Dakwah
di Amerika Serikat
Uwes Fatoni ;
Dosen UIN Bandung,
Peserta Program Sandwich Kemenag RI di Amerika
|
REPUBLIKA,
12 Maret 2014
|
Republika (8/3) memberitakan
pencekalan dan penahanan Ustaz Felix Siauw oleh otoritas bandara
Internasional Houston, AS, pada 5 Maret 2014. Ustaz keturunan Tionghoa ini
dikabarkan dipenjara selama 26 jam
sehingga ia membatalkan agenda dakwahnya di 11 negara bagian di AS.
Berita pencekalan Ustaz Felix
Siauw ini ramai menjadi topik pembicaraan jamaah masjid Al-Hikmah, New York.
Pasalnya, Kota New York akan menjadi kota terakhir rihlah dakwah ustaz muda
tersebut di Negeri Paman Sam. Kebetulan ketika dalam proses penahanan, Ustaz
Felix Siauw sempat menyampaikan kabar penahanannya tersebut sekaligus memohon
doa kepada Ustaz Shamsi Ali, tokoh Islam terkenal New York asal Indonesia.
Saya yang sedang meneliti Islam di Amerika dan dakwah Imam Shamsi Ali
mengikuti perkembangan penahanan Ustaz Felix Siauw ini dari beliau.
Bagi umat Islam di Amerika,
proses pemeriksaan (screening) di
Bandara Internasional Amerika memang sering menjadi momok yang menakutkan. Bagi
mereka yang memiliki nama Islam, terutama nama yang sama dengan tersangka teroris,
akan masuk dalam daftar merah Departement
of Home Land (DHL List) Amerika. Ketika ia masuk bandara, namanya
otomatis ditandai silang dan langsung ditahan untuk diwawancarai oleh bagian
imigrasi bandara. Ketika datang kabar Ustaz Felix Siauw ditahan, jamaah
masjid Al-Hikmah menduga bahwa ia ditahan karena masuk dalam daftar tersebut.
Namun, ketika diketahui pencekalan terjadi karena pelanggaran visa, akhirnya
rumor tersebut hilang.
Ustaz Felix Siauw tahun lalu
sebenarnya sudah pernah mengadakan dakwah keliling di Amerika dan tidak ada
masalah. Ketika kemarin ia kembali diundang oleh ICMI untuk berceramah di 11
negara bagian dengan biaya ditanggung oleh panitia, visa yang digunakannya
adalah visa B1/B2, yaitu visa untuk tujuan berkunjung (visitor). Di Amerika
masalah visa sangat sensitif.
Ustaz Felix Siauw ditanya apakah
medapat honor dari kegiatan-kegiatan dakwahnya, ia menjawab iya. Akibat salah
menggunakan visa tersebut, ia kemudian ditahan untuk proses pemeriksaan lebih
lanjut, bukan dipenjara sebagaimana berita Republika. Setelah pemeriksaan, ia
diputuskan tidak boleh masuk Amerika. Dalam beberapa kasus yang lain,
penolakan masuk ke Amerika ini biasanya tanpa ada penjelasan sama sekali dari
pihak imigrasi bandara.
Tentu saja, peristiwa penolakan
Ustaz Felix Siauw ini sangat disayangkan oleh umat Islam di Amerika,
khususnya dari Indonesia. Kehadiran ustaz dari Tanah Air akan semakin
menyemarakkan kegiatan dakwah di Negeri Paman Sam yang saat ini sedang
menggeliat.
Lahan subur Pascaperistiwa
terorisme 9/11, Islam di Amerika menghadapi tantangan yang sangat berat. Umat
Islam setelah peristiwa itu digambarkan oleh media sebagai orang-orang yang
menganut paham kekerasan dan terorisme sehingga dianggap berbahaya bagi keselamatan
negeri Barack Obama ini. Namun seiring waktu, Islam justru semakin berkembang
dan menemukan lahan suburnya di Amerika. Imam Faisal Abdul Rauf dalam
bukunya, Moving the Mountain: Be yond
the Ground Zero to a New Vision of Islam in America (2012), sudah
memprediski Islam di Amerika akan berkembang secara bertahap.
Dalam kurun waktu 10 tahun, jumlah
Islamic center atau masjid di Amerika mengalami peningkatan yang cukup tajam.
Menurut Imam Sham si Ali, sebelum peristiwa 9/11 tahun 2001 jumlah masjid di
New York masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini, setelah 13 tahun
peristiwa itu berlalu, jumlah masjid ber tambah sampai 250 buah yang tersebar
di seantero Kota New York. Bahkan, Islamic Center Park 51 yang berada dua
blok dari Ground Zero tempat WTC hancur, diizinkan berdiri oleh wali kota New
York saat itu, Bloomberg, yang keturunan Yahudi, padahal saat itu beberapa
warga New York menentangnya.
Perkembangan Islam juga bisa
dilihat dari menjamurnya kedai makanan halal. Dalam empat tahun terakhir di
Kota New York bermunculan pedagang kaki lima (cart food) yang berlabel "halal food". Hampir di setiap
pusat keramaian dan tempat wisata New York bisa ditemukan dengan mudah kedai
makanan halal tersebut, seperti di Times Square, kantor PBB, bahkan dekat
lokasi memorial Park 9/11 Ground Zero.
Umat Islam di Kota New York memang
sangat cepat pertumbuhannya. Ini terjadi karena faktor imigrasi atau kedatangan
pekerja migran dari negara-negara Muslim, seperti Pakistan, Bangladesh, dan
Mesir, selain juga karena faktor keturunan dan konversi masuk Islam.
Pertumbuhan kuantitas umat Islam ini juga dibarengi dengan pertumbuhan aliran
Islam. Di Kota New York terdapat komunitas Islam Sunni, Syi'ah, bahkan
Ahmadiyah. Mereka menyatu dengan perbedaannya masing-masing mengembangkan dakwahnya
dan juga membentuk organisasi Islam di tingkat kota maupun tingkat nasional.
Inovasi dakwah
Ada sisi unik dari kegiatan
dakwah Islam di Amerika. Dakwah tidak hanya dilakukan secara eksklusif
internal, tapi juga secara eksternal (outreach),
yaitu melalui dialog dengan komunitas agama lain. Seperti Imam Shamsi Ali
yang menginisiasi program dialog lintas iman (interfaith dialogue) dengan komunitas Yahudi bersama-sama dengan
Rabbi Marc Schneier, tokoh terkenal Rabbi Yahudi di New York. Ide dialog ini
awalnya banyak ditentang oleh kedua komunitas tersebut.
Isu Palestina-Israel sering
menjadi bahan bakar yang mudah menyulut emosi para imam dan rabi ketika mereka
awal-awal berdialog. Saat itu, prasangka dan stereotip masih sangat kuat menyelimuti.
Seiring waktu kedua komunitas ini mulai saling menyapa dan saling memahami.
Imam Shamsi Ali dan Rabbi Schneier bahkan menerbitkan buku bersama berjudul, Sons of Abraham: Issues Unite and Divide
Jews and Muslims (2013), yang memaparkan kesamaan dan perbedaan kedua
agama turunan Nabi Ibrahim ini. Buku tersebut disambut hangat oleh komunitas
Islam dan juga Yahudi. Beberapa kali telah diadakan bedah buku, termasuk pada
Ahad (9/3) di Komunitas Islam Jamaica New York. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar