Dari
“Si Buta dari Gua Hantu” hingga ke “Si Pitung”
Maria Pakpahan ;
Santri di Padepokan
University of Edinburgh,
Pencinta Cerita Rakyat Nusantara
|
SINAR
HARAPAN, 18 Maret 2014
|
Masih
lekat dalam ingatan saya sebutan Si Buta dari Gua Hantu (BDGH), tokoh
pendekar ciptaan Ganesh TH yang sempat saya kenal ketika kecil lewat cerita
bergambar sosok Barda Mandrawata. Tokoh itu
membutakan dirinya guna menguasai ilmu yang bisa mengalahkan pendekar
buta Si Mata Malaikat yang membunuh ayahnya (Paksi Sakti).
Nama
BDGH kemudian tergiang kembali di awal 2000-an, saat sahabat—almarhum
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur—menjadi presiden. Saya ingat ada orang yang
kemudian menyebut BDGH saat merujuk beliau.
Apalagi,
saat pencalonan presiden pada 2004, Gus Dur tidak diloloskan Komisi Pemilihan
Umum (KPU) dengan alasan tidak memenuhi persyaratan sehat jasmani dan rohani.
Pengumuman itu disampaikan Ketua Pokja Pencalonan Presiden dan Wakil Presiden
saat itu, Anas Urbaningrum.
Ketidaklolosan
pasangan Gus Dur dan Marwah Daud Ibrahim diambil dengan suara bulat oleh
delapan anggota KPU. Sebaiknya, sejarah ini tidak dilupakan karena merupakan
pelanggararan hak asasi manusia (HAM) dan bentuk diskriminasi. Para
komisioner KPU tersebut tidak pernah mempertanggungjawabkannya sampai hari
ini.
Media di
Indonesia juga lebih banyak diam, membiarkan diskriminasi terjadi. Gus Dur
kemudian mencoba membawa kasus ini ke pengadilan. Itu karena sebagai warga negara,
hak konstitusinya dilanggar. Ini juga bagian dari pendidikan politik kepada
anak negeri.
Gus Dur
yang dicemooh bagai Si BDGH sesungguhnya memang guru bangsa yang tidak diam
dalam situasi sepayah apa pun. Orang-orang yang pernah ngece, mengolok-oloknya,
mungkin tidak tahu pendekar “Si BDGH” justru mengajarkan banyak nilai mulia.
Barda
alias Si Buta melawan ketidakadilan dan kebatilan. Barda berkelana
menjelajahi pulau-pulau di Indonesia, suka blusukan. Gus Dur juga suka
blusukan. Waktunya banyak dihabiskan mengunjungi berbagai tempat yang tidak
mudah dikunjungi.
Sosok
Barda sebagai pendekar ini fiktif, suatu karya imajinasi yang luar biasa.
Namun, almarhum Gus Dur bukan fiktif, melainkan hidup. Gus Dur juga bagaikan
pendekar persilatan yang tidak gentar menghadapi Orde Baru, menghadapi
Soeharto, membela kelompok yang termarginalkan, membela kaum minoritas,
membuka kantornya untuk siapa pun agar bisa datang.
Banyak
yang dibantunya, mulai yang protes, mengeluh, atau sekadar minta ongkos
pulang atau sumbangan beasiswa. Rekam jejak almarhum sudah kita kenal.
Almarhum juga tahu, terkadang orang mengejeknya sebagai pendekar Si BDGH.
Gus Dur
tenang saja. Beliau tahu sosok Badra, Si BDGH ini, sosok yang luar biasa,
bukan hanya powerful memiliki ilmu silat tinggi hingga bisa mengalahkan Si
Mata Malaikat, bukan saja sekali, bahkan dua kali! Namun, ia juga mengenal
wawasan Nusantara dalam penggembaraannya.
Jadi,
mereka yang niat awalnya hendak melecehkan Gus Dur dengan menyebutnya bagai
Si BDGH itu justru tidak paham betapa heroiknya Si BDGH ini. Hal tersebut
memperlihatkan kebanalan intelektual dan menunjukkan seperti apa budi
pekerti.
Seingat
saya, bagi Gus Dur, mata hati lebih penting dari mata untuk melihat. Kata
“mata hati” pula yang dipakai Megawati Soekarnoputri dalam perintah
hariannya, 14 Maret 2014, untuk mendukung Joko Widodo (Jokowi ) sebagai calon
presiden (capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Perintah
harian yang didahului kata merdeka itu menarik dan penting. Itu bukan saja
Megawati menunjukkan kepiawaian, melainkan juga memberangus desas-desus bahwa
Megawati masih ingin berkuasa, bentuk propaganda yang ingin memecah partai
banteng ini. Dokumen ini justru membalikkan propaganda dan menunjukkan, PDIP
siap bertanding di Pemilihan Umum (Pemilu) 2014.
Sederhana
Cara
Jokowi saat mendeklarasikan dirinya siap menjadi capres juga menarik. Beliau
baru saja mengunjungi rumah wisata Si Pitung, tokoh pendekar Betawi dari abad
ke-19 yang melawan kompeni Belanda, para tuan tanah, rentenir, dan para tauke
dengan centengnya.
Pemerintah
kolonial dan tuan tanah menganggap Si Pitung sebagai bandit dan memburunya.
Namun, dari kacamata rakyat Betawi saat itu, Si Pitung suka membagikan hasil
kerjanya, bagaikan cerita Robinhood dari Hutan Nottingham di Inggris.
Hikayat
Si Pitung ini memang muncul dalam berbagai versi, namun ada kesamaan
misalnya, dilahirkan di Rawa Belong (dekat Stasiun Palmerah) dan berguru pada
Haiji Naipin. Ada pula versi Si Pitung adalah nama panggilan yang berasal
dari bahasa Sunda, pinulung alias suka menolong/penolong, dipendekkan menjadi
Si Pitung. Nama aslinya adalah Salihun, putra keempat dari Bang Piung dan Mpok
Pinah.
Dari
media dilaporkan, Jokowi sempat mengunjungi rumah Si Pitung yang menjadi
objek wisata di Marunda. Bahkan ia sempat berada dalam salah satu kamar di
rumah Si Pitung tersebut sekitar 30 menit, tanpa diikuti wartawan.
Setelah
keluar dari rumah si Pitung yang juga dikenal “terang hati” oleh rakyat
Betawi, Jokowi menyatakan, ia mendapatkan mandat dan siap
melaksanakannya untuk menjadi capres
dari PDIP.
Apakah
dalam 30 menit tersebut di rumah Si Pitung Jokowi merasakan saat inilah yang
tepat. Apalagi, beliau sudah berpakaian Betawi lengkap dengan peci.
Jangan-jangan,
Jokowi melihat ada “kesamaan” dalam dirinya. Di tangannya ada tugas membawa
negeri ini menjadi Indonesia raya. Ia sempat mencium Merah Putih, serta
mengucapkan bismilah. Jokowi sosok nasionalis religius itu tampak sederhana
mendeklarasikan diri.
Jokowi
bagai pendekar, seperti Si Pitung dalam medan laga, hanya zaman berbeda.
Namun hakikatnya, tetap ada benang merah, membela si kecil, melawan angkara
murka, menyejahterakan rakyat.
Si
Pitung, jika ia adalah Salikun atau Salihun, bukan sosok fiktif seperti Si
BDGH. Namun keduanya menjadi bagian dari cerita rakyat antargenerasi di
negeri yang kemudian dikenal sebagai Indonesia kini. Mereka bisa dibilang
simbol tokoh yang menegakkan keadilan, termasuk keadilan sosial yang hingga
kini belum juga terlaksana.
Baik Gus
Dur yang pernah mencoba memenuhi cita-cita proklamasi saat menjadi presiden
maupun Jokowi yang saat ini sebagai capres, keduanya bukan lahir dari kecelakaan
sejarah. Kedua sosok ini hasil pergulatan dan perjuangan. Mereka adalah anak
yang mencoba menjawab tantangan zaman.
Mangkatnya
Abdurrahman Wahid meninggalkan lubang besar dalam percaturan politik
Indonesia. Namun, kedatangan Jokowi sebagai capres membawa angin segar dan
juga harapan baru.
Selamat
kepada Ibu Megawati Soekarnoputri yang memberikan contoh pemimpin sesungguhnya,
memberikan kader terbaik partainya untuk bertempur dalam Pemilihan Presiden
(Pilpres) 2014.
Animo
masyarakat sangat terasa, indeks harga saham gabungan naik, media sosial
merespons dengan berbagai cara, banyak yang positif dan ada juga negatif. Itulah
wajah politik Indonesia, ada yang santun, ada yang juga sangat vulgar. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar