Kamis, 26 September 2013

Membangun Budaya Bangsa

Membangun Budaya Bangsa
Putera Manuaba ;  Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
SUARA KARYA, 25 September 2013


Jika ilmu pengetahuan dapat membuat kita tak lumpuh, agama membuat kita tahu moral, sedangkan budaya dapat membuat kita menjadi arif bijaksana.

Pidato BJ Habibie yang menekankan pentingnya tiga sinergi untuk memajukan bangsa, yakni budaya, agama, dan ilmu pengetahuan, menarik untuk dicermati. Pidato yang disampaikan ketika menerima anugerah penghargaan tertinggi Diaspora Award dari Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam closing ceremony Kongres Diaspora Indonesia II di Jakarta Convention Center (JCC), baru-baru ini memandang penting memajukan budaya selain memajukan agama dan ilmu pengetahuan.

Selama ini untuk menuju kemajuan bangsa, hanya ilmu pengetahuan dan agama yang dipandang penting. Bahkan, ada ungkapan yang mendunia yang kerapkali diucapkan yang terdiri hanya dua, yakni ilmu pengetahuan dan agama. Seringkali dikatakan: ilmu pengetahuan tanpa agama akan buta, dan agama tanpa ilmu pengetahuan akan lumpuh. Dan, baru kali ini ada pengakuan dari seorang tokoh yang juga menyebutkan bahwa budaya itu merupakan salah satu bagian penting.

Memang benar apa yang dikatakan BJ Habibie, budaya itu merupakan bagian yang tak bisa diabaikan. Sebab, jelas-jelas budaya itu adalah bagian yang melekat pada manusia. Tanpa budaya, manusia tidak akan dapat survive.

Peter Berger, seorang sosiolog kontemporer, menyatakan bahwa manusia harus membangun dunianya sendiri agar dapat survive dalam kehidupannya di dunia. Manusia dibedakan dengan makhluk Tuhan lainnya, yang tak memerlukan budaya, yakni: makhluk yang bernama tumbuhan dan hewan. Hanya manusialah yang perlu budaya, yang hidupnya perlu berbudaya.

Jika budaya itu merupakan sesuatu yang dibangun manusia sejak dini, maka budaya itu memerlukan langkah pembiasaan sejak dini pula. Budaya yang terbangun dalam setiap diri manusia sejak dini itu akan menandai kepribadiannya, apakah seseorang mengembangkan pribadi yang baik atau tidak.

Bangsa ini tentu saja membutuhkan pribadi-pribadi yang baik. Itu artinya setiap anak bangsa ini harus membangun budaya yang nantinya berguna bagi dirinya sendiri, orang lain, masyarakat, negara, dan juga seluruh umat manusia di dunia. Budaya itu akan amat menentukan kondisi masyarakat yang dibangun.

Selama ini pembangunan budaya itu hanya dipandang sebagai pelengkap saja. Oleh karena itulah, bangsa yang seharusnya dihuni oleh orang-orang yang berjiwa budaya baik, harus selalu dikhtiarkan. Sebuah bangsa yang anggota masyarakat bangsanya dipenuhi dengan orang-orang yang berjiwa budaya baik, tentu saja akan sangat menentukan kualitas sebuah bangsa. Jangan sampai bangsa ini semakin banyak dihuni oleh orang-orang yang tak punya budaya baik. Jika ini terjadi, tentu saja bangsa sulit untuk mencapai kemajuan bangsa.

Untuk itu, pembangunan budaya, yakni budaya baik, perlu dilakukan secara terencana dan sistemik. Jangan sampai bangsa ini dipenuhi oleh orang-orang yang tak punya budaya baik. Dikatakan demikian, karena sekarang ini, memang terdapat gejala yang semakin menguat ke arah itu. Orang-orang semakin banyak meninggalkan budaya baiknya, lalu melakukan tindakan budaya yang sebetulnya tak dibenarkan oleh anggapan umum dan bahkan dirinya sendiri.

Namun, di tengah bangsa ini, orang-orang yang memiliki kebiasaan melakukan tindakan korup, suap, narkoba, kekerasan dalam berbagai bentuk, dan seterusnya, secara langsung dan tak tersadari terjadi pembangunan budaya yang tak baik. Dan, jika budaya ini mengalami pembiaran terhadap merebaknya budaya tak baik, tentu bangsa ini akan semakin mundur.

Jika menginginkan bangsa kita menjadi bangsa yang maju, kita semua harus berkomitmen untuk membangun budaya baik dalam setiap individu. Budaya baik ini akan dapat dikembangkan dengan baik dalam masyarakat kita, jika terjadi pengelolaan terus-menerus tentang pembangunan budaya ini. 

Membangun budaya, dengan demikian, bukan sekedar sebagai suatu yang diwariskan oleh leluhur kita. Namun, kita semua harus mengusahakan agar dalam setiap diri individu masyarakat bangsa ini tertanam dan terbina watak budaya bangsa yang baik.

Strategi yang paling jitu adalah adanya kesadaran dan kemauan inklusif untuk membangun budaya baik. Dengan kata lain, dalam setiap individu anggota masyarakat bangsa terdapat self regulation untuk membangun budaya baik itu. Dan, jika masyarakat bangsa kita dipenuhi oleh individu-individu masyarakat bangsa yang berbudaya baik, niscaya bangsa ini akan mengalami kesejahteraan dan kebahagiaan.

Self regulation itu merupakan kesadaran diri penuh setiap individu manusia untuk senantiasa mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik. Dalam tindakan dan aktivitas sehari-hari, lebih mengikuti budaya baik, dan bukan budaya buruk seperti tindakan korupsi dan suap. Artinya, setiap individu manusia di tengah bangsa ini harus sadar diri untuk senantiasa melakukan budaya baik.

Akhir kata, semoga kita semua berpihak pada budaya baik, mengamalkan budaya baik, sehingga bangsa kita akan menjadi baik. Pernyataan BJ Habibie itu sungguh benar, bahwa ilmu pengetahuan, agama, dan budaya itu harus dijadikan sebagai sesuatu yang penting. Jika ilmu pengetahuan dapat membuat kita tak lumpuh, agama membuat kita tahu moral, sedangkan budaya dapat membuat kita menjadi arif bijaksana. Budaya bangsa yang baik itu, harus kita bangun dan kita kembangkan agar bangsa kita ke depan menjadi semakin baik. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar