|
JALAN panjang menuju Pemilu 2014
semakin memasuki fase-fase menentukan. Selain sibuk me manaskan mesin partai
dari pusat hingga daerah, para politikus juga sibuk tebar pesona ke basis-basis
pemilih untuk memperbesar peluang kemenangan baik di pemilu legislatif maupun
pemilu presiden. Hal menarik yang menjadi sorotan publik belakangan ini ialah
pemetaan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Bagian
itu menonjol dalam perbincangan publik termasuk pada bingkai pemberitaan media
massa. Terlebih, kini SBY tak lagi bisa menjadi `petarung' untuk jabatan RI-1
dan memungkinkan partai-partai lain melakukan penjajakan serta bongkar pasang
nama ideal versi mereka.
Tipologi
capres
Saat ini, sejumlah nama
digadang-gadang sebagai bakal calon presiden. Sebut saja nama Jokowi, Prabowo,
Hatta Rajasa, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Wiranto, Mahfud MD, Megawati,
deretan nama di `etalase' konvensi Demokrat, dan sejumlah nama lain. Sebagian
di antara mereka sudah mendeklarasikan diri, sebagian lain sibuk melakukan lobi
dan negosiasi.
Jika diamati dari dimensi pro sesnya, bisa terpetakan empat
tipologi sosok capres yang berpotensi maju di 2014. Pertama, capres elite
sentral, yakni mereka yang sedari awal seolah-olah mendapat `hak khusus' secara
organisasional untuk menjadi capres partai masing-masing. Contoh figur yang
masuk tipologi itu ialah Aburizal Bakrie (ARB), Hatta Rajasa, Prabowo Subian
to, Wiranto, dan Megawati Soekarnoputri.
Saat ini mereka mengendalikan struktur utama partai da ri
pusat hingga daerah.
Penguasaan mereka atas akses otoritatif di internal partai mengharuskan elite-elite lain memberi legitimasi pada keinginan dan keputusan elite sentral itu. Bisa jadi sebagian di antara mereka tak sepenuhnya merepresentasikan aspirasi arus bawah, tetapi memelihara batasan afiliatif melalui kuasa hadiah (reward power) atau kuasa rujukan (referent power).
Penguasaan mereka atas akses otoritatif di internal partai mengharuskan elite-elite lain memberi legitimasi pada keinginan dan keputusan elite sentral itu. Bisa jadi sebagian di antara mereka tak sepenuhnya merepresentasikan aspirasi arus bawah, tetapi memelihara batasan afiliatif melalui kuasa hadiah (reward power) atau kuasa rujukan (referent power).
Menurut Dennis Gouran dalam tulisannya, The Signs of Cognitive, Affiliative and Egosentric Constraints
(1998), batasan afiliatif berarti bahwa anggota kelompok lebih memilih untuk
menahan diri daripada mengambil risiko ditolak. Pengaruh dominan Megawati di
PDIP, Prabowo di Gerindra, Wiranto di Hanura, dan ARB di Golkar menyebabkan
struktur kepartaian berada dalam afiliasi terhadap pengaruh mereka. Pencapresan
mereka nyaris tanpa kompetitor. Jika pun ada orang atau kelompok yang
berkeinginan berkompetisi dengan mereka di internal, biasanya distigmatisasikan
sebagai penyimpang dan penyebab konflik internal.
Meski demikian, sangat mungkin dari deretan nama elite
sentral tadi tidak seluruhnya jadi nyapres di 2014. Misalnya, Megawati masih
sangat mungkin mengubah peran dari aktor menjadi kingmaker dengan mendorong
Jokowi sebagai capres. Pun demikian dengan Hatta Rajasa dan ARB, bisa saja
pascapemilu legislatif mereka berhitung cermat dan mengambil opsi lain entah
sebagai calon RI-2 atau `investor politik' yang berafiliasi de ngan kekuatan
lain guna men dorong sosok lain yang lebih berpotensi mendulang kemenangan.
Kedua, capres asosiasional, yak ni figur yang lahir dari
suatu mekanisme organisasional dan biasanya akan sangat terhubung erat dengan
meka nisme pencapresan yang diselenggarakan partai pengusung. Misalnya capres
hasil konvensi. Pemilihan capres ditentukan melalui sebuah kanal pencarian yang
diinisiasi oleh partai sehingga sosok capres yang bersangkutan lebih bersifat
terseleksi, bertujuan khusus, dan asosiatif. Praktik konvensi yang sudah
melembaga dalam aturan organisasi akan memiliki daya ikat yang kuat bagi
orang-orang di struktur organisasi maupun basis konstituen partai. Jika
konteksnya pemilihan dilakukan melalui konvensi, siapa pun capres Demokrat
tentunya masuk tipe ini.
Hanya masalahnya, apakah konvensi Demokrat memiliki daya
ikat yang kuat? Tentu, akan sangat ditentukan oleh kualitas konvensi mereka
saat ini. Sebagaimana kita ketahui, konvensi Demokrat yang selenggarakan kurang
lebih delapan bulan itu terkesan hanya menjadi etalase citra politik Demokrat
daripada kanalisasi SDM terbaik partai.
Di lihat konteks politiknya, konvensi Demokrat tak berbeda
dengan Golkar di 2004, yakni penyelamatan partai dari masalah elektabilitas,
popularitas, kesukaan dan penerimaan pemilih.
Demokrat masih belum mengurusi konvensi dalam sebuah aturan
main yang menjamin regularitas penyelenggaraan mekanisme ini. Konvensi baru
semata `exit strategy' jelang Pemilu
2014. Selain itu, muncul skeptisisme banyak kalangan terhadap cara, transparansi
anggaran, dan penerimaan basis struktur partai terhadap siapa pun pemenang
konvensi. Wajar jika aroma konvensi Demokrat kurang menggairahkan banyak
kalangan meski dikemas dengan jor-joran!
Ketiga, capres figur kontekstual. Maksudnya ialah capres
potensial yang memiliki daya tarik karena kerap kali bersentuhan dengan
berbagai dinamika kekinian. Rekam jejak mereka menjadi arus utama pusaran opini
baik di media massa maupun media sosial. Figur seperti Jokowi, Mahfud MD, Jusuf
Kalla bisa kita masukkan ke tipe itu.
Mereka bukan figur sentral dalam jajaran partai, tetapi
kiprahnya masih memiliki daya tarik elektoral sehingga sangat mungkin
dipertimbangkan oleh banyak kekuatan politik yang bertarung di 2014. Masalahnya
ialah belum tentu semua figur kontekstual ini mendapatkan `kendaraan' yang pas
dan bisa menghantarkan mereka pada rivalitas RI-1. Meskipun rata-rata politisi
partai, mereka bukan pembuat kebijakan (decision
maker) sehingga harus meyakinkan figur sentral di partai masingmasing untuk
mendapatkan kendaraan.
Keempat, capres periferal yakni sosok pinggiran yang
`jeblok' dalam perangkingan persepsi publik, tidak memiliki basis kekuatan
nyata di partai politik, bukan pula orang yang memiliki basis solid di
kantong-kantong pemilih.
Meski demikian, mereka sangat percaya diri dan sejak awal
memproklamasikan diri siap menuju RI-1. Contoh tipe itu sebut saja Rhoma Irama,
Farhat Abbas, dan akan banyak lagi orang yang pede nyapres meski hanya
`penggembira' di sekeliling panggung utama persaingan.
Kekuatan pemenang
Dalam tulisan RA Dahl, Dilemas
of Pluaralist Democracy: Autonom Vs Control (1982), disebutkan bahwa
demokrasi melibatkan dua variabel, yakni kontestasi dan partisipasi. Tentu,
pemilu sebagai instrumen penting demokrasi idealnya bukan semata-mata
menunjukkan wajah pongah kontestasi politik elite, melainkan harus memberi
impresi dan mam pu mengge rakkan partisipasi politik warga biasa.
Sebelum pencapresan, sebaiknya kita membaca dinamika pemilu
legislatif yang menyokong capres dan cawapres. Butuh konsistensi dan
persistensi partai untuk mempertahankan eksistensi mereka di pemilu sekalipun
partai bersangkutan memenangi pemilu sebelumnya.
Sebagai gambaran, pada Pemilu 1999 Golkar meraih 22,4%, Pemilu
2004 turun menjadi 21,58%, dan Pemilu 2009 hanya 14,45%. Begitu pun yang
dialami PDIP yang menjadi petahana seusai memenangi Pemilu 1999 dengan
mengantongi 33,74%. Di Pemilu 2004, suara PDIP turun menjadi 18,53% dan di
Pemilu 2009 hanya 14,03%.
Artinya, menjadi petahana bukanlah jaminan mudahnya
memenangi kontestasi. Demokrat juga berpotensi kalah telak di Pemilu 2014.
Pertarungan capres memang sedikit berbeda karena biasanya
aspek figur sangat menentukan. Misalnya dalam kasus Demokrat di Pemilu 2004,
meski partai nya hanya memperoleh suara 7,45% atau 57 kursi dari 550 kursi yang
disediakan di Senayan, SBY ternyata terpilih sebagai capres pemenang pemilu.
Rivalitas 2014 diprediksi akan menjadi arena pertarungan
sengit karena setiap capres memiliki peluang sama untuk mengapitalisasi sumber
daya mereka di tengah ketiadaan figur yang benar-benar kuat seperti SBY di
Pemilu 2009. Memang ada tren pergeseran persepsi publik tentang sosok calon
pemimpin ke depan. Jika kemenangan SBY di 2004 dan 2009 lebih karena kesuksesan
pencitraan politik melalui berbagai simulasi realitas, kini calon pemimpin yang
diharapkan adalah problem solver dan
pengambil risiko yang diharapkan menjadi antitesis dari gaya kepemimpinan SBY
yang nyaris tak menghasilkan banyak perubahan.
Situasi sekarang secara faktual melahirkan disonansi
kognitif yang kian meluas di masyarakat.
Leon Festinger dalam buku lawasnya, A Theory of Cognitive Dissonance (1957), menyebutkan disonansi
kognitif sebagai perasaan tidak nyaman yang disebabkan oleh sikap, pemikiran,
dan perilaku yang tidak konsisten. Kian hari harapan untuk perubahan kian
menipis, sebaliknya tingkat disonansi (magnitude
of dissonance) meningkat pesat. Kondisi itu memunculkan harapan adanya
sosok baru pembawa perubahan bagi bangsa ini. Bukan lagi sosok pesolek yang
hanya pandai berwacana dan bersenandung perubahan tanpa rekam jejak memadai
untuk menjadi pemimpin asketis, transformatif, dan komunitarian.
Pada akhirnya, kita berharap siapa pun yang akan maju ke
gelanggang pertarungan 2014 adalah mereka yang pandai mengukur diri. Pantaskah
mereka maju dengan modal sosial dan modal politik yang mereka miliki selama
ini?
Jangan hanya semata-mata ka rena `syahwat' berkuasa dan egoisme pribadi mereka
lari tunggang langgang ke medan perang, meski rasionalitas dan hati mereka
mengatakan rakyat sama sekali sudah enggan bahkan muak berpaling kepadanya
apalagi memilihnya di bilik suara! ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar