Prioritas Millennium Development Goals
Bjorn Lomborg, Ketua Copenhagen Consensus Center,
Guru Besar pada
Copenhagen Business School
SUMBER
: KORAN TEMPO, 30 April 2012
Dekade yang baru lalu ini kita telah
menyaksikan kemajuan luar biasa dalam upaya menghadapi tantangan besar yang
menghadang umat manusia. Lihat saja keberhasilan melawan polio di India, yang
tampaknya tidak terpikirkan sepuluh tahun yang lalu. Januari yang lalu menandai
setahun sudah sejak terakhir dilaporkannya kasus polio di negeri itu. Atau
lihat juga kemajuan yang dicapai melawan malaria: selama dekade yang lalu,
jumlah kasus malaria telah turun 17 persen, dan jumlah kematian akibat malaria
telah berkurang 26 persen.
Pertumbuhan populasi dan krisis ekonomi
global, kemiskinan absolut-–proporsi rakyat yang hidup dengan penghasilan
kurang dari US$ 1.25 sehari-–telah mengalami penurunan di setiap kawasan di
dunia. Tapi sebenarnya salah satu sasaran Millennium Development Goals (MDGs)
Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengurangi kemiskinan ekstrem sebesar 50
persen telah tercapai lima tahun lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.
Baru beberapa tahun yang lalu, menyunat
laki-laki sebagai cara melawan HIV/AIDS tidak banyak dikenal orang. Sekarang,
sunatan sudah direkomendasikan UNAIDS dan Organisasi Kesehatan Sedunia sebagai
alat memerangi HIV/AIDS, dan lebih dari sepuluh negara di Afrika telah
meningkatkan ketersediaan sarana sunatan ini. Begitu juga konsep penggunaan geo-engineering
untuk merespons perubahan iklim bukan lagi fiksi ilmiah, tapi sudah masuk
wilayah riset yang serius.
Sepuluh tahun terakhir ini, kita juga
menyaksikan pembangunan secara global meningkat 60 persen, dan tantangan yang
termuat dalam Bill Gates’s Giving Pledge telah berkembang dari konsep menjadi
gerakan dengan dana yang dijanjikan sebesar paling tidak US$ 125 miliar.
Tapi, sementara dekade yang lalu merupakan
dekade yang menggembirakan, ada wilayah tempat kita tidak bisa mengklaim keberhasilan.
Perubahan iklim telah muncul sebagai salah satu masalah yang paling banyak
dibicarakan, tapi negosiasi global mengenai masalah ini telah berantakan, dan
kita sekarang ini tidak lebih dekat pada kesepakatan mengenai pengurangan emisi
karbon daripada sepuluh tahun yang lalu.
Begitu juga konflik dengan kekerasan terus
memakan korban yang sangat besar. Dan sementara dunia berhasil mencapai sasaran
MDGs dalam penyediaan air minum yang bersih lima tahun lebih cepat, tapi
penyediaan sanitasi tertinggal jauh di belakang: sepertiga populasi dunia, 2,5
miliar manusia, tidak memperoleh akses sanitasi mendasar, dan lebih dari 1
miliar manusia masih buang air besar di tempat terbuka.
Masalah lainnya telah pula muncul dan
berkembang selama dekade yang lalu. Jika pola seperti sekarang ini terus
berlanjut, rokok bisa merupakan penyebab kematian sebanyak 10 juta orang per
tahun menjelang 2030. Sebagian besar-–kasus kematian akibat rokok--terjadi di
negara berpendapatan rendah dan menengah: kita mungkin bakal menyaksikan
sekitar 1 miliar kematian akibat rokok pada abad ini dibanding 100 juta orang
pada abad ke-20. Serangan jantung menyebabkan kematian 13 juta orang di
negara-negara berpendapatan rendah dan menengah setiap tahun, lebih dari
seperempat jumlah kematian seluruhnya, sedangkan faktor risikonya terus
berkembang.
Bobot tantangan yang dihadapi manusia ini
berubah cepat. Begitu juga pengetahuan mengenai bagaimana cara merespons
tantangan itu. Para pembuat kebijakan dan para dermawan memerlukan akses
informasi yang dimutakhirkan secara reguler mengenai bagaimana menggunakan dana
yang terbatas itu dengan efektif.
Proyek Copenhagen Consensus yang saya pimpin
merupakan mata rantai yang menghubungkan riset akademik dan analisis yang
konkret yang bisa digunakan para pengambil keputusan di dunia riil. Setiap
empat tahun sekali, para peneliti dan peraih Hadiah Nobel bekerja sama
mengidentifikasi respons paling cerdas terhadap masalah-masalah besar yang
dihadapi manusia saat ini.
Pada 2004, Copenhagen Consensus menyoroti
perlu diberikannya prioritas pada upaya mengendalikan dan menangani HIV/AIDS.
Lebih banyak dana dan perhatian segera dicurahkan pada upaya pencegahan dan
penanganan HIV. Pada 2008, Copenhagen Consensus memusatkan perhatian para
pengambil keputusan dan dermawan pada investasi di bidang penyediaan micronutrient.
Penerimaan publik terhadap gagasan ini berhasil meningkatkan upaya mengurangi
"kelaparan tersembunyi"-–yaitu orang-orang yang menderita karena
tidak memperoleh gizi yang mereka butuhkan.
Pada Mei ini, lebih dari 30 peraih Hadiah
Nobel dan para peneliti akan bekerja sama sekali lagi untuk mengidentifikasi
cara paling cerdas merespons tantangan-tantangan global ini berdasarkan
informasi paling akhir mengenai masalah paling alot yang dihadapi dunia saat
ini.
Sejak 2008, krisis global menunjukkan semakin
perlunya langkah yang menjamin belanja bantuan dan pembangunan itu digunakan
dengan bijaksana, dan bisa memberikan hasil yang sebaik-baiknya. Proyek
Copenhagen Consensus mengemban tugas sulit membandingkan satu prakarsa dengan
prakarsa lainnya dengan menggunakan perangkat dan prinsip yang mendasar.
Pertama, sejumlah tim yang terdiri atas para
ekonom ternama di dunia menulis research paper mengenai cost and
benefit investasi yang akan digunakan untuk menghadapi tantangan tertentu.
Perdebatan dan diskusi digalakkan dengan memastikan ada tiga makalah yang
ditulis mengenai setiap topik, sehingga dapat diperoleh opini para pakar dengan
cakupan yang luas. Dengan demikian, diperoleh suatu kerangka yang bisa digunakan
untuk melihat seluruh biaya yang diperlukan, dengan memasukkan semua cost,
benefit, dan spin-off bagi masyarakat dari dana yang terbatas dengan
cara tertentu.
Semua riset ini merupakan sumbangan berharga
bagi pembangunan dan kebijakan internasional. Tapi proyek ini melangkah lebih
jauh. Suatu panel yang terdiri atas para ekonom terkemuka di dunia-–termasuk
empat peraih Hadiah Nobel-–menguji dan membahas rekomendasi para pakar dan
mengidentifikasi kemungkinan yang paling menarik. Di samping makalah riset,
daftar prioritas yang disusun para peraih Hadiah Nobel memberikan masukan yang
penting bagi pembuat kebijakan dan para penyumbang dana.
Sementara dekade yang lalu kita menyaksikan
banyak kemajuan dan harapan, masih banyak masalah penting yang harus ditangani:
malnutrisi, pendidikan, konflik antar-kelompok masyarakat, perubahan iklim,
serta bencana alam, untuk menyebut sebagian dari masalah yang paling menonjol.
Tapi apakah masalah yang paling menonjol itu
berarti yang harus kita tangani dengan segera? Penelitian dan daftar prioritas
memaksa kita mempertimbangkan alasan prioritas yang didahulukan dan menantang
kita agar menggunakan sumber daya yang terbatas untuk melakukan mana yang
terbaik lebih dulu. Dan apakah yang paling baik kita lakukan lebih dulu? Itu
semua akan kita ketahui pada Mei ini. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar