Jual
Beli “Suara Tuhan”
Serpulus Simamora ;
Lulusan Pontifical
Biblical Institute, Roma, Italia
|
KORAN
JAKARTA, 16 Maret 2014
|
Perhelatan
memilih para wakil rakyat tinggal menunggu hari. Semua yang berkepentingan
mencoba merayu untuk memikat, menggoda, suara rakyat yang sering disebut
"suara Tuhan" itu (vox
populi, vox Dei).
Pikatan
mulai dari menggadang figur-figur cantik, terkenal, pemodal, dan nama besar
hingga cara-cara manipulatif teknik kampanye terselubung.
Segala
itu demi mengejar dan merebut kursi yang setelah didapat akan jarang
diduduki. Pemilihan umum adalah salah satu unsur demokrasi sebagai sarana
mulia memilih wakil rakyat agar dapat menyalurkan aspirasi dan mewujudkan
kedaulatan di tangan rakyat.
Suara
rakyat diklaim sebagai suara Tuhan yang mesti diemban dengan amanah dan
dedikasi. Namun faktanya, para wakil rakyat tidak menjalankannya dengan penuh
dedikasi. Wajar bila lima tahun ini banyak cercaan dan caci maki kepada
mereka.
Malahan
lembaga wakil rakyat itu ditengarai paling korup. Masyarakat makin miris
melihat perilaku yang dipertontonkan para wakil rakyat. Wakil rakyat
seharusnya nomor dua karena nomor satu atau yang lebih utama adalah orang
yang diwakili (rakyat).
Tetapi,
wakil rakyat telah menjadi nomor satu, yang paling utama dan paling berkuasa.
Rakyat perlu berteriak-teriak agar wakilnya sungguh-sungguh matang
mempertimbangkan pembelian kursi-kursi mewah, renovasi toilet yang serba wah
seharga miliaran rupiah yang tidak akan digunakan secara maksimal.
Rakyat
mesti marah dan meriang untuk melawan rancangan dana pensiun yang akan
diterima dan dinikmati, bahkan oleh wakil rakyat yang telah terbukti
terpidana korupsi.
Wakil
rakyat telah menyangkal hakikat sebagai nomor dua dan memosisikan diri
sebagai nomor satu dengan segala fasilitas kenyamanannya
(komfortabilitasnya). Mereka juga disebut anggota parlemen.
Kata
parlemen (parliament) berasal dari bahasa-bahasa neo-Latin (Prancis, Italia,
dan seterusnya): parler, parlare, yang berarti berkata, berbicara,
mengatakan, membicarakan. Anggota parlemen diharapkan berkata dan berbicara
atas nama rakyat.
Mereka
mengatakan dan membicarakan kepentingan rakyat. Sekitar 3.700 tahun silam, di
Timur Tengah Kuno, sudah ada fungsi yang mirip parlemen terdiri dari para
nabi, orang-orang terpilih yang mendapat tugas untuk menyampaikan pesan dan
kehendak Tuhan. Mereka adalah penyambung lidah Tuhan atau "mulut"
Tuhan.
Tugas
mereka adalah mengatakan kehendak Tuhan. Namun, dalam perkembangannya, banyak
muncul nabi palsu. Yang diungkapkan bukan firman Tuhan, melainkan kata-kata
manusia (penguasa).
Secara
ironis dan sarkastis diungkapkan bahwa nabi palsu berbicara ketika di
mulutnya ada sesuatu (makanan): suap! Suap berarti makanan atau memasukkan
makanan ke mulut.
Ironis
dan sarkastis karena sesungguhnya seseorang hanya dapat berbicara dan
berkata-kata dengan jelas dan terang bila di mulutnya tidak ada sesuatu!
Pertanyaannya, bagaimana dengan anggota parlemen di sini?
Salah
satu tugas utama wakil rakyat adalah membuat undang-undang. Kinerja terkait
ini sangat payah. DPR tidak pernah mampu memenuhi target legislasi yang
ditetapkan sendiri. Kualitas produk juga memprihatinkan karena banyak digugat
di Mahkamah Konstitusi
Dari Pemilih
Semua
membenci dan mengutuk politik uang. Para kontestan pemilu (pilkada,
legislatif, atau presiden) sering berikrar antipolitik uang, no money
politics! Tetapi praktiknya, masyarakat sering tergoda menjualbelikan suara.
Hukum ekonomi pasar juga berlaku dalam politik.
Tidak
ada pembeli kalau tidak ada penjual. Sebaliknya juga, tidak ada penjual kalau
tidak ada pembeli. Tidak cukup mengharapkan partai dan para kontestan bebas
dari politik uang, sementara pemilih merasa tak bersalah telah menjual suara.
Pemilih juga harus teguh menolak politik uang.
Masyarakat
harus cerdas mencermati hiruk-pikuk menjelang pemilu karena selalu muncul
"sandiwara" para tokoh yang dikemas tiba-tiba menjadi dermawan di
tengah rakyat miskin. Mereka tiba-tiba sering berada di antara rakyat jembel.
Mereka juga mendadak religius. Rakyat tidak sadar bahwa semua itu dibayar
dengan uang sehingga harga atau ongkos politik di negeri ini memang
sungguh-sungguh mahal.
Secara
rasional dan jujur, tidak mungkin biaya politik yang amat mahal tersebut
tidak mesti dikembalikan. Jual beli "suara Tuhan" terjadi ketika
nalar pemilih tidak lagi kritis. Mungkin ada yang mengklaim rakyata sudah
melek politik sehingga jual beli suara tidak mudah lagi. Namun, hal itu tidak
menjamin praktik politik uang karena manusia tidak lagi mendengarkan
peringatan suara hati sebagai vox Dei sesungguhnya.
Umat
lebih mendengarkan suara uang (vox
denarii) yang lebih gemerincing. Tentu masyarakat pernah mendengar,
"Keledai pun tidak jatuh dua kali pada lubang yang sama!" Semua
tidak puas dengan kinerja keseluruhan wakil rakyat karena hanya tidur waktu
rapat.
Bahkan
terlalu banyak kursi kosong saat sidang. Mereka lebih memikirkan dan berjuang
demi kenyamanan sendiri. Apa andil rakyat? Jangan-jangan sangat besar karena
rakyat yang memilih mereka. Mungkinkah masyarakat tertipu?
Boleh
jadi, tetapi janganjangan pemilih lebih membiarkan dan merelakan diri ditipu
ketimbang sungguh- sungguh tertipu! Mungkin sudah perlu dipikirkan suatu
mekanisme ketika pemilih yang wakilnya melanggar hukum juga diberi sanksi.
Demikian juga dengan partainya.
Jadi
yang dihukum pemilih, yang dipilih, dan partai. Dengan demikian, rakyat
diharuskan sungguh-sungguh berusaha memilih calon yang kredibel dan
berintegritas. Partai otomatis akan menyeleksi kandidatnya dengan
sungguh-sungguh, bukan asal banyak uang. Perwujudan kedaulatan dan
superioritas rakyat tinggal menghitung hari.
Rakyat
harus memilih wakil yang rela menjadi nomor dua, bukan menjadi utama.
Pilihlah anggota parlemen yang mau berbicara tentang nasib rakyat, bukan
banyak berbicara tanpa perwujudan. Cari wakil yang menghormati hukum (minimal
yang paling sederhana seperti tata tertib DPR).
Mereka harus
memperjuangkan perundang-undangan demi kemajuan kesejahteraan warga. Anggota
legislatif yang yang tidak sadar hukum hanya akan uring-uringan karena
kursinya kosong terus waktu rapat. Selain itu, anggota legislatif yang mudah
ditunggangi parasit dari luar hanya akan menghasilkan legislasi yang
menyengsarakan.
Semua
itu hanya bisa terjadi bila pemilih memberikan surat suara sungguh- sungguh
dari hati. Kalau tidak, warga hanya mengorbankan suara (vox populi) atau menjualbelikan "suara Tuhan". Jangan sampai kelak anak cucu mencemooh
dan mencela orang sekarang karena vox
Dei telah menjadi vox denarii. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar