Antisipasi
Pelemahan Ekonomi Asia
Firmanzah ;
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan
|
KORAN
SINDO, 16 Maret 2014
|
Sepanjang
triwulan akhir 2013 hingga awal 2014, beberapa kekuatan ekonomi Asia
mengalami pelemahan, di antaranya Jepang, India, dan China.
Ketiga
negara tersebut selama ini dipandang sebagai penggerak ekonomi global,
khususnya di kawasan Asia. Melemahnya ekonomi Jepang, China, dan India
mengirim sinyal kompleksitas pemulihan global yang semakin tinggi. Jepang
sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia belum berhasil
menunjukkan kinerja terbaiknya pascakrisis 2008.
Defisit
transaksi berjalan Jepang semakin dalam seiring kinerja perdagangan yang juga
memburuk. Ekonomi Jepang pada kuartal terakhir 2013 hanya bertumbuh 0,7% atau
lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 1%. Adapun defisit transaksi berjalan
mencapai 1,59 triliun yen (USD15,4 miliar) yang sebagian besar diakibatkan
laju impor yang jauh melebihi ekspor. Di sisi lain China dan India yang
sepanjang 2009–2011 menjadi katalisator pertumbuhan Asia dan dunia masih
tertekan oleh kinerja ekonomi domestiknya.
India
pada triwulan terakhir 2013 hanya mampu tumbuh 4,7% dan sepanjang 2012–2013
hanya tumbuh kurang dari 5%. Ini jauh dari kinerja sebelumnya yang mampu
mencapai 8–9% pada periode 2008–2010. Inflasi yang meroket di India memaksa
bank sentral India menaikkan suku bunga acuan beberapa waktu lalu ke level
8%. Nilai tukar rupee juga terus tertekan sepanjang triwulan akhir 2013
hingga awal 2014. Di sisi lain, upaya rebalancing
pertumbuhan China juga belum menunjukkan hasil menggembirakan.
Pertumbuhan
produk domestik bruto (PDB) China tahun 2014 ditargetkan berada pada level
7,5% atau lebih rendah dari target sebelumnya 7,7%. Perlambatan ini dipandang
sebagian kalangan sebagai imbas dari perubahan strategi pertumbuhan China
sehingga terjadi beberapa penyesuaian yang berdampak pada laju ekonomi
domestik. Kendati demikian, pada periode Januari–Februari 2014, sejumlah
indikator ekonomi China relatif menurun yang memicu spekulasi sulitnya
pertumbuhan 7,5% dicapai hingga akhir tahun. Bahkan sejumlah analis
memperkirakan pada kuartal I/2014 pertumbuhan ekonomi China berada di bawah
7,5%.
Data
industri manufaktur China hanya tumbuh 8,6% di bawah target 9,5% dan
merupakan kinerja industri terburuk dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan
investasi aset tetap mencapai level terendah sepanjang 13 tahun terakhir
sebesar 17,9% atau lebih kecil dari proyeksi 19,4%. Neraca perdagangan China
juga menunjukkan anjloknya kinerja perdagangan pada Februari 2014 dengan
defisit mencapai USD22,9 miliar (bulan sebelumnya surplus USD31,9 miliar).
Ekspor
tumbuh negatif 18,1%, sementara impor tumbuh positif 10,1%. Otoritas keuangan
China juga melansir besaran dana pinjaman yang disalurkan periode Februari
2014 sebesar 644,5 miliar yuan atau lebih rendah dari 1,32 triliun yuan pada
Januari 2014. Kondisi ini menjadi jawaban dari melemahnya permintaan
komoditas China akibat memburuknya sejumlah indikator ekonomi negara itu.
Hal ini
tentu memberikan dampak yang signifikan terhadap permintaan komoditas global
mengingat China merupakan salah satu negara dengan permintaan komoditas
terbesar selama 10 tahun terakhir. Bagi Indonesia, pelemahan ekonomi Asia,
khususnya China, mendorong terus dilakukannya penguatan struktur dan
fundamental perekonomian. Sepanjang 2013 hingga awal 2014, pemerintah terus
mendorong sejumlah kebijakan ekonomi sebagai stimulus untuk mempertahankan
sekaligus meningkatkan kinerja ekonomi domestik.
Pada
2013, ekonomi nasional tertekan oleh melebarnya defisit transaksi berjalan,
defisit neraca perdagangan, dan ancaman risiko inflasi. Untuk mengatasi hal
tersebut, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi secara bertahap
masing-masing paket pertama pada Agustus 2013 dan paket kedua Desember 2013.
Paket kebijakan ekonomi ini diarahkan untuk memperkokoh fundamental ekonomi
dan upaya mitigasi risiko ketidakpastian global yang semakin kompleks.
Paket
pertama dilakukan melalui upaya perbaikan neraca transaksi berjalan,
penguatan nilai tukar, menjaga pertumbuhan ekonomi, memperkuat daya beli
masyarakat dan tingkat inflasi, serta menstimulasi investasi. Sementara paket
kedua ditempuh dengan mengedepankan perbaikan neraca perdagangan melalui
pengurangan impor barang konsumsi dan mendorong nilai ekspor melalui
peraturan kemudahan impor tujuan ekspor. Paket ini diharapkan dapat
memperbaiki neraca perdagangan dan mempersempit defisit neraca transaksi
berjalan.
Kedua
paket itu telah menghasilkan sejumlah perbaikan yang menggembirakan, termasuk
penguatan fundamental yang sedang berlangsung saat ini. Inflasi sepanjang
2013 dapat dikendalikan dan ditekan ke level 8,3%, nilai tukar rupiah terus
menguat, dan iklim investasi terus membaik. Memang beberapa target dari paket
kebijakan masih menyisakan sejumlah tantangan seperti perbaikan neraca
transaksi berjalan yang belum optimal dari kedua paket tersebut.
Untuk
itu, saat ini pemerintah sedang mempersiapkan paket kebijakan ekonomi ketiga
yang fokus pada penyeimbangan neraca pembayaran dan perbaikan neraca
transaksi berjalan. Paket kebijakan ekonomi ketiga itu akan diarahkan untuk
memperbesar dan menahan aliran modal tetap berada di pasar domestik. Paket
tersebut akan mengatur lebih lanjut repatriasi keuntungan investor asing
sehingga dapat diinvestasikan kembali di Indonesia.
Relaksasi
investasi ini diharapkan dapat memperkecil defisit neraca transaksi berjalan
sekaligus menstimulasi investasi lainnya yang distribusinya akan diarahkan
pada pembangunan sektor riil. Tentunya revisi daftar negatif investasi (DNI)
tetap mengedepankan kepentingan nasional serta terus mendorong pengusaha
lokal untuk lebih berperan dalam sistem perekonomian nasional.
Paket
kebijakan ekonomi ini tentu sangat diharapkan dapat semakin memperkokoh
struktur fundamental ekonomi nasional yang kini terus menguat seiring dengan
bekerjanya paket kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan pada 2013. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar