Kamis, 10 Mei 2012

Peran Besar Pengusaha Kecil


Peran Besar Pengusaha Kecil
Jusman Dalle; Analis Ekonomi Politik
Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar
SUMBER :  SUARA KARYA, 09 Mei 2012


"Perusahaan yang kecil dan memiliki semangat kewirausahaan sering menghasilkan inovasi terobosan karena memiliki fokus yang terbatas, menoleransi risiko, memiliki hasrat pada apa yang mereka lakukan, dan memperoleh manfaat besar jika berhasil melakukannya." (Pearce, Robinson: 2007)

Dalam satu dekade terakhir, dua gelombang krisis ekonomi datang susul-menyusul. Krisis pertama terjadi di AS tahun 2008 akibat subprime mortgage atau kredit macet di bidang properti. Krisis kedua menyusul pada 2011, terjadi di Eropa disebabkan oleh default utang Yunani, yang kemudian merembes ke Irlandia dan Portugal. Dua gelombang krisis ini membuat perekonomian beberapa negara di dunia mengalami resesi, khususnya Amerika dan Euro Zone (negara pengguna mata uang Euro).

Resesi di Amerika - Euro Zone menyebabkan perlambatan di dua kawasan utama ekonomi dunia itu dan secara kausalistik turut memengaruhi perekonomian global. Beberapa negara emerging market yang ekonominya tumbuh signifikan dua dekade terakhir seperti China dan India ikut menanggung beban. Negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua dan ketiga di dunia itu masing-masing hanya bisa tumbuh 8 persen dan 6,5 persen setahun pasca krisis Amerika. Padahal, setahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi China sempat mencapai 11,4 persen dan India 9,6 persen. Sampai saat ini kedua negara tersebut belum kembali ke posisi pertumbuhan terbaik yang pernah mereka raih.

Namun, berbeda dengan China maupun India serta beberapa negara lain yang juga 'demam' akibat menanggung derita amukan krisis global, trend pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun justru sangat positif. Pada 2009, misalnya, Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi ketiga di dunia dengan angka 4,5 persen. Tahun 2010 dan 2011 masing-masing tumbuh 6,1 persen dan 6,5 persen. Sementara negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa bahkan tumbuh negatif, hanya Indonesia, India dan China yang tumbuh positif.

Merupakan sebuah prestasi besar bagi perekonomian Indonesia. Lalu apa gerangan rahasia mengapa perekonomian Indonesia relatif tahan dari terjangan gelombang krisis? Craking Entrepreneurs (2012) karya Prof Rhenald Kasali menjawabnya. Selain rendahnya tingkat utang masyarakat sampai ke level rumah tangga, sumber daya manusia dengan dominasi lapisan produktif. Indonesia juga memiliki komunitas kelas menengah yang semakin besar dan tumbuh cepat serta menjadi sektor komoditas yang kaya.

Dalam kaitannya dengan varian sektor komoditas ini, kewirausahaan tentu memegang peranan penting. Usaha mikro, kecil dan menengah yang berorientasi pada konsumen domsetik menjadi sabuk pengaman anti krisis karena sebagian besar dari produk-produk usaha mikro kecil dan menengah adalah untuk kebutuhan konsumsi domestik.

Bercermin dari Gross Domestic Product 2011, misalnya, dari Rp 8.000 triliun lebih GPD, tak kurang dari Rp 3.500 triliun berasal dari konsumsi rumah tangga. Termasuk, di antaranya garmen, alas kaki, kosmetik, jamu, pangan lokal, buah-buahan, dan furnitur. Produk-produk tersebut berasal dari dalam negeri, walaupun sebagian juga merupakan produk impor seperti buah-buahan dari China dan India.

Oleh karena produk usaha mikro dan kecil ini cukup mendapat sambutan dari pasar, tak heran, jika mampu menciptakan lapangan kerja terbesar bagi bangsa ini. Sebanyak 104,6 juta orang tenaga kerja terserap pada sektor ini. Usaha-usaha mikro dan kecil ini secara kasat mata dapat kita lihat.

Mereka ada di perumahan, dibangun dari garasi atau dapur rumah, tampak di tepi-tepi jalan, mulai dari kuliner sampai bengkel mobil dan sepeda motor, dari tape ketan sampai garam dapur, dari batik sampai kain bordir, dari barang-barang kerajinan sampai mikrohidro. (Rhenald Kasali: 2012)

Walau skala kecil, peran usaha mikro kecil dan menengah, sangat signifikan karena mampu menghidupkan ekonomi masyarakat yang jauh dari jangkauan krisis. Usaha-usaha kecil ini memiliki daya survival tinggi karena mereka tumbuh secara alamiah. Mereka ibarat pohon di dalam hutan. Akaranya menghujam dalam ke tanah dan batangnya kokoh menjulang ke langit.

Potensi besar usaha mikro harus mendapat perhatian serius dari pemerintah. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh.

Pertama, dengan dukungan permodalan. Perlu mempermudah akses modal ke perbankan, misalnya, dengan modal lunak tanpa agunan dan tanpa bunga. Namun demikian, tetap ada pengaturan serta pendampingan ketat demi mencegahnya terjadinya kredit macet (NPL) yang berakibat buruk pada perekonomian, merugikan kreditor.

Kedua, dukungan pengembangan dan sumber daya manusia. Di tengah landskap bisnis yang terus berubah dan diwarnai kompetisi keras, butuh inovasi, kreatifitas dan jaringan dari pengusaha mikro, kecil dan menengah agar bisa tetap survive. Pemerintah bisa menjadi mediator dalam hal ini. Misalnya menyelenggarakan pelatihan maupun pameran yang melibatkan para pengusaha.

Ketiga, pemerintah juga perlu menjemput bibit-bibit pengusaha kecil baru di lembaga pendidikan yang nampak terus bermunculan. Sebuah trend positif yang harus dioptimalkan di tengah masih besarnya angka pengangguran. Tahun 2011 lalu, BPS mencatat jumlah pengangguran Indonesia mencapai 8,12 juta orang. Sementara itu, dari 119,4 juta orang angkatan kerja, 7,8 persen merupakan pengangguran bergelar sarjana.
Dengan mendorong kewirausahaan, maka angka pengangguran bisa dikikis. 

Memasukkan kewirausahana di dalam kurikulum pendidikan menengah dan tinggi, tentu merupakan salah satu upaya yang bisa ditempuh menstimulus lahirnya wirausahawan muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar