Selasa, 06 Desember 2011

Revolusi Teknologi dalam Layanan Jasa

Revolusi Teknologi dalam Layanan Jasa
Jeffrey D. Sachs, GURU BESAR EKONOMI DAN DIREKTUR EARTH INSTITUTE DI COLUMBIA UNIVERSITY
Sumber : KORAN TEMPO, 5 Desember 2011



Dalam ilmu ekonomi ada pandangan yang terkenal bahwa biaya jasa (seperti biaya layanan kesehatan dan pendidikan) cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya harga barang (seperti makanan, minyak, dan mesin). Pendapat ini tampaknya benar: orang di mana-mana di dunia sekarang ini hampir tidak mampu
membayar biaya layanan kesehatan dan pendidikan—biaya yang tampaknya
meningkat setiap tahun lebih cepat ketimbang inflasi secara keseluruhan. Tapi biaya
jasa kesehatan, pendidikan, dan jasa-jasa lainnya itu bisa menurun dengan tajam
berkat revolusi teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang berlangsung saat ini.

Biaya jasa dibandingkan dengan harga barang bergantung pada produktivitas. Jika petani lebih mahir menanam pangan, sedangkan guru kurang mahir mengajar anak didik, harga pangan bakal cenderung turun dibanding biaya pendidikan. Lagi pula proporsi populasi yang terlibat dalam bidang pertanian juga bakal berkurang, karena sekarang tidak banyak lagi petani yang dibutuhkan untuk menghasilkan pangan di seluruh negeri.

Inilah pola jangka panjang yang telah kita saksikan: pangsa tenaga kerja di bidang produksi barang telah menurun, sedangkan harga barang telah menurun pula dibanding biaya jasa. Di Amerika Serikat, sekitar 4 persen dari rakyatnya pada 1950 bekerja di bidang pertanian, 38 persen di bidang industri (termasuk pertambangan, konstruksi, dan manufaktur), serta 58 persen di bidang jasa. Menjelang 2010, proporsinya berubah masing-masing menjadi sekitar 2 persen, 17 persen, dan 81 persen. Sementara itu, biaya jasa kesehatan dan pendidikan telah melonjak bersama biaya jasa lainnya.

Tapi revolusi produktivitas di bidang jasa sekarang bisa terwujudkan. Sebagai guru besar, saya merasakan ini dalam ruang kelas saya mengajar. Sejak saya mulai mengajar 30 tahun yang lalu, tampaknya teknologi yang digunakan tidak banyak berubah. Katakan saya berdiri di depan kelas dan memberi kuliah selama satu jam. Benar, papan tulis sudah berganti dengan proyektor, dan kemudian dengan PowerPoint, tapi “sistem (dasar) produksi ruang kelas” itu tampaknya tidak banyak
berubah.

Dalam dua tahun terakhir ini, semuanya telah berubah—menuju perbaikan. Pada pukul 8 pagi setiap Selasa, kami menghidupkan komputer di Columbia University dan ikut dalam sebuah “ruang kelas global” bersama 20 universitas lainnya di seantero dunia. Seorang guru besar atau pakar pembangunan di suatu negara memberikan kuliah, sedangkan beratusratus mahasiswa mendengarkan lewat videoconferencing.

Teknologi informasi dengan drastis telah mengubah ruang kelas dan menekan biaya produksi materi pendidikan berkelas. Banyak universitas sekarang menempatkan kegiatan mengajarnya online gratis, sehingga semua orang di dunia bisa mengikuti kuliah fisika, matematika, atau ekonomi dari tenaga pengajar kelas dunia. Di Stanford University, musim gugur ini dua guru besar ilmu komputer memberi kuliah online bagi mahasiswa di mana saja di dunia; sekarang sebanyak 58 ribu mahasiswa telah tercatat mengikuti kuliah mereka.

Terobosan yang sama yang sekarang bisa dilakukan di bidang pendidikan ini bisa juga dilakukan di bidang layanan kesehatan. Sistem layanan kesehatan Amerika kesohor mahalnya, karena banyak di antara biaya utama layanan ini dikendalikan oleh Ikatan Dokter Amerika dan perusahaan-perusahaan asuransi kesehatan swasta sebagai pemegang monopoli yang melambungkan harga. Monopoli biaya seperti ini harus diakhiri.

Namun ada alasan lain tingginya biaya layanan kesehatan ini. Banyak orang menderita penyakit kronis, seperti sakit jantung, diabetes, obesitas, dan depresi serta gangguan mental lainnya. Penyakit-penyakit ini bisa menelan biaya yang tinggi jika penderita tidak mendapat perawatan dan penanganan yang baik. Banyak sudah orang akhirnya masuk ruang rawat darurat rumah sakit karena mereka tidak memperoleh advis dan bantuan untuk menjaga kondisi kesehatan mereka atau mencegah timbulnya penyakit itu sendiri.

Sekarang teknologi informasi bisa membantu mereka. Perusahaan-perusahaan yang inovatif, seperti CareMore di California, telah menggunakan ICT untuk menjaga agar pasien-pasien mereka tetap sehat dan dijauhkan dari rumah sakit. Misalnya, ketika para pasien CareMore setiap hari memeriksakan berat badan mereka pada timbangan di rumah, angka berat badan mereka itu diteruskan ke unit layanan kesehatan CareMore. Jika terjadi perubahan berat badan yang membahayakan, yang bisa disebabkan oleh gagal jantung kongestif, CareMore segera menjemput serta membawa pasien itu ke
rumah sakit untuk diperiksa dengan cepat, dan dengan demikian mencegah terjadinya
krisis yang mematikan.

Pendekatan-pendekatan yang dilakukan perusahaan yang inovatif ini menggabungkan
tiga ide. Pertama, menggunakan ICT untuk membantu individu-individu memantau kondisi kesehatan mereka, dan menghubungkan individu itu dengan dokter ahli. Kedua, memberdayakan pekerja kesehatan masyarakat memberikan layanan berbasis rumah guna mencegah timbulnya penyakit yang lebih serius dan menekan biaya dokter serta rumah sakit yang tinggi itu.

Ketiga, mengenali bahwa banyak penyakit itu timbul atau memburuk karena keadaan sosial individu yang bersangkutan. Mungkin pasien itu terpencil, seorang diri, menderita depresi, terkena PHK, atau menghadapi persoalan pribadi atau keluarga lainnya. Jika kondisi sosial ini dibiarkan tanpa penanganan, bisa timbul keadaan medis yang serius, yang memerlukan biaya penanganan yang mahal atau bahkan membawa kematian.

Karena itu, layanan kesehatan yang baik holistik sifatnya, artinya membantu orang
bukan hanya sebagai pasien yang tiba di ruang rawat darurat rumah sakit, tapi juga sebagai individu dan anggota keluarga di rumah mereka serta dalam lingkungan
masyarakat mereka sendiri. Layanan kesehatan holistik itu lebih manusiawi, efektif, dan efisien dari segi biaya. Revolusi ICT membukakan jalan menuju layanan kesehatan holistik yang baru dan ampuh.

Dalam bahasa ekonomi, ICT itu disruptive, artinya bakal memenangi persaingan melawan cara-cara yang mahal harganya yang ada sekarang. Melaksanakan teknologi
yang disruptive itu tidak mudah. Mereka yang mengenakan biaya yang tinggi, terutama kelompok monopolis yang sudah berurat berakar, akan mengadakan perlawanan. Anggaran belanja negara mungkin akan mendukung cara-cara lama yang berlaku sekarang ini.

Namun janji datangnya penghematan biaya dan kemajuan dalam penyediaan jasa sudah mendekati kenyataan. Negara-negara di dunia, kaya ataupun miskin, bakal memetik keuntungan dari percepatan inovasi di era informasi sekarang ini.
HAK CIPTA: PROJECT SYNDICATE, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar