Gejala
Paradoksal Kita
Mudji Sutrisno ;
Guru Besar STF Driyarkara & Dosen Pascasarjana
Universitas
Indonesia, Budayawan
|
KORAN
SINDO, 07 Maret 2014
|
Paradoks
adalah keadaan bertentangan entah jalan pikiran, perilaku, atau watak yang
bila ditelusuri penyebabnya secara rasional tidak akan mendapatkan jawaban
masuk akal yang tuntas.
Paradoks
hidup dan dihayati oleh kita sebagai orang maupun bangsa Indonesia yang
membutuhkan penelitian sejarah mentalitas yang menjadi akarnya (untuk mereka
yang berobsesi mengenai akar dan esensiali mengenai inti esensi). Namun untuk
yang berpikir secara akal sehat biasa atau common sense, cukup memberikan atau menuliskannya sebagai
fenomena atau gejala dalam masyarakat. Maka membeberkannya sebagai
fenomena-fenomena merupakan deskripsi dalam membahasnya.
Gejala Paradoks Pertama
Terpapar
dua macam komunikasi paradoksal, dimana yang pertama bila temu resmi atau
sidang koreksi terbuka yang pesertanya berjenjang dan tidak setara, kalau
direktur atau kepala meminta kritik terbuka pada bawahan, maka hampir semua
memuji secara baik atau bahasa security
militer-nya dikatakan aman! Namun, begitu komunikasi di luar yang resmi maka
saling membicarakan sisi negatif dan keburukan dipergunjingkan.
Fenomena
paradoksal pertama ini membagi komunikasi kita dalam dua ruang. Ruang resmi,
ya dan iya semua beres, sedang ruang tak resmi sebaliknyalah diwacanakan.
Pernah dalam sebuah sidang resmi untuk perjenjangan akademik di mana
tradisinya untuk subjek yang mau ”dipromosikan
dengan santun dipersilakan keluar ruangan dahulu”, agar koreksi dan
penilaian bisa diberikan kepada yang bersangkutan tertutup berlangsung tetapi
terjadi penyikapan untuk yang dipersilakan di luar itu menolak pergi.
Ia
beralasan agar bisa mendengar langsung siapa mengevaluasi dirinya, seperti
apa terus terang mata berhadapan mata terbuka. Paradoks terjadi karena dicari
kompromi agar sidang koreksi orang lain tetap berjalan, namun yang
bersangkutan tetap bersiteguh ingin mendengar terbuka. Hasilnya, evaluasi
baik dan baik tiada kritik saat yang dipromosikan tetap ada di ruangan.
Sementara
hasil lain yang langsung dibuat hari lain ”tanpa
kehadiran yang bersangkutan” ternyata berbeda tajam. Ruang komunikasi
harus disadari dengan budi bahwa mengalami ”hambatan” keterusterangan
manakala yang berkomunikasi tidak setara atau berjenjang.
Oleh
karena itulah, untuk sampai ke ”kebenaran fakta” yang diungkap dengan
kata-kata berdata dan bermakna benar (alias tidak bohong demi menyenangkan si
bos), jalan satusatunya untuk meng-counter-nya
adalah dengan inspeksi mendadak atau ”blusukan”: turun ke lapangan dan bukan
menunggu laporan dari dan di meja dalam rapat-rapat resmi?
Gejala Paradoks Kedua
Berhadapan
dengan yang menentukan kedudukan kerja saya atau yang menentukan ”hidup matinya”
aku entah dalam relasi kerja, relasi kuasa wewenang apalagi hubungan dengan
ekonomis, kita dengan lancar akan membuatkan senang, akan memberi pujian bila
perlu dalam ekspresi apa adanya ”menjilat pantatnya”.
Namun,
sikap itu akan berubah bila kita berhadapan dengan mereka-mereka yang tidak
menguntungkan kita atau para ”nobody”
terhadap kita. Apresiasi atau sikap hormati minimal sebagai sesama makhluk
pun kerap minimal sekali.
Penelitian
kultural salah satunya menunjuk pada sebab kolonialisme yang kini menjadi
gejala pascakolonialisme di mana akibat disubordinasi terusmenerus dan
dibatinkan bahwa si penjajah atau penguasa intelektual koloniallah yang
selalu lebih cerdas, maka apresiasi hormat menjadi vertikal ke atas ke
ungkapan ”ya tuanku” atau ”daulat tuanku”.
Oleh
karena endapan sikapsikap mentalitas merasa diri hamba, atau budak ini sudah
”kronis” dan mengendap hidup dalam bawah sadar, maka hanya pendidikan
penyadaran atau konsientisasi sebagai orang merdeka (baca: bangsa merdekalah)
yang evolutif akan mengikis paradoks kedua ini. Mengapa? Lihatlah
fenomena-fenomena di depan mata kita yang tanpa sadar maupun ”sadar”, kita
paling susah mengapresiasi hasil kerja dan prestasi anak bangsa sendiri.
Lebih mudah kita hargai, mudah dicocok
hidung kita oleh merekamereka yang atas nama modal besar, pasar makro
ekonomi, cendekiawan multidimensional. Apresiasi yang kecil bahkan
dipuncakkan dengan mengecilkan sesama dan membesarkan diri dan kepentingannya
sendiri. Tidaklah kita ingat salah satu bentuk ”kekerasan kata miskin apresiasi” saat Habibie meluncurkan
pesawat terbang dalam industrinya yang dinamai TETUKO (diplesetkan sebagai ”sing teko ora tuku, sing tuku ora teko”
artinya: yang datang tidak beli dan
yang mau beli tidak datang.
Kita
sedih menjumpainya sekaligus merasakan tragisnya fenomena paradoksal kedua
ini. Inikah yang oleh para pendiri bangsa sejak awal disadarkan pada kita
bahwa hanya melalui pendidikan mentalitas kemartabatan lah kita belajar
menjadi bermartabat dengan memulai menghargai talenta yang dipunyai
masing-masing saudara kita dan berusaha toleransi dengan menempatkan diri di
posisi mereka dan bukan mengadili dari posisi kita!
Bukankah
pendidikan budi pekerti mengajari kita di mata Tuhan sebagai gambaran- Nya
yang berharkat: pria gambaran agung-Nya dan perempuan citra ayu-Nya? Bukankah
kita-kita ini sama-sama khalifah Allah di dunia ini?
Gejala Paradoks Ketiga
Bangsa
yang ramah mudah lupa dan karena itu ”pemaaf” terhadap orang luar atau bangsa
lain. Namun, paradoksnya kita pendendam di antara saudara sebangsa,
seprofesi, sekawanan bahkan secita-cita luhur religius. Mengapa? Pertama,
kita menjadi pendendam bila harkat, derajat kita dilukai disakiti.
Dalam
siri, harkat dihina, dipermalukan maka balasannya adalah mata diganti mata
dan gigi diganti gigi. Dalam kalkulasi impas 10 nyawa dibunuh lawan maka 10
nyawa pula harus dibalaskan. Yang kedua, dendam yang sudah dihaluskan lewat
kesantunan kultural di Jawa kebudayaan Jawa dibalaskan dengan sikap
menganggap ”lawannya” tidak ada, tidak eksis lagi. Maka ia dijothak =
didiamkan tidak diajak bicara sampai impas ada pengakuan maaf bagi yang
bersalah.
Sulitnya,
keduanya bergengsi tinggi tidak merasa salah dan memandang lawannyalah yang
bersalah. Untuk kedua pertanyaan ”mengapa” di atas, sebenarnya peradaban
kasih mengampuni meski harus adil tetap forgive
but not forget yang semestinya dibawa oleh religusitas dari religireligi
keyakinan bahwa Allah adalah Sang Penghidup dan menjadi sumber life culture atau budaya kehidupan,
bisa menjadi ranah-ranah transformasi sikap pendendam ini.
Bukankah
ramah sebagai sikap hidup dan pemaaf bagi orang asing atau bangsa lain
semestinya mulai dari dalam (from
within)? Namun, sejarah dendam antara Sultan Ternate dan Tidore memang
mencatat pihak ”ketiga” yang secara licik terus mengadu dan memprovokasi
untuk penguasaan rempah-rempah. Sama analoginya secara kultural selalu
”diadu” antara Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta oleh Belanda
dengan VOCnya, padahal asal awalnya dari satu Mataram baru yang sama.
Sejarah
pemerdekaan dari transformasi mentalitas pulalah yang membuktikan bahwa kita
sampai hari ini masih terus belajar dan belajar agar ”tanah” dengan mineral
kekayaan di dalamnya serta ”air” dengan kekayaan laut di dalamnya tidak
dijual murah oleh mereka-mereka yang ramah, namun culas sehingga hari ini 85%
makanan kita berasal dari impor.
Mengenali
tiga gejala paradoksal terutama yang terakhir, dengan gagalnya setiap kali
bahasa hukum komisi rekonsiliasi dan bahasa pengakuan dengan rendah hati,
bahwa masingmasing kita adalah pelaku kejahatan kemanusiaan terhadap sesama
bangsa sehingga yang muncul di tahun politik 2014 bukannya pengakuan kita
sekaligus pelaku dan korban, namun malah rasionalisasi dan pembenaran-
pembenaran diri bersih dari dosa sejarah?
Sudah
saatnya menapaklah kita di jalan kultural rekonsiliasi dan bukan terus mendua
tampil pahlawan, padahal yang sejati sebagai pahlawan adalah mereka yang
bernama rakyat, satunya kata dan tindakan untuk mewujudkan kesejahteraan
bersama dengan keadilan dan pemerataan.
Tanpa
ini, paradoks-paradoks kita akan muncul terus di panggung Indonesia yang
seolah-olah seakan-akan ”berbagi
panggung”, padahal secara nyata saling mengerkah berebut panggung. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar