Memilih
Pemimpin Peduli Pendidikan
Agus Wibowo ;
Pemerhati dan
Magister Pendidikan Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
|
MEDIA
INDONESIA, 17 Maret 2014
PARA kandidat pemimpin bangsa
yang hendak berlaga pada Pemilu 2014 sudah berlomba menawarkan visi dan misi.
Secara umum, visi dan misi para kandidat itu belum bergeser dari persoalan
korupsi, demokrasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan.
Jika dikaji dengan saksama, visi pendidikan yang ditawarkan para kandidat
masih sangat dangkal. Belum ada tawaran yang bisa menjadi solusi atas
persoalan pendidikan bangsa saat ini dan yang akan datang.
Pemimpin petahana, misalnya,
menganggap visi pendidikan yang dijalankan selama ini masih efektif. Program
keluarga harapan (PKH), bantuan operasional pendidikan (BOS), aneka beasiswa
bagi siswa dan mahasiswa kurang mampu, kebijakan pendidikan karakter,
kurikulum 2013, sertifi kasi guru, kebijakan pendidikan menjangkau yang tidak
terjangkau dan sebagainya, dianggap solusi mengatasi persoalan pelik
pendidikan bangsa.
Adapun dari kandidat pemimpin
yang lain belum ada tawaran visi strategis guna memajukan pendidikan bangsa.
Mereka terkesan gamang menawarkan konsep pendidikan terbaik bagi bangsa ini.
Pendek kata, belum ada kandidat pemimpin yang mantap menawarkan visi yang
sesuai kondisi kekinian serta mampu memajukan pendidikan anak bangsa.
Peta jalan
Pendidikan itu jantung peradaban
dan kunci masa depan bangsa. Para founding
fathers seperti Ki Hadjar Dewantara, RA Kartini, Dewi Sartika, Mohammad
Hatta, KH Hasyim As'arie, KH Ahmad Dahlan, dan Romo Mangun sejak jauh hari
menekankan pentingnya pendidikan bagi bangsa ini. Aspek ekonomi, sosial, dan
politik memang perlu, tetapi pendidikan jauh lebih penting. Pendidikan itu
kunci meraih peradaban dan keadaban.
Selain itu, UUD 1945 secara
tegas mewajibkan negara mengakomodasi hak asasi pendidikan warganya. Itu
karena melalui pendidikan, setiap warga negara berpeluang menjalani proses
transformasi diri, membangun karakternya guna meraih masa depan yang lebih
baik dan lebih cerah. Bahkan, baik-tidaknya peradaban, keadaban, serta
kesejahteraan sebuah bangsa sangat ditentukan seberapa baik pendidikan yang
dilakoni.
Visi pendidikan bagi para
kandidat pemimpin amat penting karena menjadi semacam peta jalan ketika
mereka terpilih. Mau dibawa ke mana arah pendidikan bangsa itu sudah jelas,
tanpa harus gonta-ganti kebijakan pendidikan. Ketika kandidat pemimpin belum
memiliki visi pendidikanatau visi yang dangkal--kinerja mereka jelas
terhambat.
Ketika memimpin nanti, progres
mereka akan gres mereka akan
tersita karena harus merumuskan ulang visi pendidikan. Belajar dari
kepemimpinan sebelumnya, pendidikan kita seperti kehilangan arah. Kurikulum
dan aneka kebijakan pendidikan justru menimbulkan kebingungan para guru,
orangtua, dan anak didik. Kebijakan dan praktik pendidikan kita justru
menjadi `monster' yang siap merenggut keceriaan dan masa depan mereka.
Ketidakjelasan arah pendidikan
kita selama ini menjadi kajian serius dalam konvensi Persatuan Guru Republik
Indonesia (PGRI) (18/2). Konvensi dengan tema Pendidikan Indonesia dan daya
saing bangsa itu dihadiri para tokoh penting seperti mantan Presiden BJ
Habibie, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua DPR Marzuki Alie, Sri Edi
Swasono, HAR Tilaar, dan tentu saja perwakilan nguru dari berbagai daerah di Tanah
Air (Media Indonesia, 19/2).
Menurut HAR Tilaar, pemimpin
yang berkuasa selama ini belum mampu merumuskan arah dan tujuan pendidikan
guna menyiapkan anak bangsa yang cakap, bangsa yang cakap, kreatif, dan
bertanggung jawab. Padahal, lanjut Tilaar, saat ini Indonesia sudah harus
menciptakan generasi emas yang diharapkan bisa memajukan kehidupan bangsa.
Ketidakjelasan arah dan tujuan pendidikan bangsa dipicu oleh pemimpin yang
memberikan ruang bagi neoliberalisme untuk ikut campur mengurusi dunia
pendidikan.
Pemimpin mendatang harus mampu
mereformasi arah dan sistem pendidikan bangsa. Demikian pesan tersirat yang
disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penjaminan Mutu
Pendidikan Kemendikbud Syawal Gultom. Pemimpin mendatang harus menerapkan
kurikulum 2013 agar karakter anak didik bisa diperbaiki yang nantinya akan
menjadi fondasi ampuh mereka ketika hidup dalam lingkup keluarga, masyarakat,
dan bangsa.
Singkatnya, sudah ditanamkan
kepada anak didik sejak dini bahwa bangsa ini plural/majemuk, dan mereka
harus menjaga serta merawatnya. Menghargai dan menghormati perbedaan menjadi
langka karena sejak awal paradigma telanjur keliru. Keberbedaan dianggap
sebagai benuk pembangkangan atau perlawanan. Anak didik yang berbeda pendapat
dengan gurunya dianggap tidak patuh atau durhaka.
Pencapaian prestasi anak didik
dianggap berhasil jika tidak ada selisih `mencolok' dari keseragaman yang
ditargetkan. Model pendidikan yang mengebiri perbedaan dan keragaman
menjadikan mereka kerdil dan antikebinekaan.
Di sisi lain, dalam model
pengajaran agama dinilai banyak kalangan belum mampu menafsirkan kebinekaan
secara indah. Pengajaran agama belum bergeser pada apa yang disebut banyak
kalangan pada persoalan syariat kaku; terutama menyangkut halal-haram atau
kafir-tidak kafir. Pendidikan agama menjadi sesuatu yang menakutkan karena
tidak bergeser dari `jihad' membasmi mereka yang berbeda.
Habib Muhammad Lutfi (2012) jauh
hari sudah mengingatkan agar pengajaran agama menjadi lem perekat Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Itu artinya pengajaran agama hendaknya
tidak sekadar mengurusi kawasan ibadah yang sifatnya vertikal, tetapi juga
pada kawasan horizontal; bagaimana anak didik bergaul secara santun dan bijak
dalam perbedaan, atau bagaimana menjalin komunikasi yang harmonis antar umat
beragama maupun antarkeyakinan yang berbeda.
Libatkan guru
Agar pemimpin mendatang mampu
membawa arah dan tujuan pendidikan bangsa, senada dengan solusi Tilaar, saya
memandang perlunya pelibatan guru secara aktif. Para guru harus dilibatkan
dalam proses perumusan dan perencanaan aneka kebijakan pendidikan. Untuk
menangkap aspirasi dan pesan bijak, para kandidat pemimpin perlu blusukan ke sekolah-sekolah, diskusi
dari hati ke hati dengan para guru dan warga sekolah. Ketika para guru
dilibatkan secara aktif, kebijakan pendidikan yang dihasilkan akan memiliki
relevansi yang efektif dan positif bagi kinerja mereka dan kejelasan arah
pendidikan bangsa pada umumnya. Apakah selama ini guru tidak pernah
dilibatkan dalam pembuatan kebijakan pendidikan?
Jarang sekali, untuk mengatakan tidak pernah! Para guru hanya terima jadi tanpa ada ruang untuk bernegosiasi apalagi memberi masukan.
Sebagai contoh pada pembuatan
kurikulum 2013. Doni Koesuma (2014:7), memandang bahwa dalam pembuatannya,
guru tidak dilibatkan secara aktif. Bahkan guru harus dikontrol secara
terpusat melalui kurikulum baru itu. Desain kurikulum 2013 lebih mendasarkan
diri pada mekanisme pemusatan kontrol negara atas pendidikan, mulai dari
desain awal, pembuatan buku, sampai mekanisme evaluasi dan penilaian.
Dipilihnya guru inti langsung oleh pemerintah melalui Kemendikbud untuk
menyosialisasikan kurikulum 2013 menandakan bahwa pemerintah serbatahu dan
serbapintar mengurusi pendidikan, sedangkan guru dianggap tidak tahu-menahu.
Guru merupakan garda terdepan penentu keberhasilan pendidikan. Karena peran strategis dan penting itu, penanganan guru harus disentralisasi kembali. Model penanganan guru secara desentralisasi selama ini justru menempatkan mereka pada posisi tidak menguntungkan. Mereka lebih kerap menjadi komoditas elite politik lokal. Alih-alih konsen memikirkan pendidikan siswanya, para guru bersama kepala sekolah justru dipaksa menjadi barisan tim sukses calon bupati/wali kota. Jika tidak bersedia, posisi mereka bisa lebih buruk lantaran mudah dirotasi sesuka hati oleh pemerintah lokal. Ke depan guru harus ditangani oleh pusat agar kinerja mereka semakin meningkat. Kita berharap para kandidat pemimpin segera menyodorkan visi pendidikan yang jitu. Visi itulah yang akan menjadi peta jalan untuk membenahi pendidikan bangsa. Tanpa visi yang jelas, pemimpin mendatang hanya akan terus bongkar-pasang kebijakan pendidikan--yang jelas semakin merugikan nasib anak bangsa ke depan. Roh kebinekaan harus membingkai semua kebijakan pendidikan. Pemimpin bangsa mendatang mestinya sudah memiliki konsep tentang itu. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar