Jumat, 09 Maret 2012

Membumikan Indahnya Kebersamaan


Membumikan Indahnya Kebersamaan
Aloys Budi Purnomo, ROHANIWAN, BUDAYAWAN INTERRELIGIUS, TINGGAL DI SEMARANG
SUMBER : SUARA MERDEKA, 9 Maret 2012



’’KAMI menghargai para ulama yang ikut mengawal Pancasila dan NKRI sebagai bentuk final negara Indonesia.’’ Penggalan kalimat ini disampaikan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Ahmad Helmy Faishal Zaini dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Jamiyah Ahl at-Thoriqoh al-Muktabaroh An-Nahdiyah di Pekalongan, 22 Februari lalu.

Saya sebagai rohaniwan Katolik, yang kebetulan bertugas sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, bersyukur bisa hadir dalam hajatan mulia itu dan duduk bersama undangan lain dari unsur pemerintah di tengah jamaah.

Kami duduk di karpet yang sama, bersama Menhan Purnomo Yusgiantoro, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Staf Khusus Presiden Bidang Publikasi dan Dokumentasi Ahmad Yani Basuki, dan Rois Aam Jamiyah Ahl at-Thoriqoh al- Muktabaroh An-Nahdiyah KH Habib Muhammadi Luthfy bin Ali bin Yahya yang sekaligus menjadi tuan rumah yang ramah.

Apa yang menarik dari peristiwa itu? Habib Luthfy, panggilan akrab KH Habib Muhammadi Luthfy bin Ali bin Yahya, sepanjang acara, setelah para pejabat pemerintah pulang, sementara hajatan mulia masih berlangsung, terus menggenggam tangan saya sambil tak henti-hentinya mengatakan kalimat ini secara berulang, ’’Alangkah indahnya kebersamaan seperti ini, Rama!’’
Saya pun menjawab mantap, ’’Abah, saya sungguh mengalami kebenaran Islam sebagai rahmatan lil alamin!’’ Beliau makin erat menggenggam tangan saya.
Bahkan di tengah-tengah lantunan shalawat itu, tak segan-segan, beliau memberikan tisu untuk mengelap wajah saya yang penuh keringat dan memberikan segelas teh yang beliau mintakan dari petugas.

Tampaknya sederhana, namun sungguh sangat istimewa bagi saya, sebagai potret kebersamaan yang indah secara lintasiman. Saya bukan satu-satunya orang Katolik yang hadir dalam kesempatan itu, sebab saya berjumpa dengan pengurus Gereja Katolik Pekalongan yang juga hadir bersama pastor Paroki Pekalongan Rama Sheko.
Gerakan akar-rumput kebersamaan untuk mewujudkan kerukunan dan harmoni seperti ini, betapa tidak akan menjadi berkat bagi masyarakat, bangsa, dan negara, bila terjadi di seluruh hamparan Nusantara ini. Kebersamaan yang indah lintas iman, lintas budaya, dan lintas etnis akan menjadi penopang keutuhan NKRI.

Komunitas Kebangsaan

Sayang, kita kerap berhadapan dengan realitas sebaliknya, bahkan tak jarang diwarnai tindakan kekerasan, baik secara internal seiman-seagama, maupun secara eksternal terhadap pemeluk agama lain. Kita sadari dengan jujur, kerentanan konflik antaragama, antarbudaya, dan antaretnis merupakan salah satu bom waktu yang bisa meledak tiap saat di negeri ini.

Saya sependapat dengan Purnomo Yusgiantoro dan Helmy Faishal Zaini pada kesempatan itu, bahwa menjaga NKRI merupakan tanggung jawab semua lapisan bangsa, baik pemerintah, ulama, maupun masyarakat. Secara khusus, kepada ulama, Helmy Faishal berharap agar mereka mendorong pemahaman Islam sebagai agama yang mengajarkan perdamaian untuk membangun persaudaraan antarumat dan antarmanusia, sebab Islam juga mementingkan persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).

Untuk menjaga keutuhan NKRI, perlu terus-menerus ditingkatkan pentingnya hidup berbangsa dan bermasyarakat sebagai komunitas. Seluruh warga bangsa ini, apa pun agama, budaya, dan sukunya, dari segala macam tempat dan zaman, kendati punya latar belakang dan sejarah berbeda, merupakan bagian dari satu tubuh yang sama, yakni NKRI.
Makin banyak komunitas yang berwawasan kebangsaan, seperti dalam Jamiyah Ahl at-Thoriqoh al-Muktabaroh An-Nahdiyah di Pekalongan, atau komunitas adat di Kalimantan Tengah yang menolak kehadiran FPI - karena dianggap beraliran garis kerasñ yang kemudian memunculkan wacana gerakan Indonesia Tanpa FPI dan Indonesia Tanpa Kekerasan yang digagas sebagian masyarakat sipil di negeri ini kian memperkuat harapan memperkokoh komunitas kebangsaan untuk menjaga NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945 sebagai pilar hidup berbangsa dan bernegara. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar