Antropologi
Capres
Hajriyanto Y Thohari ;
Alumnus Pascasarjana Antropologi Universitas
Indonesia
|
KORAN
SINDO, 06 Maret 2014
|
Tahun
2014 adalah tahun politik, tahun Presiden Baru. Presiden itu penting dan
menentukan masa depan bangsa. Alhasil, persoalan presiden adalah urusan
segenap bangsa Indonesia, bukan hanya partai politik.
Persoalan
apa dan siapa calon-calon presiden (capres) juga bukanlah melulu urusan ilmu
politik dan lembaga survei saja. Apalagi di tangan yang terakhir ini, soal
capres direduksi menjadi semata-mata soal angka: berapa persen tingkat
popularitas dan elektabilitas capres A, capres B, dan capres C. Benar, soal
capres di era demokrasi langsung dan deliberatif seperti sekarang ini, bisa
dijajaki melalui survei. Tetapi terlalu simplistis jika kemudian soal capres
itu kita serahkan hanya kepada lembaga survei.
Kita
juga sudah bosan disuguhi hasil-hasil survei capres yang sangat numerikal dan
statistikal itu! Memang benar di tangan ilmu politik pembahasan apa dan siapa
capres memiliki presisi dan akurasi yang lebih baik. Sayangnya sekarang ini
semua orang, apa pun latar belakang studinya, menjadi pengamat politik. Meski
tidak dididik dalam disiplin ilmu politik, mereka menyampaikan analisisnya
masing-masing mengenai capres dengan penuh antusiasme.
Tidak
ada yang mempermasalahkan jika hasil pengamatannya sangat impresif dan tidak
jelas konstruksi teoritisnya. Yang penting, banyak yang tertarik untuk
mengikuti analisisnya melalui media massa. Belum lagi ramalan para dukun dan
paranormal politik. Akhir-akhir ini ada juga ilmu psikologi politik: yang
bergiat menganalisis (dan menguliti) perilaku para capres dan politisi sampai
yang bersangkutan termehek- mehek. Ada juga ilmu ekonomi politik atau ekonomi
pemilu yang membahas biaya politik yang harus disiapkan oleh para capres.
Apanya
yang menarik, toh sudah bukan rahasia lagi kalau untuk maju sebagai capres
dibutuhkan uang ratusan miliar, bahkan triliunan rupiah. Semua orang juga
tahu bahwa di belakang setiap capres (apalagi capres yang tong-pis,
kantongnya tipis, dan tong-pes, alias kantongnya kempes) pastilah ada orang
atau sederet orang kaya yang bertindak sebagai bandar penyandang dananya.
Sudahlah, mengaku saja!
Antropologi, Bicaralah!
Dalam
konteks ini rasanya sangatlah menarik melihat capres secara antropologi.
Jadi, sebut saja, antropologi capres! Namanya juga antropologi, tentunya
kajian ini bersifat primaeval atau primordial: melihat segala sesuatunya
dalam kategori- kategori yang paling awal atau mula, seperti latar belakang
suku atau etnis, budaya atau agama, dan adat istiadat para capres yang
tentunya agak sensitif. Antropologi memang selalu memulai dari
kategorikategori primordial yang primitif.
Menurut
antropologi primitif tidak berkonotasi negatif dan peyoratif. Hanya orang
modern yang memandang rendah orang primitif. Ini tentu tidak mengherankan
oleh karena kata primitif itu memang diciptakan oleh orang-orang modern yang
dikenal sangat egosentris dan etnosentris. Padahal, primitif adalah
menunjukkan masa-masa awal pembentukan kebudayaan yang justru mencerminkan
keaslian dan keotentikan.
Marilah
kita mulai kajian ini. Pertama, kajian ini bisa dimulai, misalnya, dengan
pertanyaan mengapa setelah Soempah Pemoeda 1928 bangsa Indonesia masih ada
yang berpikir secara etnis dan berpandangan bahwa presiden Indonesia
sebaiknya Jawa? Bagaimana sebenarnya nation and charcter building yang kita
lakukan selama ini sehingga integrasi bangsa belum juga tuntas setelah
merdeka 68 tahun?
Fakta
masih banyaknya orang berpikir dalam kerangka etnisitas dalam pencalonan
presiden seperti itu membuktikan belum tuntasnya pembangunan bangsa (nation
building) untuk integrasi bangsa. Mungkin benar apa yang dikatakan KS Sandhu,
duludirektur Institute of S o u t h e a s t Asian Studies (ISEAS), Singapura,
bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir ini faktorfaktor etnis telah
membingungkan banyak analis sosial karena perannya yang tetap ada.
”Harapan
liberal” bahwa modernisasi akan mengaburkan perbedaan etnis, prestasi akan
menggantikan askripsi, serta meluasnya komunikasi dan pendidikan akan membuat
masyarakat semakin homogen, ternyata tidak menjadi kenyataan. Demikian juga
harapan radikal bahwa perbedaan budaya akan lenyap seiring dengan munculnya
kesadaran kelas ternyata juga cuma tinggal harapan.
Kenyataan
justru menunjukkan kebalikannya: budaya dan etnis tetap ada pada hampir
setiap segi kehidupan masyarakat Asia Tenggara. Bahkan, tampaknya
perbedaan-perbedaan yang berdasarkan faktor-faktor tersebut di banyak
masyarakat telah menjadi semakin tajam. Kelompok-kelompok kepentingan etnis
dan agama lebih vokal menuntut. Dalam kondisi seperti inilah kompleksitas
etnis, agama, dan bahasa tampaknya semakin menantang dibanding masa
sebelumnya.
Maka
pemahaman kita bahwa Indonesia ini majemuk atau pluralis perlu dimajukan
lagi. Jika sebelumnya paham pluralisme hanyalah kesadaran bahwa kita terdiri
dari berbagai-bagai suku, etnis, bahasa, budaya, kini harus diberi pemahaman
baru, yaitu menjadikan pluralisme sebagai prosedur hidup bersama secara
nyaman, atau dengan kata lain menjadikan pluralisme sebagai pandangan hidup.
Dengan demikian, reaktualisasinya perlu diperkuat dengan strategi kebudayaan
yang jitu. Antropologi bisa bicara banyak dalam persoalan ini.
Budaya Keterbukaan
Kedua,
kalau pertanyaan pertama tadi sangat ideologis, pertanyaan atau topik kedua
ini agak aktual dan sedikit politispraktis. Dus, sedikit sensitif.
Antropologi capres dapat mengkaji mengapa kebanyakan capres yang sudah
terang-terangan menyatakan siap maju adalah berlatar belakang etnis non-Jawa?
Apakah
ini berarti bahwa di belantika perpolitikan nasional, tokoh-tokoh yang
dibesarkan dalam budaya non- Jawa lebih terbuka, egaliter, dan berterus
terang dalam men-gekspresikan keinginannya dibandingkan tokoh-tokoh Jawa yang
cenderung ewuh pekewuh? Apakah ini berarti budaya non- Jawa lebih kompatibel
dengan sikap keterbukaan dan keterusterangan yang menjadi salah satu
prasyarat demokrasi langsung dan deliberatif?
Fenomena
ini juga menarik: mengapa para ketua umum partai politik yang berlatar
belakang Jawa kebanyakan tidak— atau belum—menyatakan maju sebagai capres?
Padahal jika saja mau dan siap, mereka itu mempunyai peluang yang sangat
besar untuk ditetapkan oleh partainya menjadi capres. Bahkan, lihatlah, ketua
umum sebuah partai besar yang kebetulan Jawa sampai hari ini belum juga
menyatakan siap maju menjadi capres. Pokoknya, kecuali satu atau dua orang
ketua umum partai, kalau Jawa cenderung sungkan, malu-malu atau ewuh pakewuh.
Ketiga,
lebih menarik lagi mengapa tokoh berlatar belakang Jawa yang berani
menyatakan terbuka maju sebagai capres kebanyakan berlatar belakang militer
dan berpangkat jenderal? Penulis tidak menemukan jenderal non-Jawa yang
menyatakan siap maju menjadi capres. Fenomena ini tentunya sangat menarik
untuk dikaji.
Apakah
kecenderungan ini ada kaitannya dengan ”doktrin lama” dan ”ajaran kuno” yang
dulu sangat dipercaya dalam rentang waktu sekian lama yang berbunyi bahwa
presiden Indonesia sebaiknya Jawa-Islam-Militer? Ini bidang kajian aka-demis
yang menarik secara antropologis. Kebanyakan orang Jawa— tentu ini agak
stereotipikal dan karena itu tentu tidak semuanya— memang cenderung lingsem
(malu) untuk menyatakan maju secara terus terang.
Menariknya,
ada tokoh Jawa, meski dalam semua survei peringkat keterpilihannya sangat
tinggi, tetap saja mengatakan “saya
tidak mikir, tidak mikir...” atau ”saya
berdoa pun tidak berani..”. Padahal semua orang juga tahu alih-alih
menjadi presiden, menjadi menteri atau gubernur, bahkan bupati/wali kota saja
mau, masak mereka menjadi capres tidak mau? Mau nglimpe kok ora kira-kira! Orang Jawa, mungkin, karena faktor
budayanya cenderung tidak berterus terang kecuali mereka yang berlatar
belakang militer tadi.
Alhasil,
pendidikan militer yang serbategas, keras, disiplin, dan mementingkan
kesamaptaan jiwa raga itu telah mengubah kultur Jawa yang serbatertutup
menjadi terus terang, malu-malu menjadi mau dan tidak malu, ewuh pakewuh menjadi bloko suto atau blak kotang, dan last but
not least, maaf, dari biso rumongso
menjadi rumongso biso. Tak heran
kebanyakan capres dan presiden yang berlatar belakang Jawa sebagian terbesar
pastilah jenderal militer.
Nah, sekarang yang penting saya sudah memulai kajian ini. Kini giliran
ahli antropologi yang benar-benar antropolog untuk tampil menyampaikan
perspektifnya tentang capres Indonesia secara akademis dan teoritis. Itulah
antropologi capres! Semoga. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar