dewan butuh perjuangan sangat keras, dan
itu pun selalu penuh dengan hambatan di pelbagai hal. Entah alasan apa yang
mendasarinya, yang pasti, pemberantasan korupsi selalu berhenti di tengah
jalan, macet, dan stagnan ketika dihadapkan dengan siapakah yang diselidiki,
disidik, dan akan diseret ke meja hijau pengadilan, terlepas juga sudah ada
sejumlah anggota dewan yang sudah masuk penjara.
Dengan demikian, pemberantasan korupsi pun mati kutu dan
kehilangan nalar kekuatannya untuk berkiprah demi membebaskan uang negara
dari rampokan dedemit-dedemit berwajah manusia. Oleh karenanya, adanya
kesulitan memberantas korupsi ini pun semakin kentara ketika harus
berhadap-hadapan secara vis-à-vis dengan pemegang lingkar kekuasaan.
Akhirnya, ini mengilustrasikan bahwa koruptor dengan segala warna-warni
keistimewaan yang dimilikinya lolos dari jeratan hukum. Mereka dapat
mengaburkan diri dari sebuah jejaring peradilan yang tujuannya adalah
menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar.
Kesadaran Baru
Karena itu, kerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus
semakin diintensifkan. Laporan PPATK kemudian perlu dijadikan amunisi baru
dalam rangka melakukan bersih-bersih di tubuh Senayan. Momen ini pun harus
menjadi pengobor semangat baru dalam memberantas korupsi. Keseriusan,
keberanian, dan etos kerja tinggi adalah modal penting agar pemberantasan
korupsi dapat ditegakkan dengan sedemikian kentaranya.
KPK yang dihuni lima pemimpin manusia superberani dengan pikiran
jernih, terbuka, dan jujur tanpa berpoleskan kepentingan politik sektarian
merupakan lokomotif utama untuk tegas dalam memberantas korupsi agar uang
negara tidak semakin diberangus habis oleh pihak dan oknum-oknum tertentu
yang tidak bertanggung jawab dan tidak berjiwa nasionalistik-patriotistik
demi perubahan Indonesia ke depan ini yang lebih baik.
Marilah menjadikan bangsa ini bebas dari koruptor. Bila mantan
Perdana Menteri China Zou Ronji pernah menyampaikan akan menyiapkan 100 peti
mati bagi para koruptor dan salah satu peti tersebut dipersiapkan bagi sang
Perdana Menteri sendiri apabila tersangkut korupsi, hal tersebut kemudian
harus dapat membangkitkan kesadaran para elite negeri ini, termasuk presiden,
agar benar-benar menjalankan hukum dengan sedemikian adil, tegas, dan berani.
Siapa pun yang bersalah dan telah terbukti melakukan korupsi
uang rakyat maka harus ditindak tegas dan berani. Hukum bukan menghamba
kepada para koruptor dan kroni-kroninya. Hukum merupakan senjata untuk
menumpas habis para koruptor. SBY harus dan perlu terus mendorong KPK agar
kian giat bekerja dalam pemberantasan korupsi.
Introspeksi Politik
Hasil survei yang sudah dilakukan sejumlah lembaga survei yang
terus-menerus menempatkan Senayan sebagai ladang korupsi harus segera
dikembalikan kepada khittahnya sebagai ruang perjuangan untuk rakyat. Tahun
ini merupakan tahun politik, sebab menjadi pertaruhan sangat besar bagaimana
semua politikus di Senayan perlu bekerja lebih keras dalam rangka menunjukkan
kerja-kerjanya yang bersih dari korupsi.
Tingkat elektabilitas sebuah partai politik (parpol) tertentu di
pemilihan umum (pemilu) 2014 akan dicerminkan bagaimana para politikusnya di
Senayan benar-benar bekerja bersih dan jujur. Rakyat sudah semakin cerdas dan
sudah mampu menjatuhkan pilihan siapakah yang diharapkan mampu menjadi
pemimpin sebenarnya.
Semua parpol yang menaungi para politikusnya di Senayan pun
harus rela menyerahkan apabila ada di antara politikusnya yang tersandung
dalam rekening gendut. Parpol harus memberikan dukungan politik dan moral
kepada KPK agar bisa bekerja lebih cepat, maksimal, dan optimal dalam law enforcement. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar