Program
Sehari Tanpa Nasi
Toto Subandriyo, KEPALA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
(DISPERINDAG) KABUPATEN TEGAL
SUMBER : SUARA MERDEKA, 14 Maret 2012
KEBIJAKAN Pemkot Depok Jabar
menetapkan program sehari tanpa nasi (one day no rice) tiap hari Selasa menuai
pendapat pro dan kontra. Mereka yang mendukung kebijakan ini antara lain
menganggap bahwa ketergantungan terhadap nasi selain berdampak negatif bagi
kesehatan juga sangat mengancam ketahanan pangan bangsa. Mereka yang kontra
berargumentasi bahwa mengonsumsi makanan tertentu tidak dapat dipaksakan tetapi
hanya sebatas imbauan.
Terlepas dari pendapat pro dan kontra, program sehari tanpa nasi yang telah digulirkan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian beberapa tahun lalu dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. Seperti sering akan, jika pola konsumsi beras rakyat Indonesia tidak segera dikurangi, ngeri ini akan mengalami defisit beras yang sangat besar pada tahun-tahun mendatang.
Saat ini konsumsi beras penduduk Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Data Kementerian Pertanian menyebutkan saat ini konsumsi beras nasional mencapai 139,15 kilogram/kapita/tahun, sedangkan angka Badan Pusat Statistik meyebutkan 113,48 kilogram/kapita/tahun. Angka ini sama dengan angka konsumsi rakyat Jepang setengah abad lalu. Saat ini konsumsi beras rakyat Jepang hanya 60 kilogram/kapita/tahun.
Jika angka konsumsi beras rakyat Indonesia dibiarkan tetap tinggi seperti angka yang sekarang, sudah dapat dipastikan komoditas biji-bijian tersebut akan selalu menyandera bangsa ini dari waktu ke waktu. Gonjang-ganjing beras akan selalu terjadi bagai lingkaran setan yang tak pernah ada ujungnya. Beras akan selalu menjadi pemicu inflasi dan menggerus daya beli masyarakat sehingga kehidupan mereka makin terimpit. Termasuk di dalamnya kehidupan petani gurem yang merupakan bagian terbesar dari petani negeri ini.
Kondisi darurat beras yang selalu kita hadapi ini tidak terlepas dari kebijakan berasisasi yang masif dilakukan oleh pemerintah sejak pemerintahan Orde Baru hingga kini. Beras selalu ditempatkan pada posisi superior di samping jenis bahan pangan sumber karbohidrat lainnya. Akibatnya kearifan lokal konsumsi pangan yang tumbuh di masyarakat tercerabut hingga akar-akarnya.
Saat ini masyarakat Madura tidak lagi menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Masyarakat Papua tidak lagi menempatkan sagu dan umbi-umbian (hipere) sebagai makanan pokok. Masyarakat Wonogiri tidak lagi menjadikan tiwul (nasi dari singkong) sebagai makanan pokok sehari-hari. Pola konsumsi mereka telah berubah 180 derajat, semuanya telah beralih ke beras.
Berbasis Korporasi
Begitu strategisnya komoditas beras bagi bangsa Indonesia, mau tidak mau, suka tidak suka pemerintah harus mencurahkan perhatian agar beras tidak selalu menyandera kehidupan bangsa. Prioritas pertama yang harus ditempuh adalah mendongkrak produksi. Perlu evalusi secara menyeluruh terhadap sistem produksi saat ini yang lebih menekankan pada sistem produksi dengan pola peasent-based and family-based food production. Sistem produksi ini berbasis pada jutaan petani kecil dan lahan sempit tersebar di pedesaan Jawa dan luar Jawa.
Selama ini ketahanan pangan negeri ini ditumpukan pada sistem produksi ini. Pertanyaannya, mampukah sistem ini menjawab tantangan ketahanan pangan negeri ini, baik dari segi kualitas maupun kuantitas? Melihat kondisi pangan dunia saat ini yang kurang menggembirakan, sepertinya sistem produksi pangan seperti itu tidak dapat lagi dipertahankan. Karena itu sistem produksi ini sudah waktunya dipadukan dengan pola produksi pangan berbasis korporasi dan food estate.
Upaya lain yang tidak kalah penting adalah menyelamatkan kehilangan hasil pascapanen. Saat ini angka kehilangan pascapanen gabah/beras nasional masih sangat tinggi, yaitu sekitar 12 persen. Melalui gerakan ’’Selamatkan Walau Hanya Sebutir’’ maka kita dapat menurunkan angka kehilangan pascapanen tersebut menjadi 6 persen. Upaya ini dapat dilakukan dengan perbaikan penanganan pascapanen melalui mekanisasi. Jika upaya ini dapat dilaksanakan dengan baik akan dapat kita selamatkan 3 juta ton beras per tahun.
Upaya penting lainnya adalah menurunkan angka konsumsi beras masyarakat melalui program diversifikasi pangan. Apabila pemerintah mampu menurunkan angka konsumsi beras menjadi 100 kilogram/kapi-ta/tahun, maka beras yang dapat kita hemat tidak kurang dari 7 juta ton beras per tahun.
Namun ada satu hal yang harus kita cegah, jangan sampai terjadi pengurangan konsumsi beras masyarakat kemudian beralih ke terigu. Jika hal ini terjadi maka akan timbul permasalahan baru berupa ketergantungan impor terigu. Kita semua tahu terigu adalah tepung yang diolah dari gandum. Tanaman gandum adalah tanaman subtropis yang sulit dikembangkan di Indonesia secara massal.
Negara kita sangat kaya varian bahan pangan sumber karbohidrat. Terdapat tidak kurang dari 77 jenis tanaman pangan dari biji-bijian (serealia) dan umbi-umbian, dari singkong, ubi jalar, hingga jagung, hingga hermada. Namun percepatan diversifikasi pangan ini hanya dapat dilakukan jika semua komoditas tersebut telah diolah menjadi tepung (flour based food).
Saat ini komoditas yang telah banyak diusahakan adalah ketela pohon dalam bentuk modified cassava flour (mocaf) yang digunakan sebagai substitusi terigu dalam pembuatan mi dan roti. Di sisi lain produksi umbi-umbian harus digalakkan pada lahan kering untuk kemudian diolah menjadi tepung. Tanpa upaya ini akan sulit diharapkan program diversifikasi dapat berjalan cepat dan berkesinambungan.
Tidak hanya cukup di situ, program sehari tanpa nasi harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Masyarakat kita adalah masyarakat paternalistik. Karena itu, contoh dan keteladanan dari para pemimpin di semua tingkatan akan menjadi kata kunci bagi keberhasilan program ini. ●
Terlepas dari pendapat pro dan kontra, program sehari tanpa nasi yang telah digulirkan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian beberapa tahun lalu dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. Seperti sering akan, jika pola konsumsi beras rakyat Indonesia tidak segera dikurangi, ngeri ini akan mengalami defisit beras yang sangat besar pada tahun-tahun mendatang.
Saat ini konsumsi beras penduduk Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Data Kementerian Pertanian menyebutkan saat ini konsumsi beras nasional mencapai 139,15 kilogram/kapita/tahun, sedangkan angka Badan Pusat Statistik meyebutkan 113,48 kilogram/kapita/tahun. Angka ini sama dengan angka konsumsi rakyat Jepang setengah abad lalu. Saat ini konsumsi beras rakyat Jepang hanya 60 kilogram/kapita/tahun.
Jika angka konsumsi beras rakyat Indonesia dibiarkan tetap tinggi seperti angka yang sekarang, sudah dapat dipastikan komoditas biji-bijian tersebut akan selalu menyandera bangsa ini dari waktu ke waktu. Gonjang-ganjing beras akan selalu terjadi bagai lingkaran setan yang tak pernah ada ujungnya. Beras akan selalu menjadi pemicu inflasi dan menggerus daya beli masyarakat sehingga kehidupan mereka makin terimpit. Termasuk di dalamnya kehidupan petani gurem yang merupakan bagian terbesar dari petani negeri ini.
Kondisi darurat beras yang selalu kita hadapi ini tidak terlepas dari kebijakan berasisasi yang masif dilakukan oleh pemerintah sejak pemerintahan Orde Baru hingga kini. Beras selalu ditempatkan pada posisi superior di samping jenis bahan pangan sumber karbohidrat lainnya. Akibatnya kearifan lokal konsumsi pangan yang tumbuh di masyarakat tercerabut hingga akar-akarnya.
Saat ini masyarakat Madura tidak lagi menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Masyarakat Papua tidak lagi menempatkan sagu dan umbi-umbian (hipere) sebagai makanan pokok. Masyarakat Wonogiri tidak lagi menjadikan tiwul (nasi dari singkong) sebagai makanan pokok sehari-hari. Pola konsumsi mereka telah berubah 180 derajat, semuanya telah beralih ke beras.
Berbasis Korporasi
Begitu strategisnya komoditas beras bagi bangsa Indonesia, mau tidak mau, suka tidak suka pemerintah harus mencurahkan perhatian agar beras tidak selalu menyandera kehidupan bangsa. Prioritas pertama yang harus ditempuh adalah mendongkrak produksi. Perlu evalusi secara menyeluruh terhadap sistem produksi saat ini yang lebih menekankan pada sistem produksi dengan pola peasent-based and family-based food production. Sistem produksi ini berbasis pada jutaan petani kecil dan lahan sempit tersebar di pedesaan Jawa dan luar Jawa.
Selama ini ketahanan pangan negeri ini ditumpukan pada sistem produksi ini. Pertanyaannya, mampukah sistem ini menjawab tantangan ketahanan pangan negeri ini, baik dari segi kualitas maupun kuantitas? Melihat kondisi pangan dunia saat ini yang kurang menggembirakan, sepertinya sistem produksi pangan seperti itu tidak dapat lagi dipertahankan. Karena itu sistem produksi ini sudah waktunya dipadukan dengan pola produksi pangan berbasis korporasi dan food estate.
Upaya lain yang tidak kalah penting adalah menyelamatkan kehilangan hasil pascapanen. Saat ini angka kehilangan pascapanen gabah/beras nasional masih sangat tinggi, yaitu sekitar 12 persen. Melalui gerakan ’’Selamatkan Walau Hanya Sebutir’’ maka kita dapat menurunkan angka kehilangan pascapanen tersebut menjadi 6 persen. Upaya ini dapat dilakukan dengan perbaikan penanganan pascapanen melalui mekanisasi. Jika upaya ini dapat dilaksanakan dengan baik akan dapat kita selamatkan 3 juta ton beras per tahun.
Upaya penting lainnya adalah menurunkan angka konsumsi beras masyarakat melalui program diversifikasi pangan. Apabila pemerintah mampu menurunkan angka konsumsi beras menjadi 100 kilogram/kapi-ta/tahun, maka beras yang dapat kita hemat tidak kurang dari 7 juta ton beras per tahun.
Namun ada satu hal yang harus kita cegah, jangan sampai terjadi pengurangan konsumsi beras masyarakat kemudian beralih ke terigu. Jika hal ini terjadi maka akan timbul permasalahan baru berupa ketergantungan impor terigu. Kita semua tahu terigu adalah tepung yang diolah dari gandum. Tanaman gandum adalah tanaman subtropis yang sulit dikembangkan di Indonesia secara massal.
Negara kita sangat kaya varian bahan pangan sumber karbohidrat. Terdapat tidak kurang dari 77 jenis tanaman pangan dari biji-bijian (serealia) dan umbi-umbian, dari singkong, ubi jalar, hingga jagung, hingga hermada. Namun percepatan diversifikasi pangan ini hanya dapat dilakukan jika semua komoditas tersebut telah diolah menjadi tepung (flour based food).
Saat ini komoditas yang telah banyak diusahakan adalah ketela pohon dalam bentuk modified cassava flour (mocaf) yang digunakan sebagai substitusi terigu dalam pembuatan mi dan roti. Di sisi lain produksi umbi-umbian harus digalakkan pada lahan kering untuk kemudian diolah menjadi tepung. Tanpa upaya ini akan sulit diharapkan program diversifikasi dapat berjalan cepat dan berkesinambungan.
Tidak hanya cukup di situ, program sehari tanpa nasi harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Masyarakat kita adalah masyarakat paternalistik. Karena itu, contoh dan keteladanan dari para pemimpin di semua tingkatan akan menjadi kata kunci bagi keberhasilan program ini. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar