Kamis, 10 Mei 2012

Drama Politik China : Ayam dan Anjing Naik ke Surga


Drama Politik China :
Ayam dan Anjing Naik ke Surga
Rene L Patti Radjawane; Wartawan Kompas
SUMBER :  KOMPAS, 09 Mei 2012


Dalam bukunya, Mein Kampf, Adolf Hitler menulis, ”Die meisten Menschen werden leichter Opfer einer grossen Lüge als eiener kleinen”. Kebanyakan orang lebih mudah untuk percaya kebohongan besar daripada kebohongan kecil. Dan buku Hitler menjadi inspirasi kebangkitan kekaisaran ketiga Jerman Raya.

Jalan suksesi generasi kelima kepemimpinan Partai Komunis China (PKC) adalah drama babak pertama sebelum Kongres Ke-17 PKC berlangsung pada musim gugur mendatang. Drama ini dimulai dengan kasus Bo Xilai, Sekretaris PKC kota Chongqing, yang mencuat ke permukaan dan melibatkan Kepala Polisi Chongqing Wang Lijun, awal tahun ini.
Drama lainnya melibatkan aktivis buta Chen Guangcheng yang dikenai tahanan rumah sebelum melarikan diri ke Kedubes AS di Beijing. Chen menjadi pengacara yang membela kaum lemah dan tidak mampu di pedesaan China di Provinsi Shandong, tidak jauh dari tempat kelahiran Konfusius.

Chen menjadi pengacara otodidak dan berani melawan kekuasaan komunisme, awalnya dipuja oleh para pejabat komunis sebagai pembela penyandang cacat. Chen kemudian menjadi momok ketika mulai muncul di pengadilan membela orang-orang yang dipaksa untuk melakukan aborsi dan sterilisasi oleh pejabat komunis lokal untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.

Ada faktor menarik dari kedua drama yang tidak terkait satu sama lain ini, yaitu faktor suaka politik yang sama-sama ditujukan kepada Pemerintah AS. Wang Lijun secara tiba-tiba muncul di Konsulat AS di Chengdu, sekitar 300 kilometer dari Chongqing. Chen Guangcheng dua pekan lalu muncul di Kedubes AS di Beijing.

Yang menarik, kedua orang ini akhirnya keluar dari wilayah AS di China tanpa kelanjutan yang memuaskan. Chen konon diizinkan pergi ke AS untuk melanjutkan studinya di bidang hukum, ilmu yang tidak boleh diambil oleh orang buta di China. Persoalan suaka ini menjadi sesuatu yang baru dalam lingkup politik PKC dan kekuasaan Beijing.

Dari berbagai drama politik China, ada bermacam faktor yang muncul memberikan gambaran yang jelas apa sebenarnya yang terjadi di dalam daratan China. Ada faktor kekuasaan, faktor korupsi dan nepotisme, ada faktor penindasan orang-orang miskin dan tidak mampu menghadapi modernisasi dan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat.

Banyak faktor di China sesuai dengan besarnya penduduk Negara Tengah tersebut. Daniel A Bell dalam bukunya, China’s New Confucianism: Politics and Everyday Life in A Changing Society (Princeton, 2008), menulis China di bawah kekuasaan PKC menghadapi ketidakpuasan legitimasi sistem politik, mulai dari legitimasi kinerja, meritokrasi, dan ideologi karena komunisme modern di China berubah menjadi nasionalisme ketika PKC dianggap mewakili terhapusnya ”abad penghinaan” kolonialisme asing di China mulai dari abad ke-18 sampai berdirinya RRC tahun 1949.

Kita sendiri mencoba memahami drama politik China praKongres Ke-17 PKC sebagai dilema negara besar yang berjuang menjadi adidaya. Persoalan Bo Xilai adalah masalah lama tentang korupsi, kolusi, dan nepotisme persoalan karatan yang dihadapi berbagai dinasti China. Faktor Neil Heywood yang berkebangsaan Inggris adalah bumbu drama tentang intrik politik China.

Tidak ada pejabat China, baik dari jalur partai, sipil, maupun militer, yang tidak memiliki kaitannya dengan para penguasa sebelumnya. Berbagai posisi penting dan strategis di lembaga pemerintahan dan BUMN pasti mempunyai persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme ini, dan terkait hubungan keluarga satu sama lain.

Chen Guangcheng menangkap persoalan ini dari bawah, lapisan masyarakat China yang tertindas dan muak dengan kekuasaan komunisme yang hanya menguntungkan kelompok elite saja. Fenomena ini dalam peribahasa China disebut  Ketika seorang pejabat dipromosikan, ayam dan anjingnya ikut naik ke surga”. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar