Kamis, 03 Mei 2012

Kiat Memilih Perguruan Tinggi


Kiat Memilih Perguruan Tinggi
A Kardiyat Wiharyanto; Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
SUMBER : SUARA KARYA, 03 Mei 2012


Sekitar 2,58 juta siswa SLTA baru saja mengikuti ujian nasional (UN). Bagi mereka yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi (PT), perlu kiat untuk mermilih perguruan tinggi yang paling tepat baginya. Perguruan tinggi negeri (PTN) masih merupakan tujuan utama para mahasiswa baru. Negeri ini memiliki 46 universitas negeri, 6 institut negeri, dan 19 politeknik negeri. Di samping itu, di negeri ini juga terdapat 2.700 perguruan tinggi swasta (PTS) dengan 11 ribu jurusan dan program studi. Jumlah PT yang banyak tersebut jelas menuntut kejelian para siswa.

Mengapa PTN menjadi incaran pertama? Hal ini disebabkan masyarakat masih berpandangan bahwa masuk PTN biaya pendidikannya lebih murah dibanding PTS, jaminan mutu pendidikan lebih meyakinkan, fasilitas proses pembelajaran memadai, dosen dipandang lebih qualified, dan lain sebagainya. Ini menyebabkan para siswa SLTA dan orangtua mereka sangat mendambakan PTN dan PTS sebagai alternatifnya jika gagal di PTN.

Dalam menjaring calon mahasiswa, persaingan antar-perguruan tinggi (antar-PTN atau antar-PTN dan PTS) semakin ketat. Dalam persaingan tersebut, PTN memang lebih diuntungkan. Status negeri bagi masyarakat pada umumnya selain menjanjikan biaya yang relatif rendah juga masih menjajikan kualitas lebih tinggi, dan memiliki peluang yang lebih luas memasuki pasar kerja. Lulusan PTN - karena statusnya itu - di beberapa instansi pun masih mendapat penghargaan di atas rata-rata lulusan PTS. Kendati sebenarnya para lulusan PTS tak ada bedanya dengan lulusan PTN. Mereka sesungguhnya telah dinyatakan lulus dalam mata kuliah yang juga diujikan bagi calon-calon sarjana PTN.

Kesan keliru masyarakat seolah kualitas lulusan PTN lebih unggul dari PTS tetap ada. Berkembangnya PTS dengan nilai akreditasi dari BAN yang tidak kalah dari PTN, oleh sebagian masyarakat masih dianggap sebagai formalitas semata, bukan pada esensinya. Itulah sebabnya, para pengelola PTS terus berusaha keras menghapus kesan 'nomor dua' sebagai alternatif. Antara lain, dengan menekan biaya yang menjadi beban para mahasiswanya sebagai kiat untuk menangkal kesan PTS mahal. Kesan tersebut masih menjadi cap bagi PTS, walaupun sebenarnya biaya mahasiswa di PTS sudah jauh lebih murah dibandingkan mahasiswa yang ada di PTN sekalipun sebelum otonomi perguruan tinggi diterapkan.

Yang jelas, PTS tak mungkin memikul beban pembiayaan itu tanpa berbagi beban dari para mahasiswanya. Berbagai bantuan pemerintah atau lembaga lain pada umumnya masih bersifat menunjang atau merangsang perkembangan. Pemerintah kita belum mampu membiayai seluruh kebutuhan PTS sebagaimana yang diberikan kepada PTN sebelum pelaksanaan otonomi perguruan tinggi.

Maka, jika selama ini kita melihat PTS-PTS begitu gencar menawarkan diri kepada para calon mahasiswa, dengan menonjolkan kelebihan yang dimiliki, bukanlah hal yang berlebihan. Di tengah posisinya yang tak semudah PTN, PTS-PTS itu sesungguhnya juga mempunyai tujuan ingin mengantarkan para mahasiswa menjadi sarjana-sarjana berkualitas yang dibutuhkan bangsa dan negara kita.

Masyarakat sendiri sudah semakin kritis memperkirakan kemampuan PTS yang akan dimasukinya. Selain mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang masa depan, mereka juga berhitung secara cermat tentang kualitas PTS, kelengkapan sarana dan biaya yang akan mereka pikul.

Kenyataannya, PTS-PTS yang sudah mapan tidak melakukan kampanye secara berlebihan. Ini karena kualitas sarjana yang mereka hasilkan dan sarana yang dimiliki sudah cukup dianggap sebagai 'iklan' yang cukup memadai. PTS-PTS yang telah mapan itu pun tak begitu bernafsu menarik calon mahasiswa. Justru mahasiswa yang berbondong-bondong ingin memasukinya. PTS-PTS semacam inilah yang di masa era persaingan PTN-PTS akan bersaing ketat dengan PTN.

Apalagi, tampaknya tidak sedikit dari para guru dan orangtua yang menasihatkan agar mereka tidak harus ikut seleksi PTN. Bahkan tidak jarang, ada anak atau orangtua yang langsung memasukkan anaknya ke PTS tanpa ikut seleksi PTN. Indikasi tersebut dapat diamati dari panorama penerimaan mahasiswa baru di PTS, beberapa tahun terakhir ini.

Di kalangan PTS mapan (bonafide) pada jalur Khusus sudah mendapatkan ribuan calon mahasiswa sebelum SNMPTN PTN. Karena, anak-anak itu punya keyakinan mengikuti tes jalur Khusus lebih besar peluang diterima. Soal biaya pun jauh lebih kecil. Karena, pihak PTS memberi dispensasi, anak-anak yang ikut tes jalur Khusus bukan jenis pelarian kegagalan seleksi PTN, melainkan sungguh-sungguh berminat memasuki PTS pilihannya. Inilah kecenderungan baru yang akhir-akhir ini mulai menggejala.

Bagi calon yang telah diterima di PTS, maka bisa dengan tenang mengikuti SNMPTN PTN. Apabila gagal seleksi PTN, mereka pun tak begitu merasa terpukul. Itulah sebabnya, sebelum hasil seleksi PTN diumumkan, PTS yang mapan dan pada program-program studi yang menjanjikan sudah terpenuhi target yang diharapkan.

Kemudian, bagaimana memilih perguruan tinggi itu? Salah satu cara yang umum dipakai adalah dengan memastikan apakah jurusan yang dituju itu sudah terakreditasi, baik status akreditasi maupun Nir-Akreditasi yang diberikan kepada semua perguruan tinggi (PTN, PTS atau PT Kedinasan) atau status Terdaftar, Diakui, Disamakan yang diberikan kepada PTS. Yang penting, jangan sekedar kuliah.

Akhir kata, penulis ucapkan selamat berjuang bagi para pelajar SLTA yang akan memasuki perguruan tinggi yang diidam-idamkan. Sebelum mengikuti tes ke PTN sebaiknya sudah mendapatkan PTS. Namun, bagi Anda yang belum diterima di PTS, maka bila seleksi PTN gagal, PTS masih tetap menunggu. Bagaimanapun pintu perguruan tinggi terbuka lebar menanti kalian.

1 komentar:

  1. Untuk menambah informasi terkait postingan di atas bisa juga dilihat pada link di bawah ini
    http://pena.gunadarma.ac.id/tips-memilih-perguruan-tinggi/

    BalasHapus