Rumah
Aspirasi Rakyat
Mohamad Sobary ;
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia,
untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
|
KORAN
SINDO, 16 Maret 2014
|
Ada
sebuah buku baru, terbitan Gramedia, Jakarta. Judulnya menimbulkan
pertanyaan: Say No, Thanks. Apakah
gerangan yang harus ditolak di sini?. ”No,
thanks” itu bahasa penolakan. Atau tanda kita tak mau menerima suatu
tawaran.
Sifatnya
bukan sekadar ungkapan jiwa bahwa kita tak mau menerimanya karena sudah
cukup, melainkan karena kita tak memerlukannya sama sekali. Terkesan, ada
sikap alergi, dan kita tak ingin diganggu oleh apa yang ditawarkan orang lain
pada kita. Penulisnya Fahira Idris, dibantu dua temannya. Subjudulnya
dimaksudkan untuk memberi penjelasan terhadap judul tadi: ”Wujudkan Mimpimu, Jauhi Dia”. Tapi
penjelasan ini malah membuat kita bertanya lebih lanjut, dan bukannya membuat
kita merasa telah memperoleh penjelasan yang kita inginkan.
Di
sampul belakang, pelan-pelan kita memperoleh penjelasan, mengenai apa yang
harus kita tolak tadi, dan apa yang harus kita jauhi sebagai langkah
mewujudkan mimpi kita, yang sudah disebut di atas: ”Wow, ini buku bukan hanya keren, tapi keren banget. Ngejelasin
bahaya miras dengan cara yang menyenangkan. Anak muda dan anak tua kudu baca
nih buku”.
Satu
pujian lagi, penting dikutip di sini: ”Terima kasih Uni. Itu yang ingin saya
ceritakan setelah baca buku ini. Disajikan dengan bahasa yang detail dan menarik.
(Tidak kaku, penuh animasi, anak muda banget). Sekarang mengertilah kita apa
yang dimaksudkan oleh penulis buku ini.
Fahira,
panggilannya Ira, orang baru. Di dunia penulisan buku, kira-kira ini buku
pertamanya. Apakah dia ingin mengembangkan karier sebagai penulis? Penulis
buku-buku sastra? Atau buku-buku kesenian lainnya? Atau buku ilmiah? Tidak.
Kelihatannya bukan itu karier yang dituju. Dia pelaku bisnis. Kali ini ingin
menapakkan kaki di dunia politik. Buku ini ada hubungan dengan langkah politiknya.
Melawan
minuman keras (miras), bagi Ira, merupakan langkah politik yang tepat, dan
relevan buat perbaikan kehidupan masyarakat kita. ”Langkah politik?” ”Ya, itu
”langkah politiknya”. Boleh juga, demi kejelasan, dia melawan miras sebagai
program nyata, yang ditawarkan pada masyarakat, buat menandai komitmen
politiknya.
Dia
memasuki wilayah politik, untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
dari DKI Jakarta, dengan ajakan pada masyarakat, untuk bersama- sama melawan
miras yang berbahaya bagi kesehatan manusia, kesehatan masyarakat kita. Ini
tokoh baru, wajah baru, yang baru kali ini tampil, tapi strategi dan cara
berpikirnya bukan baru. Ini langkah politik orang yang sudah matang, dunia
dalamnya, baik jiwa, pemikiran politik, dan dasar filosofinya, sudah tertata.
Banyak
tokoh, calon ini, calon itu, bahkan calon presiden, yang tampak tidak siap.
Secara programatik kelihatan tidak menguasai persoalan bangsa dan negara
kita. Dan dengan sendirinya tidak tahu bagaimana memilih atau menentukan
prioritas. Secara jiwani, tidak matang. Secara intelek, tidak terlatih
berpikir konsepsional. Fahira siap. Dia sudah mendirikan apa yang disebutnya
”Rumah Damai Indonesia” sejak tahun 2010, tempat ngumpul berbagai komunitas,
untuk mempelajari persoalan-persoalan Jakarta. Rumah itu juga disebut ”Rumah
Aspirasi Rakyat”, terletak di Jln H Saabun No 20, Jati Padang, Jakarta
Selatan.
Ira
sudah belajar satu hal baru: miras, sejarahnya, peredarannya, bahayanya. Dia
tak ingin bangsa ini ditelan mentah-mentah oleh miras. Dia tak ingin kita
tenggelam dalam tsunami miras yang mengerikan. Programnya jelas. Nyata.
Konkret. Tak diperlukan teori-teori. Tak diperlukan filsafat yang
ruwet-ruwet. Pendeknya, dia memilih program nyata, bisa dilihat, bisa dirasakan.
Sekali lagi, rakyat dilibatkan. Dan itulah bekalnya memasuki dunia politik.
Pemerintah sibuk mengatur kematian
keretek dan usaha membunuhnya dengan hukum, seolah-olah pembunuhan itu
legal, tapi terhadap miras, yang lebih berbahaya, pemerintah tak peduli.
Terhadap ancaman berbahaya ini pemerintah tidur, dan diam seribu bahasa.
Para
calon ini, calon itu, yang disebutkan diatas, hendak tampil sebagai pemimpin
dalam masyarakat, dengan landasan pemikiran atau gagasan filosofis dan
teoretis: ”akan”. Dengan langkah: ”akan”. Dan program: ”akan”. Ringkasnya,
mereka ”akan begini””akan begitu”. Kalau saya terpilih, saya ”akan”. Fahira
telah melakukannya. Dan bahasa komunikasi politiknya jelas: ”saya telah
melakukan sesuatu”, dan sesuatu itu penting untuk menjadi komitmen politik
saya, karena saya akan mencalonkan diri menjadi anggota DPD DKI.
”Apa
sebenarnya yang dilakukan Ira?” Dia membuat langkah kebudayaan yang menarik.
Ini merupakan langkah kebudayaan sebagai jawaban atas persoalan-persoalan
moral di dalam masyarakat kita. Miras sebagai persoalan moral, tak bisa
diserahkan semata pada agama, dan para tokoh agama, yang akan memandangnya
dari sudut hukum agama, halal atau haram. Ini bukan lagi persoalan diskursus
moral, melainkan persoalan sikap, cara pandang, dan tingkah laku sehari-hari
dalam masyarakat kita, yang makin kering dan makin tandus. Dengan kata lain,
ini urusan kebudayaan.
Tokoh
muda ini putri Dr. Fahmi Idris, yang tak banyak bicara, tapi bekerja,
bekerja, dan terus-menerus mewujudkan gagasan idealnya lewat kerja itu.
Seperti sang ayah, Ira juga orang bisnis, yang melebarkan sayapnya ke dunia
politik. Dunia pesantren memiliki banyak contoh mengenai cara menempuh
langkah kebudayaan untuk menghadapi persoalan halal-haram seperti ini. Ira
sendiri belum punya pengalaman sebelum ini. Tapi intuisinya yang
terang-benderang membawanya ke arah ini. Tanpa banyak cakap.
Tanpa
banyak diskusi. Kita telah belajar dari pengamatan dalam dunia pemikiran,
bahwa gagasan-gagasan besar, di bidang teori dan filsafat, yang dimaksudkan
untuk menjawab persoalan-persoalan kemasyarakatan tertentu, nasibnya hanya
akan mengambang di udara, seperti burung-burung liar, jika kita tak mampu
melengkapinya dengan sangkar, untuk menjadi ”rumah” baginya.
Sangkar
itu adalah instrumen-instrumen praktis, sebagai petunjuk cara memainkannya
dalam bahasa program, bahasa tindakan, yang diperlukan di dunia nyata, dalam
hidup kita sehari-hari. Yang datang pada kita bukan renungan teori maupun
filsafat, melainkan persoalan-persoalan sederhana, yang tak bisa diselesaikan
dengan cara lain, selain dengan program, program dan program. Teori dan
filsafat hanya baik, dan bisa ”berbunyi”, jika keduanya bisa dibikin praktis
untuk kepentingan manusia dan lingkungan di sekitarnya. Ira tahu menjawab
persoalan tadi dengan caranya, dengan orientasi programatiknya.
Dia
seolah berkata, bahwa ada momentum bagi kita untuk berteori, atau
berfilsafat, ada pula momentum untuk meninggalkannya, demi perjuangan khusus,
menghadapi persoalan khusus, dan bersifat teknis, yang tak memerlukan teori,
atau filsafat. Rumah Aspirasi Rakyat itu menjelaskannya dengan gamblang. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar