Sabtu, 19 Januari 2013

Pemimpin yang Berakhlak


Pemimpin yang Berakhlak
Irfan Sona ;  Direktur Lembaga Kajian Ilmu Perbandingan Agama
IAIN Walisongo, Aktivis Pemuda Semarang
SUARA KARYA, 18 Januari 2013

  
Kemerosotan akhlak para pemimpin masa kini telah memberikan pengaruh negatif yang amat besar bagi suatu instansi yang dipimpinnya. Dalam sebuah negara misalnya, dengan tidak adanya sosok seorang pemimpin yang memiliki jiwa enterpreneur atau jiwa kepemimpinan maka secara otomatis negara tersebut akan menjadi sangat sulit untuk menjadi negara yang maju dimata dunia.
Lantas sosok pemimpin yang bagaimakah yang bisa diharapkan agar bisa menjadi panutan dan bisa menjadi seseorang yang benar-benar memberikan perubahan besar dalam kehidupan ini? Negara Indonesia misalnya, yang mayoritas penduduknya beragama Islam masih sangat sulit mencari sosok pemimpin yang benar-benar mampu dan tangguh dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Kebanyakan pemimpin sekarang cenderung bertolak bekakang dengan ucapannya terutama pada saat mereka masih menjadi calon pemimpin ketika akan mengikuti pemilihan. Kepintaran mereka digunakannya hanya untuk mengotak-atik kata menjadi sebuah kalimat yang sulit diprediksi oleh masyarakat. Kepandaiannya beretorika misalnya, hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok kecilnya.
Disisi lain, mereka juga kerap menjadikan jabatan sebagai ajang untuk memperkaya diri. Berbagai cara akan mereka lakukan untuk mendapatkan harta demi memperkaya diri dan keluarga. Kekuasaan dimanfaatkan untuk mencuri harta rakyat secara terang-terangan. Jadi, wajar jika seorang pakar perpolitikan mengatakan, "kekuasaan itu cenderung korupsi". Ketidakadilan mereka dalam memimpin telah membawa dampak yang buruk bagi kemajuan instansi yang dipimpinnya.
Lantas hal apa yang menjadikan mereka bertindak sewenang-wenang? Namun, sebelumnya perlu dijawab apa yang dimaksud dengan pemimpin, apakah seorang yang bertugas sebagai tukang perintah, atur, atau tukang pemrakasa?
Kebanyakan dari pemimpin sekarang adalah seorang yang bekerja hanya memerintah saja, tanpa mau ikut turun dalam mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan kepada bawahannya. Karena, anggapannya dia yang maha berkuasa, sehingga merasa bebas mau melakukan apa saja sekehendak hatinya tanpa memikirkan kemaslahatan bersama. Oleh sebab itu, perlu dipahami secara jelas tentang siapa dan apa itu pemimpin. Pemimpin yang seperti apa yang didambakan oleh masyarakat.
Meminjam istilah Henry Pratt Faiechild dalam buku Kartini Kartono (1994:33) mengungkapkan, pengertian pemimpin ialah seorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha atau upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan dan posisi.
Sosok pemimpin seperti itulah yang sangat diharapkan untuk negara seperti Indonesia ini. Pemimpin yang mampu menjadi manejer sekaligus suri teladan bagi rakyat atau bawahannya. Sejauh ini, para petinggi negara bisa dikatakan tidak memiliki jiwa-jiwa kepemimpinan seperti ini, sehingga tidak jarang usaha yang mereka lakukan akan mengalami keterbalikan hasil dari apa yang diharapkan oleh masyarakat umum.
Dalam pengertian yang terbatas, seorang pemimpin adalah sosok yang benar-benar bisa membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya dan, juga mampu membuat anggota yang ada dibawahnya menjadi sosok yang berjiwa entertainer seperti dirinya.
Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kemampuan kepemimpinan seseorang. Pertama, faktor individu adalah yang dipengaruhi oleh kepribadian, tingkah laku, karakteristik, sifat, motivasi, tanggung jawab, dan berwawasan luas dari seorang pemimpin tersebut. Di sini pemimpin dituntut untuk memiliki sikap dan sifat tersebut. Tujuannya, agar pemimpin itu benar-benar bisa menjadi contoh bagi orang yang dipimpinnya.
Kedua, faktor lingkungan, adalah faktor yang terbentuk dari keluarga, teman kerja, tetangga, dan masyarakat luas. Faktor ini biasanya hanya sebagai pendukung saja akan tetapi sangat penting untuk dimiliki oleh seseorang yang ingin menjadi pemimpin. Karena keluarga adalah pusat keseharian yang selalu berhubungan dengan setiap orang. Jadi kita tidak bisa mengabaikan keluarga dalam membentuk karakter pemimpin yang handal. Begitu juga dengan teman-teman kerja, mereka yang lebih tahu terhadap kemampuan kita dalam bekerja, sehingga saran-saran dan kritikan dari mereka akan sangat membatu kita dalam mewujudkan sifat kepemimpinan itu. Dan, masyarakat luas adalah tempat dimana seseorang diuji terhadap kepemimpinannya.
Selain itu segala ide-ide kreatif yang mereka miliki akan sangat berarti bagi kita demi masa depan kepemimpinan kita nantinya. Dengan adanya ide-ide yang sebelumnya tidak kita miliki, maka diharapkan melalui ide tersebut kita bisa menciptakan sebuah terobosan baru dalam masyarakat.
Ketiga, faktor sosial, yakni individu harus bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya, dengan keluarga, teman bisnis, dan pastinya masyarakat sekitar. Ketiga elemen ini adalah sentral yang selalu hadir dalam kehidupan.
Selain itu, ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya yakni pemahaman mengenai ilmu agama yang harus dimiliki setiap individu. Kurangnya pengetahuan akan agama pasti memberikan dampak yang buruk bagi instansi yang dipimpinnya. Karena tidak adanya pemahaman dan pengamalan ilmu agama yang jelas itulah yang menjadikan para pemimpin bertindak sewenang-wenang.
Ini hendaknya menjadi catatan utama bagi manusia sebagaimana Rasul telah memberikan contoh yang nyata kepada manusia menjadi seorang pemimpin yang sukses sekaligus berakhlak mulia.