Tantangan
Kebangsaan
Benny Susetyo ;
Budayawan
|
SUARA
MERDEKA, 15 Maret 2014
|
NASIONALISME
Indonesia adalah buah interaksi antara kesadaran subjektif golongan
masyarakat dalam membayangkan "kita" (Indonesia) dan
"mereka" di satu pihak; dan kondisi objektif sosial-politik dalam
kurun tertentu yang berkembang di masyarakat, di pihak yang lain. Namun, kita
perlu memperhatikan mengingat kemunculan berbagai wacana mengenai pentingnya
pemupukan kembali kesadaran atas nasionalisme.
Apakah
nasionalisme kita telah merosot atau mengalami pergeseran seiring dengan
mekarnya globalisasi dan kerja sama internasional? Bagaimana seharusnya
nasionalisme diisi pada masa kini? Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU)
memperingati hari lahir ke-88 Nahdatul Ulama (NU) dengan menggelar tasyakuran
bertema ’’Setia Menjaga NKRI’’.
Nahdlatul
Ulama adalah organisasi masyarakat terbesar di Indonesia. Karena itu,
pemikiran tentang kepemimpinan dan arah ke depan organisasi tersebut pun
menjadi bahan pembicaraan umum yang menarik. Sebagai organisasi terbuka dan
berpaham pluralis, kontribusi NU tak lagi hanya bagi warga nahdliyin tapi
juga bagi bangsa ini. Organisasi itu merupakan aset bangsa yang memiliki
kontribusi besar bagi pembangunan peradaban Indonesia.
Karena
itu, tak ada lagi alasan untuk menolak NU sebagai bagian utama bangsa ini,
untuk menggerakkan, mendorong, dan mengontrol Indonesia, serta menjadikannya
sebagai rumah bersama. Pengumandangan gerakan moral secara nasional beberapa
waktu lalu menyedot perhatian menegani peranan ormas seperti NU.
Masyarakat
bisa melihat bagaimana ormas itu turut berkontribusi menciptakan Indonesia
yang bersih dari korupsi. Ia menjadi garda depan gerakan itu hingga kini. Pandangannya
bahwa agama adalah kekuatan utama perdamaian, penolakannya atas penyerbuan AS
ke Timteng, keikutsertaannya membendung paham terorisme, merupakan sedikit
dari banyak kontribusi yang penah diberikan.
Visi ke
depan arah dan kepemimpinan PBNU dinilai memiliki peran dalam menentukan dan
membawa bukan saja gerbong NU melainkan juga secara lebih luas lagi.
Mengembalikan peran NU untuk kembali memperkuat basis warganya dibanding
keterlibatannya secara aktif dalam politik pragmatis saat ini menjadi perdebatan
hangat. Tentu menjadi pemikiran bersama bahwa orientasi sesaat acap tak
pernah menguntungkan dalam jangka panjang. Terlebih bila tidak dilandasi
sikap idealis yang tegas dan visioner.
Di luar,
semua kelompok masyarakat, sebagaimana halnya NU, menghadapi persoalan tidak
ringan. Kemelut dan kolaborasi pemegang kekuasaan dengan pemilik modal
terbukti paling sering menjadikan rakyat kecil sebagai korban. Rakyat kecil
acap dijadikan alasan peningkatan kesejahteraan, walau kenyataannya justru
mereka jadi korban di tengah keserakahan dan keangkuhan segelintir elite.
Persoalan
itu sudah disadari bersama sebagai persoalan utama. Terlampau banyak
kebijakan yang berorientasi bukan kepada rakyat kecil. Rakyat kecil tertindas
oleh kebijakan yang seolah-olah pro-poor, namun kenyataannya membelenggu.
Dalam konteks itu, kita semua, sebagai
anak bangsa, harus hidup dan berjuang supaya keselamatan dan kesejahteraan
masyarakat tetap diprioritaskan.
NU
memiliki tugas menjadi penyeimbang dua arus besar dewasa ini, politik yang
dikelola tanpa nurani dan kapital yang ingin menggelembungkan dirinya.
Nahdliyin juga diharapkan sebagai wadah kembali bertemunya anak-anak bangsa,
yang masih memiliki harapan keterwujudan Indonesia sebagai rumah bersama.
Keadaban Publik
Artinya,
tempat anak-anak bangsa bertemu dan merumuskan gerakan kesadaran masyarakat
dalam mengembangkan keadaban publik. Setidak-tidaknya isu inilah yang bisa
menjadi pemikiran bersama untuk mendorong NU sebagai organisasi, yang mampu
mengembangkan wawasan keimanan Islam sebagai rahmat bagi semua. Organisasi
sosial kemasyarakatan yang didirikan dalam kekokohan tradisi ini bisa menjadi
cermin kebangsaan.
Cita-cita
untuk menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama, akan membuat kalangan
minoritas merasa nyaman berkehidupan sekaligus bekerja sama. Toleransi
keagamaan merupakan pangkal pokok yang bisa kita lihat dari NU, dan bahkan
kini menjadi saripati gerakan kaum mudanya di berbagai daerah. Tidak perlu
lagi menjelaskan bahwa NU merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai.
Pandangan keagamaannya menjadi jangkar yang dapat mengokohkan bangsa ini.
Tak
melebih-lebihkan pula bila NU dalam sejarahnya mampu berperan sebagai
kekuatan sosial berbasis agama dengan visi kebangsaan yang kokoh. Salah satu
momentumnya adalah tahun 1984 ketika menyatakan bahwa NKRI adalah final, dan
Pancasila menjadi dasarnya. Hal itu dapat dilihat sebagai perkembangan yang
tak ternilai harganya.
Karena
itu, tantangan terbesar bangsa ini, sebagian besar juga menjadi tantangan NU,
sebagai pilar kebangsaan. Kemiskinan, pengangguran, KKN, radikalisme agama,
demokratisasi merupakan isu-isu pokok kebangsaan yang butuh sentuhan khusus
dengan dasar pandangan plural, sebagaimana dimiliki NU. Perlu kembali
memperkuat berbagai gerakan pengokohan masyarakat sipil demi pemulihan
kembali kesadaran hidup bermoral dan bermartabat.
Beberapa
hal yang bisa didiskusikan dalam konteks ini adalah bagaimana supaya NU tetap
bisa menjadi garda depan dan mengajak semua komponen bangsa ini untuk menjadi
agen perubahan yang mampu menjadi jangkar kehidupan bangsa ini. Selain itu,
tetap menjaga roh pluralisme dan keindonesiaan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar