Jumat, 25 Mei 2012

Fenomena Lady Gaga


Fenomena Lady Gaga
Toeti Prahas Adhitama; Anggota Dewan Redaksi Media Group
SUMBER :  MEDIA INDONESIA, 25 Mei 2012


SIAPA yang bertentangan dengan moral bangsa: Lady Gaga atau radikalisme dengan kekerasan? Untuk tidak menambah kontroversi, jawabnya terpulang pada kita masing-masing. Namun, kita menghormati pesan Menko Polhukam Djoko Suyanto. Dia mencoba mencari jalan agar tercapai kesepakatan. Masih satu minggu lagi menjelang D-Day.

Untuk tidak membesar-besarkan persoalan, Lady Gaga rasanya hanyalah sebuah fenomena yang tidak akan lama bertahan di dunia pertunjukan; apalagi untuk khalayak Indonesia. Kita ingat apa jadinya dengan Inul yang pernah menjadi perkara di negeri ini. 

Lagi pula sikap kita seputar masalah seperti ini tidak konsisten: sampai sekarang pun panggung-panggung dangdut masih mempertontonkan gadis-gadis bercelana pendek bergoyang pinggul mengikuti irama Melayu, dengan napas terengah dan ayunan dada bergerak seiring goyangan pinggul. Ketika gelombang penonton bersorak-sorai, kita lupa akan keberatan bahwa tontonan sensual katanya bisa merusak moral bangsa. Terkait dengan tontonan semacam ini bisa mengganggu ketertiban, itu memang sering terjadi. Siapa yang bertanggung jawab atas masalah ketertiban dan keamanannya? Siapa lagi kalau bukan Pak Polisi.

Introspeksi

Dalam dunia yang aktivitasnya makin menyatu, dengan batas-batas wilayah yang tidak terlalu keras dan ketat seperti dulu, ketersinggungan antarmasyarakat berbagai negara tidak bisa dihindari. Kebijakan pasar bebas membuka jalur lalu-lalang manusia, barang, jasa, dan produk-produk budaya. Tidak jarang kita mendengar tindakan-tindakan saling balas baik untuk urusan politik maupun perdagangan.

Kita memang jarang mendengar urusan produk-produk budaya bisa menjadi perkara. Misalnya, bagaimana sikap rakyat kita seandainya mendengar ada rombongan pertunjukan budaya/panggung kita diancam dengan kekerasan oleh penduduk negara lain? Bukankah mencari titik temu merupakan jalan paling bijak? Tentu kita tidak mau menang sendiri. TKI mendapat perlakuan buruk pun kita toh mampu mengekang emosi, sekalipun dibarengi rasa berang.

Idealnya, dalam hal Lady Gaga, alangkah bijaknya bila perempuan muda yang sedang digandrungi orang-orang muda dunia itu membawakan diri dengan empati. Tentu tidak mudah bagi penari/penyanyi yang mengenal dunia `burlesque' di Amerika, yang biasa memperagakan tarian dan tampilan sensual--dan menjadi sangat populer oleh karenanya--terpaksa mengubah jati diri agar sesuai dengan budaya penontonnya. Lebih-lebih bila perempuan itu terlalu percaya diri dengan keyakinannya bahwa seniman harus mendengarkan suara batinnya. Kita tunggu apakah sikapnya yang keras bisa melunak.

Ada Apa Dengan Budaya Kita?

Banyak yang kecewa menyaksikan gejala-gejala yang terjadi di dunia budaya kita; khususnya generasi lama. Banjir hiburan televisi berbagai ragam dari dunia luar, khususnya dari negara adidaya, mau tidak mau memengaruhi perkembangan jiwa kaum muda kita. Tanpa kita sadari, mereka bergerak menjauh dari produk-produk budaya lokal yang dulunya merupakan satu-satunya sumber hiburan rakyat.

Untuk orang Jawa/Bali, misalnya, dulu irama gamelan bisa membangkitkan berbagai rasa keindahan. Bayanganbayangan bisa datang dari dunia pewayangan, dari panggung wayang orang, atau sekadar klenengan di pendopo kerajaan yang diikuti tarian para putri istana. Untuk orang Sumatra, irama Melayu mengenangkan mereka pada tarian-tarian anggun zaman Sriwijaya, atau sekadar tari pergaulan yang populer di kalangan orang-orang muda. Dari yang lama-lama itu, apakah ada yang bisa menggoda selera orang muda?

Ketika pemuda-pemuda cilik dari Korea membuat gadis-gadis kita histeris, timbul pertanyaan, mengapa para koreografer kita tidak mampu menghasilkan produkproduk yang menggelitik remaja-rema ja kita? Berwacana bahwa kita bangsa yang berbudaya tinggi tidak akan membawa kita kepada persaingan dunia masa kini bila kita terjebak menjadi masyarakat penerima saja, bukan masyarakat pemberi.

Adat percaturan dan persaingan politik/ekonomi dan budaya masyarakat dunia tidak hanya mengandalkan kemampuan berbudaya cara lama, tetapi juga kemampuan berpikir lugas dan pragmatis mengikuti gerak zaman; namun tanpa mengorbankan ciri-ciri budaya sendiri. Banyak negara dari dunia Timur mampu bersaing tanpa mengabaikan budaya mereka.

Bila kita bicara tentang budaya masyarakat dunia yang heterogenitasnya demikian tinggi, tentu tidak mungkin membuat keseragaman dalam nalar dan selera. Maka wajar bila sebuah kelompok suatu kali menolak kultur kelompok lain, sekalipun nanti mereka bisa seragam dalam hal lain lagi. Begitu seterusnya sehingga berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang keliru tidak akan ada gunanya; sebab kultur menyangkut nilai, norma, keyakinan, dan ideologi.

Kita bicara tentang ‘nilai’ yang terekspresikan dalam pilihan kita dan yang bernuansa moral. Kita bicara soal ‘keyakinan’ bila kita membuat pernyataan-pernyataan eksistensial tentang dunia fi sik dan sosial. Kita bicara soal ‘norma’ bila hal itu menyangkut preskripsi atau proskripsi sikap kita dalam situasi tertentu. Ideologi merupakan penafsiran umum tentang suatu realitas. Founding fathers memilih Pancasila sebagai ideologi kita; dipetik dari puncak-puncak unsur-unsur budaya kita. Akan tetapi, ideologi ini terkesan dan terasa makin diabaikan. Nalar ekonomi mendominasi. Keresahan dalam kehidupan sosial-politik menjadi bukti.

Jadi, bagaimana dengan perkara Lady Gaga? Dia sekadar fenomena yang lewat sepintas; tidak pantas untuk dirusuhkan di luar batas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar