“Demarche”
untuk YM PM Najib Razak
Rene L Pattiradjawane ;
Wartawan Senior
Kompas
|
KOMPAS,
19 Maret 2014
|
KEPADA YM Perdana Menteri Najib Razak.
Kita di
Indonesia merasa prihatin dan turut belasungkawa sedalam-dalamnya atas
musibah yang dialami pesawat terbang flag-carrier milik Malaysia Airlines
MH370 yang membawa 239 penumpang dalam penerbangan Kuala Lumpur-Beijing pada
tanggal 8 Maret lalu. Seluruh dunia, YM Perdana Menteri Najib Razak, terpusat
pada negara Anda berharap memperoleh penjelasan atas musibah tersebut.
Kita pun
merasa perlu untuk menulis demarché ini secara terbuka, karena dalam pesawat
MH370 membawa banyak warga negara Tiongkok paling banyak mencapai 153 orang,
juga terdapat warga negara Indonesia yang keluarganya pun menunggu kepastian
dari YM PM Razak. Keterangan YM PM di hadapan para wartawan dunia pada hari
Sabtu (15/3) lalu tidak memberikan penjelasan memadai atas apa yang terjadi
terhadap pesawat MH370 tersebut.
Kita pun
khawatir, para sanak keluarga penumpang MH370 di Tiongkok yang tidak puas
dengan penjelasan pihak Malaysia bisa menyebabkan ”kekecohan” karena ancaman
mereka melakukan mogok makan sampai pemerintah Anda memberikan informasi
sejelasnya tentang raibnya MH370 tersebut. Sebagai negara tetangga dekat,
Indonesia merasa ”terbabit” dengan hilangnya MH370.
Dalam
demarché secara terbuka kita ingin mempertanyakan apa hambatan YM Perdana
Menteri mengungkapkan misteri MH370 yang tidak ditemukan ”cebisan bangkai”
pesawatnya? Bagaimana sebenarnya YM PM Razak bisa mengetahui informasi
munculnya sinyal dari MH370 di dua koridor Gival dan Vampi secara bersamaan
menentukan posisi terakhir MH370?
Kita
paham, ada rahasia negara tidak bisa diungkapkan berkaitan sistem pertahanan
udara negara Yang Mulia, apalagi mengungkapkan kemampuan radar militer di
pangkalan Butterworth di seberang Pulau Penang. Kita pun paham, ada standar
prosedur perusahaan penerbangan seperti kalimat terakhir kopilot Fariq Abdul
Hamid yang berucap, ”All right, good night” sebagai isyarat kepada pengawas
udara di darat.
Kita
khawatir raibnya MH370 mendorong beberapa faktor yang akan mengubah berbagai
persoalan bilateral, regional, maupun multilateral. Pertama, kalau keberadaan
MH370 tidak terungkap, seperti yang pernah ditulis di harian ini hari Minggu
(16/3), akan ada desakan menyatakan wilayah udara di sekitar Malaysia sebagai
”unsafe air” bagi penerbangan yang selama ini menjadi alat transportasi
paling aman dinikmati semua orang.
Faktor
kedua, akan banyak spekulasi yang bermunculan, misalnya, apakah kemampuan
radar Malaysia tidak secanggih radar Singapura yang bisa mendeteksi sekitar
2.000 kilometer kejatuhan sejauh Adam Air di Sulawesi Selatan tahun 2007?
Kenapa ”otoriti” Singapura bungkam seribu bahasa?
Yang
Mulia PM Razak, apa pun informasi yang ada sebaiknya tidak ”dirahasiakan”
karena keluarga kita membutuhkan kepastian nasib orang-orang yang mereka
cintai. Kalau memang MH370 raib ditelan bumi, biarkan informasi ini menjadi
satu-satunya kebenaran sehingga pembuat Boeing 777, mesin pesawat
Rolls-Royce, ataupun industri perusahaan penerbangan dunia memperbaiki
”kesilapan” pesawat MH370 tersebut.
Mudah-mudahan YM PM Razak bisa menerima seruan demarché terbuka ini
sehingga kita harus takut dan khawatir dalam perjalanan penerbangan kita ke mana pun di dunia ini.
Dari sahabat Yang Mulia di Indonesia. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar