Pemberdayaan
Wisata Geologi
S Djatmiko Hadi ;
Alumnus Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro
|
SUARA
MERDEKA, 17 Maret 2014
|
Ingin
melihat Langkawi Geopark? Tak perlu ke Malaysia. Ingin menyaksikan
Yellowstone National Park? Tak perlu ke Wyoming, AS. Cukuplah ke
Karangsambung, Kebumen. Anda bisa menyaksikan cagar alam geologi seluas
22.000 ha yang diresmikan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono pada 14 November 2006 dan kini dikelola Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), dalam hal ini Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai
Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung (BIK3).
Cagar
Alam Geologi Karangsambung di Kecamatan Karangsambung, atau 19 km utara
pusat kota Kebumen, adalah kawasan batuan purba terlengkap di Indonesia.
Dari tempat itu, masyarakat secara visual bisa melihat sejumlah singkapan
(outcrop) yang menceritakan keterbentukan Pulau Jawa.
Keindahan
Karangsambung tak kalah dari Langkawi Geopark dan Yellowstone National Park.
Bahkan, mengutip tulisan Gregorius Magnus Finesso dalam media online pada 12
November 2012, Karangsambung ibarat kotak hitam (black box) bagi segala
proses alam semesta yang memiliki banyak kelebihan.
Salah
satu kekayaan utama cagar alam geologi ini adalah batuan metamorf sekis mika
di Kali Brengkok. Batuan mineral mika ini berkilau bila tertimpa sinar
matahari. Batuan tertua ini tersingkap dan menjadi pembentuk fondasi Pulau
Jawa. Pengukuran dengan radioaktif menunjukkan batuan ini berumur 121 juta
tahun, dari zaman kapur.
Fenomena
geologi lain yang tersingkap di kawasan yang secara geografis membentang di
Kebumen, Banjarnegara, dan Wonosobo ini adalah situs batu rijang dan lava
basal berbentuk bantal di Kali Muncar. Batuan sedimen ini terbentuk di dasar
samudera purba 80 juta tahun lampau.
Mengapa
Karangsambung tak setenar Langkawi Geopark dan Yellowstone National Park?
Ibarat batuan, barangkali karena Karangsambung belum ’’digosok’’, sementara
dua taman geologi lainnya sudah dipoles. Inilah tantangan bagi pemerintah
pusat, Pemprov Jateng, dan Pemkab Kebumen.
Presiden
SBY tak cukup hanya meresmikan objek wisata geologi ini, tetapi lebih dari
itu adalah memberdayakannya, baik melalui LIPI, Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian ESDM,
bahkan Kementerian PU untuk membuat insfratruktur jalan sebagai akses utama.
Akses jalan ke dan dari cagar alam tersebut belum memadai.
Sinergitas Pengelolaan
Bisa
pula memadukannya dengan objek wisata edukatif di Yogyakarta seperti Candi
Prambanan Yogyakarta, Candi Borobudur Magelang, dan wisata karst di Gombong
selatan menjadi tujuan wisata terpadu. Apalagi saat ini sudah tersedia
fasilitas pendukung seperti penginapan, asrama, perpustakaan, dan bengkel
kerja kerajinan batu mulia.
Tak
kalah penting, pemerintah harus mengendalikan penambangan liar pasir dan batu
di sepanjang Kali Luk Ulo, sungai terbesar di Kebumen. Cagar Alam Geologi
Karangsambung, sebagai kawasan yang dilindungi, tergerus erosi akibat
penambangan pasir liar di hulu Kali Luk Ulo. Penambangan pasir itu
mempercepat laju air, sehingga mempercepat erosi tebing sungai yang merupakan
batuan purba.
Padahal
sepanjang tahun, di lokasi ini mahasiswa geologi dari berbagai universitas di
Indonesia praktik lapangan memetakan dasar geologi. Penambang pasir bisa
dialihkan profesinya menjadi tenaga pengelola Cagar Alam Geologi
Karangsambung, seperti harapan SBY saat meresmikan objek wisata ini.
Masyarakat
setempat akan memperoleh manfaat sehingga mereka terlibat langsung dalam
upaya melindungi kawasan geologi dengan nilai-nilai kearifan lokalnya. Dengan
begitu, masyarakat bertindak sebagai pengawal untuk melindungi cagar alam
geologi di daerahnya.
Pengelolaan
cagar alam pun memerlukan badan atau lembaga khusus yang mengatur
pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangannya. Pengelolaan Cagar Alam Geologi
Karangsambung tak bisa hanya menyerahkan kepada UPT BIK3 LIPI yang
kewenangannya terbatas. Pemerintah perlu membentuk badan khusus yang akan
melibatkan semua unsur, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar