Senin, 05 Maret 2012

Sistem Pembayaran dan Internet Banking

Sistem Pembayaran dan Internet Banking
Achmad Deni Daruri, PRESIDENT DIRECTOR CENTER FOR BANKING CRISIS
SUMBER : SINDO, 5 Maret 2012



Investasi internet bankingdi perbankan Amerika Serikat (AS) telah membantu pulihnya perekonomian AS dari krisis tahun 2008 yang lalu. Sementara itu, tangguhnya perekonomian Indonesia dan India dalam menghadapi krisis ekonomi juga berkat peran internet banking yang memperkokoh pasar domestik.

Teknologi internet telah membuka cakrawala bisnis yang sangat luas bagi masyarakat dunia. Peran teknologi dalam evolusi perbankan dan sistem pembayaran sangatlah besar. Sementara transaksi perdagangan mata uang dunia yang tumbuh secara eksponensial tidak dapat dilepaskan dari peran teknologi,termasuk internet, dalam sistem pembayaran dunia.

Pergerakan modal antarnegara yang semakin meningkat juga tak lepas dari pengaruh teknologi dalam payment. Global imbalances yang oleh AS dianggap sebagai kambing hitam dari krisis perekonomian dunia juga tak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi perbankan dan sistem pembayaran.

Sistem pembayaran dan internet banking ternyata semakin mempercepat terjadinya ketidakseimbangan global tersebut. Untuk itu perlu dilakukan assessment teknologi agar dampak negatif atau risiko bagi sistem pembayaran tetap dapat diukur dan dikendalikan secara cermat.

Secara klasik Coates (1976) mengatakan: “A type of research that sistematically analysis the possible effects on society on the introduction, expansion or modification of any specific technology, and in which particular stress is given to study the unexpected, indirect and retarded consequences of such technology.

Dengan demikian ketidakseimbangan global sebetulnya luput dari proses penilaian teknologi seperti yang dikatakan Coates tersebut. Teknologi internet telah menjadi platform bukan saja pada sistem pembayaran, tetapi juga sistem lain yang lebih luas seperti sistem produksi. Untuk itu sistem ini harus dilembagakan sehingga fungsi penilaian teknologi dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Lembaga pencipta pasar harus eksis agar sistem pembayaran dapat dijalankan secara nyata. Kelembagaan kedua yang harus eksis adalah lembaga regulasi pasar. Harus ada yang menjamin regulasi sistem pembayaran. Sistem ini tidak dapat dilepaskan kepada pasar.Terbukti self regulatory organization gagal dalam mengantisipasi krisis keuangan di Amerika Latin,Asia,AS, dan Uni Eropa.

Selanjutnya kedua lembaga tersebut juga harus memiliki lembaga yang menjamin stabilitas pasar, misalnya bank sentral. Dalam kasus Uni Eropa bahkan diperlukan intervensi IMF dan penciptaan dana jaminan oleh negara-negara Uni Eropa. Dalam era globalisasi yang didukung teknologi, sistem pembayaran,dan internet banking, terbukti sangat diperlukan adanya lembaga penjamin stabilitas pasar ini.

Dunia sebetulnya tengah kebingungan dalam memaparkan kedua lembaga terakhir ini. Bahkan Fukuyama yang selama ini getol mengatakan bahwa negara democratic liberal sebagai negara yang unggul mulai mengatakan bahwa ideologi Konghucu sebagai ideologi unggulan.Artinya,kelembagaan pasar dari sistem pembayaran harus belajar dari sistem perekonomian China.

Kelembagaan terakhir yang harus ada dengan demikian adalah lembaga yang mampu menciptakan legitimasi. Artinya kebijakan moneter, fiskal, dan neraca pembayaran harus efektif dalam menciptakan pembangunan ekonomi yang netral dari krisis keuangan yang terjadi di negara lain. Di sinilah peran sistem pembayaran dan internet banking untuk merangsang permintaan domestik semakin diperlukan.

Furst,Lang,dan Nolle (2000) mengidentifikasi perbedaan kunci antara internet bank dengan non-internet bank di AS, yaitu: ”Within size classifications, banks that offer Internet banking have higher concentrations in business and credit card loans, rely less on deposits relative to purchased funds, and have higher ratios of noninterest income to net operating revenue. Taken together, these characteristics indicate that internet banks are less reliant on traditional banking activities and take a more aggressive business posture relative to non-Internet banks of similar size.”

Tren ini dapat terjadi di mana saja, termasuk Indonesia, di mana keuntungan perbankan di negara maju seperti AS juga meningkat dengan adanya internet banking. Untuk itu pemerintah dapat memperluas jangkauan internet dalam masyarakat sehingga agresivitas mereka seiring dengan keuntungan yang mereka peroleh.

Kapasitas pengiriman data dalam internet harus diperbesar seperti yang dimiliki Korea Selatan. Dengan demikian investasi infrastruktur bukan lagi hanya berbicara dalam konteks pembangunan jalan,bandar udara, dan pelabuhan. Di negara berkembang seperti Pakistan, terbukti teknologi ini memberikan keuntungan bagi perbankan.

Sumra dan Abbas (2011) mengatakan: “The results show that e-banking has increased the profitability of banks; it has enabled the banks to meet their costs and earn profits even in the short span of time.The illiteracy of customers is not regarded as a major impediment in provision of their products and services.” Harga saham adalah refleksi dari informasi di masa depan. Internet mempercepat terbentuknya informasi tersebut.

Tidaklah mengherankan jika bank sentral AS mulai melakukan forecasting tingkat suku bunga untuk beberapa tahun ke depan. Bukan hanya semata-mata untuk tujuan transparansi, tetapi lebih dari itu untuk menjangkar ekspektasi publik itu sendiri. Sistem pembayaran melalui internet banking akan mampu memberikan likuiditas bagi perekonomian daerah.

Transaksibisnisjugaakanmeningkat dengan sendirinya.Pergerakan modal menjadi lebih seimbang, dampak kesejahteraannya pun menjadi lebih merata.Selain itu informasiasi metric yangberupa adverse selection bias dan problem moral hazardjuga dapat diminimalisasi dengan teknologi komunikasi dan informasi.Intermediasi keuangan di Indonesia akan semakin efisien dan efektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar