Selasa, 08 Mei 2012

Rusia Baru di Tangan Presiden Lama


Rusia Baru di Tangan Presiden Lama
Djauhari Oratmangun; Dubes RI untuk Rusia dan Belarus
SUMBER :  KOMPAS, 08 Mei 2012



Vladimir Putin resmi presiden baru Federasi Rusia untuk enam tahun ke depan. Inilah jabatan ketiga sebagai presiden baginya setelah diselingi jabatan perdana menteri.

Bila Putin terpilih kembali sesuai dengan konstitusi baru, ditambah setahun sebagai pejabat presiden mengganti Boris Yeltsin, mantan petinggi KGB ini akan seperempat abad berada di pucuk kekuasaan Rusia.

Putin dalam pertaekwondoan politik domestik Rusia memang sebuah fenomena. Dalam batasan tertentu ia bisa disandingkan dengan tsar paling terkenal: Peter Agung. Berkat Putin, kebanggaan kebangsaan Rusia yang sempat terpuruk sejak Uni Soviet pecah dibangun kembali. Di tangan pria yang mahal senyum itu, masyarakat Rusia menyadari bahwa kapitalisme telah merangsek negerinya secara membabi buta. Bersama Putin kini masa depan Rusia dipertaruhkan.

Rusia Baru

Setelah hampir 15 tahun di pucuk kekuasaan, kini Putin sang pembaru menghadapi peningkatan kesenjangan si kaya dan si miskin yang mendorong kenaikan kriminalitas, korupsi yang cukup mengkhawatirkan, dan instabilitas di sejumlah wilayah.

Dalam konstelasi internasional, Rusia dihadapkan pada kenyataan: perubahan radikal ekonomi, pencapaian teknologi tinggi yang sangat cepat, serta perebutan kekuasaan dan pengaruh yang demikian akut. Dalam keadaan seperti ini, hanya bangsa yang sangat unggul dengan pemimpin yang visioner dan kuat yang dapat tetap eksis menjaga jati diri dan pengaruhnya.

Dus, tugas utama Putin tentulah membangun ekonomi baru yang stabil dan mampu menunjukkan pertumbuhan kualitatif dalam konteks persaingan yang sehat, sekaligus siap menghadapi segala bentuk goncangan. Rusia perlu menciptakan sistem makroekonomi, keuangan, teknologi, dan pertahanan yang lebih baik sebab abad ke-21 merupakan era kebangkitan pusat geopolitik, keuangan, dan peradaban baru.

Rusia di bawah Putin bisa dipastikan akan meneruskan bahkan memperbaiki kebijakan lama yang mencoba memperkuat posisinya di tingkat internasional. Perannya yang kentara di PBB, khususnya sebagai pemegang hak veto, tak akan disia-siakan. Lebih dari satu dasawarsa kebijakan luar negeri Rusia konsisten: mitra setara bagi Barat.

Sejalan dengan belum ”mesranya” hubungan dengan Barat dalam berbagai hal, Rusia akan mulai berpaling ke wilayah Timur Jauh. Rusia melihat Asia Pasifik sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi baru dengan pembangunan ekonomi yang lincah dan penuh dengan berbagai potensi kerja sama.

Komitmen Rusia mengembangkan hubungannya dengan Asia Pasifik, khususnya Asia Timur, juga tecermin dengan keputusannya bergabung dalam East Asia Summit pada saat Indonesia Ketua ASEAN 2011 dan menetapkan Vladivostok, kota di timur jauh Rusia yang berbatasan dengan wilayah Asia, sebagai tempat pelaksanaan KTT APEC pada September 2012.

Dalam wawancara dengan Moskovskiye Novosti, 27 Februari 2012, Putin secara kategoris menyatakan bahwa Rusia adalah bagian dari dunia yang lebih besar apabila berbicara mengenai ekonomi, liputan media, dan pengembangan kebudayaan. Rusia baru tak ingin mengisolasikan di- ri dan berharap bahwa keterbu- kaan Rusia dapat menghasilkan standar hidup yang lebih baik bagi rakyat Rusia dengan kebudayaan yang lebih beragam.

Putin juga menyatakan bahwa Rusia akan berupaya semaksimal mungkin memastikan rakyatnya mencapai manfaat yang dihasilkan dari kemajuan iptek tinggi. Ia juga akan terus membantu para wirausaha mendapat tempat yang sesuai di pasar global. Putin menjamin Rusia baru akan menuju sebuah tatanan dunia baru yang dapat memenuhi kebutuhan realitas geopolitis saat ini dan dapat berkembang mulus tanpa pergolakan yang tak perlu.

Kebijakan luar negeri Rusia baru akan bersifat strategis dan tidak berdasarkan pertimbangan oportunistik: tetap merefleksikan peran unik Rusia dalam peta politik dunia dan peran di dalam sejarah dan pengembangan peradaban. Rusia akan terus berupaya membangun diri secara konstruktif meningkatkan keamanan global, menolak konfrontasi, dan berbagai tantangan, seperti proliferasi senjata nuklir, konflik dan krisis regional, terorisme, dan penyelundupan ilegal obat bius.

Memang sejauh ini masih ada yang sinis terhadap aneka keberhasilan Pemerintah Rusia dibawah kendali Putin sebab secara riil telah ”menajamkan lagi taringnya” sebagai salah satu kekuatan global. Putin sadar betul bahwa kesejahteraan rakyat, mengejar ketertinggalan dalam bidang teknologi, serta perluasan pengaruh di berbagai belahan dunia merupakan kebutuhan sebuah negara besar seperti Rusia.

Rusia dan Indonesia

Vis-à-vis hubungan bilateral dengan Indonesia, kerja sama di antara keduanya akan terus berkembang dinamis. Indonesia dan Rusia adalah ”sahabat lama era baru” yang memiliki hubungan historis dan emosi yang kuat. Meskipun sempat mengalami pasang surut, hubungan keduanya semakin menguat dan ke depannya terdapat berbagai bidang kerja sama potensial. Indonesia dan Rusia juga memiliki kemiripan prinsip dalam keputusan kebijakan yang dilatarbelakangi berbagai keserupaan pluralisme.

Rusia dan Indonesia samasama menjunjung tinggi peran PBB menyelesaikan berbagai konflik internasional, menolak intervensi urusan dalam negeri negara lain, dan mendorong penyelesaian damai dari berbagai konflik global. Ke depan, diperkirakan hubungan kerja sama politik dan keamanan bilateral, regional, dan multilateral akan kian kuat sehingga dapat berkontribusi aktif dalam berbagai penyelesaian masalah yang ada.

Sangat diyakini bahwa kedudukan sebagai ”mitra strategis” dan juga sahabat akan dimanfaatkan untuk memberi manfaat ekonomi bagi rakyat kedua bangsa. Selamat datang kembali Presiden Putin untuk Rusia yang baru. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar