Harapan
untuk Presiden Mendatang
Tommy Maulana ;
Pemerhati
Sosial
dari Lembaga
Kelompok Diskusi Pemuda dan Masyarakat Jakarta
|
OKEZONENEWS,
18 Maret 2014
|
Hinggar
bingar Pemilihan Umum (pemilu) sudah mulai terasa getarannya, berbagai
atribut partai politik (parpol) mulai bertebaran di penjuru nusantara.
Kesiapan parpol mengusung kandidat penerus kepemimpinan Susilo Bambang
Yudhoyono pun turut menyemarakan pesta
demokrasi yang digelar pada 2014 ini.
Upaya
meraih kemenangan pun terus digalakan. Namun, di balik itu semua ada sebuah
pekerjaan penting yang tetap harus diselesaikan oleh pemerintahan SBY dan ini
merupakan sebuah PR besar yang harus digaris bawahi serta diselesaikan. Tak
mengherankan ketika menggelar rapat terbatas membahas mengenai rancangan awal
dan pagu indikatif tahun 2015 di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (10/3/2014),
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan pembahasan dan penyusunan
RKP dan APBN tahun 2015 masih merupakan tugas dan kewajiban pemerintahannya.
Meskipun
RKP dan APBN tahun 2015 akan dilaksanakan pemerintahan baru, tetapi menurut
alumni Akabri 1973, tetap menjadi tugas dan kewajiban pemerintahannya untuk
melakukan penyusunan. Hal itu sesuai dengan amanah dan ketentuan
undang-undang berlaku. Namun, sangat dimungkinkan pula setelah pemerintahan
baru terbentuk akan ada revisi atau peninjauan kembali RKP dan APBN 2015. Hal
ini, kata SBY, tidak lain bertujuan agar pemerintahan baru bisa mengerti dan
memikirkan apakah itu dijalankan dulu baru kemudian nanti direvisi dan
dilakukan perubahan. Atau justru segera dilakukan perubahan.
Menyikapi
permasalahan ini penulis menilai merupakan sebuah langkah bijak. Meski
diakhir jabatannya dirinya tetap memfokuskan diri agar pemerintahan berjalan
dengan baik. Di sisi lain dirinya mengiginkan agar masalah ekonomi nasional
tetap terjaga dan terkait masalah kepentingan rakyat tetap menjadi fokus
utama.
Selama
kepemerintahan Yudhoyono, penulis mengakui, meski saat ini dijumpai masih
banyak kekurangan dalam pelaksanaan pembangunan dan belum bisa memuaskan
seluruh lapisan sosial, namun kita
juga mesti jujur bahwa banyak pula keberhasilan yang telah dicapai
pemerintahan saat ini, baik di tingkat nasional, regional maupun global.
Sebagai
anggota G-20 negara dengan simbol Pancasila, berpotensial menjadi 10 besar
dunia pada 2025 mendatang. Terlampir dalam laporan McKinsey Global Institute (MGI) yang tertuang dalam “The Archipelago Economy: Unleashing
Indonesia’s Potential” mengungkapkan bahwa Indonesia berpotensi menjadi
negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia di tahun 2030, mengalahkan
Jerman dan Inggris.
Chairman
MGI Indonesia Raoul Oberman menempatkan perekonomian Indonesia diurutan ke 16
untuk kategori ekonomi terbesar di dunia. Dengan mengkategorikan kelas
konsumen sebagai penduduk dengan pendapatan per kapita lebih besar atau sama
dengan USD3.600 pertahun.
Sejarah
mencatat, sejak negara ini berdiri dan
sejak lahirnya ASEAN, baru kali ini kabinet Indonesia dan Sekretaris Jenderal
ASEAN bekerja sama yang bertujuan memastikan keberhasilan Indonesia sebagai
pemimpin ASEAN 2011.
Penekanan
terkait yang dilakukan SBY selama ini terkesan menginginkan agar adanya perbaikan
di bidang stabilitas ekonomi. Tujuannya sangat jelas, agar dana investasi terbuka lebar dan terus mengalir
deras ke Indonesia. Penulis tak memungkiri kunci melesatnya nama Indonesia,
salah satunya karena ada skema pembangunan MP3EI yang membuat para investor
memiliki keyakinan dan jaminan investasi di Indonesia. Tak mengherankan jika
berbagai perbaikan terus ditingkatkan, tujuannya untuk menyingkirkan berbagai
hambatan yang selama ini mengganjal masuknya investasi agar investor betah
menanamkan modalnya di Indonesia.
Meski di
tiap daerah yang dijadikan sasaran MP3EI memiliki perbedaan karakteristik,
namun tetap memfokuskan dan menekankan agar tiap daerah mampu mencapai
peningkatan. Langkah tersebut terbukti membawa pengaruh pada peningkatkan nilai
tambah produk daerah dan nasional dengan arti sesungguhnya mengurangi ekspor bahan baku tetapi
memperbesar ekspor bahan jadi, mendorong inovasi, mengintegrasikan pendekatan
sektoral dan regional serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai
dengan dukungan yang dibutuhkan.
Bukan
itu saja, daerah pun didorong agar mampu melaksanakan akselerasi pembangunan
di dalam koridor ekonomi, serta membagi daerah-daerah sebagai Kawasan
Perhatian Investasi (KPI). Kawasan Perhatian Investasi ini merupakan kumpulan
beberapa sentra produksi atau kegiatan investasi yang terhimpun di area yang
berdekatan. Melalui KPI diharapkan nantinya kebijakan peningkatan dan
perluasan ekonomi dapat dijalankan dengan membangun kolaborasi antara
pemerintah pusat, daerah, dunia usaha dan Masyarakat.
Tak
mengherankan jika program ini pada akhirnya di anggap sebagai desain terbesar
dalam pembangunan jangka menengah-panjang di negeri ini, yang disebut dengan
julukan Visi 2025. Dalam desain ini, diharapankan Indonesia pada
2025, menjadi negara maju dan ekonominya masuk 12 besar dunia. Ketika itu,
produk domestik bruto (PDB) kita mencapai USD3,8-4,5 triliun dengan
pendapatan per kapita sebesar USD 13.000-16.100. Saat ini, PDB Indonesia
mencapai Rp8.241,9 triliun (hampir USD850 miliar) atau PDB per kapita
USD3.562.
Pengaturan
dalam program yang terus terbagi dalam enam zona ekonomi pembangunan atau
koridor, diantaranya Koridor Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi
Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawesi, Koridor Ekonomi Bali-Nusa Tenggara, dan
Koridor Ekonomi Papua-Kepulauan Maluku.
Selain
itu, terdapat delapan program unggulan, yang terdiri atas dua puluh dua
kegiatan ekonomi utama dengan menggunakan tiga elemen utama yaitu, Pertama,
mengembangkan potensi ekonomi wilayah di enam Koridor Ekonomi Indonesia.
Kedua, memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan
terhubung secara global (locally
integrated, globally connected). Ketiga,
memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung
pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi.
Upaya
lainnya agar tercipta pemerataan kesejahteraan dengan memperluas lapangan
pekerjaan dengan target sampai dengan tahun 2014 diharapkan tercipta 9,4 juta
lapangan kerja, yang meliputi sektor industri sebesar 4.731.770, dan kegiatan
pendukung untuk sektor infrastruktur sebesar 4.975.400 Kesempatan kerja
dibuka dengan 32 kegiatan utama di 6 (enam) koridor yang tersebar di Pulau
Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali-NTB, dan Maluku-Papua.
Sebagian besar lapangan kerja tersebut, terbuka hanya untuk tenaga
kerja non pertanian. Sedangkan tenaga kerja untuk sektor pertanian hanya ada
2 koridor yakni Sulawesi dan Maluku-Papua. Sementara untuk kegiatan utama
lainnya pada sektor industri, tambang, tehnologi, dan lain sebagainya. Dari apa yang telah dilakukan Ketua Umum
Partai demokrat ini, penulis menyimpulan Presiden SBY sangat berharap kepada
pemerintahan selanjutnya ada
kesinambungan antaragenda pembangunan pemerintahannya dengan
pemerintahan baru mendatang. Tujuannyan
agar program-program pemerintahan selama ini dapat diadobsi dan dilanjutkan pemerintah selanjutnya dan
menjadi lebih baik. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar