Membangun
Kedaulatan Pangan
Dwi Andreas Santosa, KETUA PS S-2 BIOTEKNOLOGI TANAH DAN LINGKUNGAN;
AKTIF DI GERAKAN PETANI
Sumber : KOMPAS, 11 Februari 2012
Di suatu siang yang terik pada 18 Januari
2012 lalu, penulis berkesempatan berbincang dengan seorang petani (wanita) di
suatu desa di Distrik Medak, Andhra Pradesh, India. Di hadapan kami terbentang
luas ladang yang ditanami sekitar 20 jenis tanaman.
Tanaman-tanaman tersebut tumbuh subur di
tengah cuaca kering tanpa hujan selama enam bulan terakhir. Tanah seluas hampir
10 hektar tersebut semula adalah tanah kering tidak produktif yang dibeli
bersama-sama oleh kelompok petani wanita (sanghams) dari seorang tuan tanah
sekitar 20 tahun silam. Sistem pengelolaan berbasis agroekologi yang mereka lakukan
ternyata mampu membalikkan kondisi tanah: dari yang semula tidak produktif
menjadi produktif.
Gerakan ”kedaulatan pangan” tersebut
perlahan-lahan membesar dan sejak tahun 2000-an mulai diadopsi menjadi gerakan
massal petani kecil di India. Mereka mengembangkan benih, membuat pupuk
organik, pestisida nabati, menanam berbagai varietas tanaman lokal di
ladang-ladang mereka, dan mengembangkan lumbung pangan sendiri. Melalui gerakan
semacam itu, terjadi peningkatan produksi pangan yang tinggi di wilayah-wilayah
tersebut, yang mampu menopang kebutuhan pangan setempat dan komunitas di luar
mereka.
Krisis Ketahanan Pangan
Kondisi yang bertolak belakang kita alami
saat ini di Indonesia. Presiden dalam pembukaan ”Jakarta Food Security Summit,
Feed Indonesia Feed The World 2012” menyatakan tidak mudah meningkatkan
produksi pangan dunia di masa depan (Kompas, 8 Februari 2012). Alih-alih akan
memberi makan dunia (feed the world), perkembangan produksi pangan Indonesia
dalam beberapa tahun terakhir ini justru mengarah yang sebaliknya.
Apabila kita bandingkan data perdagangan
pangan periode 2009/2010 dengan periode 2010/2011, terjadi peningkatan luar
biasa impor pangan. Impor beras meningkat 141 persen, jagung 89 persen, dan
kedelai 19 persen (USDA, Desember 2011). Impor gandum yang tahun sebelumnya
sudah menembus angka di atas 5 juta ton, pada periode sekarang masih meningkat
lagi dan mencapai 6,6 juta ton atau peningkatan sebesar 23 persen. Total impor
biji-bijian, termasuk tepung, untuk periode 2010/2011 mencapai 17,2 juta ton,
suatu angka impor yang fantastis.
Ironisnya, bukan hanya berbagai ”pangan
pokok” tersebut, rak-rak supermarket di Indonesia 60-80 persen diisi
buah-buahan impor. Impor apel, anggur, pir, dan jeruk pada 2010/2011 meningkat
masing-masing sebesar 37, 39, 44, dan 19 persen dibandingkan dengan periode
tahun sebelumnya.
Terdapat berbagai permasalahan besar yang
menyebabkan produksi pertanian kita stagnan, bahkan cenderung menurun. Iklim
selalu menjadi ”kambing hitam” jika terjadi penurunan produksi pertanian di
Indonesia. Tak bisa dipungkiri bahwa pada kondisi musim kering
berkepanjangan produksi pertanian biasanya menurun. Akan tetapi, dalam kondisi
yang relatif normal, terlalu naif menyalahkan iklim sebagai biang keladi
penurunan produksi.
Salah satu penyebab terkait hal tersebut
adalah ketidakmampuan kita mengelola air. Hanya 10 persen air irigasi yang bisa
dikendalikan, 50 persen jaringan irigasi strategis nasional di Pulau Jawa
rusak, dan 27 persen seluruh jaringan irigasi nasional perlu rehabilitasi
ringan hingga berat (DA Santosa, ”Waspadai Pangan 2012”, Kompas, 11 November
2011).
Lahan pertanian merupakan persoalan besar
lainnya. Dengan luas lahan pertanian pangan yang hanya 358 meter persegi per
kapita untuk sawah atau 451 meter persegi jika digabungkan juga dengan lahan
kering, upaya dan terobosan apa pun untuk peningkatan produksi akan mengalami
jalan buntu. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya konversi lahan pertanian
ke non-pertanian. Angkanya 100.000 hingga 110.000 per hektar per tahun.
Padahal, lahan-lahan pertanian itu sebetulnya sudah ”dilindungi” oleh
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan.
Teknologi peningkatan produksi juga memiliki
keterbatasan. Stagnasi peningkatan produksi melalui asupan teknologi tidak
hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, yang merupakan salah satu
eksportir pangan dunia, produktivitas tiga jenis tanaman utama mereka (gandum,
jagung, dan kedelai) tidak banyak berbeda dibandingkan dengan tahun 1980-an.
Upaya melalui teknologi transgenik yang sudah diterapkan sejak tahun 1996 untuk
empat jenis tanaman, yaitu jagung, kedelai, kanola, dan kapas, juga tidak
membawa dampak positif terhadap produktivitas tanaman tersebut.
Membangun Kedaulatan Pangan
Lalu, bagaimana upaya-upaya yang dapat kita
kerjakan pada masa depan? Gerakan petani kecil di India yang diulas
sebagai pengantar tulisan ini dapat dijadikan contoh nyata
bagaimana upaya pemenuhan kebutuhan pangan seharusnya dikembalikan ke ranah
petani kecil.
Konsep yang mereka kembangkan sangat berbeda
dibandingkan dengan konsep ketahanan pangan yang menempatkan pangan sebagai
komoditas perdagangan serta pemisahan tegas antara produsen, pedagang, dan
konsumen. Petani kecil di India memahami kedaulatan pangan dengan bahasa yang
sangat sederhana, yaitu pangan lokal, produksi lokal, penyimpanan lokal, dan
distribusi lokal.
Melalui gerakan kedaulatan pangan yang
dirintis lembaga nirlaba Deccan Development Society (DDS), yang
melibatkan para petani di 77 desa, mereka berhasil memproduksi pangan
(biji-bijian) ekstra sebesar 2.000.000 kilogram per tahun. Melalui program ini
pula mereka menciptakan 250.000 lapangan kerja harian dan mampu menyumbang
pangan bagi 50.000 penduduk miskin (DDS, 2008).
Sebagaimana di Indonesia, Pemerintah India
dalam upaya penanggulangan kemiskinan juga melakukan program bantuan pangan
untuk masyarakat miskin, yang dikenal dengan Public Distribution System.
Dibandingkan dengan program pemerintah tersebut, program yang mereka kerjakan
jauh lebih efisien. Hanya Rp 1 per Rp 7 rupiah pengeluaran pemerintah yang
benar-benar diterima oleh masyarakat sasaran.
Pengeluaran terbesar adalah untuk
administrasi, transportasi, dan distribusi pangan. Sebaliknya, melalui gerakan
kedaulatan pangan, setiap Rp 1,6 dana yang dikeluarkan, sebesar Rp 1 akan
diterima langsung oleh masyarakat sasaran.
Pemerintah India mendukung dan mendanai
gerakan kedaulatan pangan yang dimotori oleh lebih dari 500 organisasi akar
rumput. Gerakan tersebut menjadi salah satu pilar yang berhasil membantu
Pemerintah India menyediakan pangan bagi 1,21 miliar penduduknya. Ketika
Indonesia dengan jumlah penduduk 241 juta jiwa harus mengimpor belasan juta ton
bahan pangan, sebaliknya India pada tahun 2011 mampu mengekspor beras sebesar
4,5 juta ton, jagung 2,2 juta ton, dan tepung kedelai sebesar 4,2 juta ton.
Indonesia masih memiliki 23,24 juta lahan
kering yang bisa digunakan untuk memproduksi pangan, yaitu seluas 8.136.646
hektar di dalam kawasan hutan dan 15.106.234 hektar di luar kawasan hutan
(Departemen Kehutanan, 2002). Lahan seluas itu potensial untuk menghasilkan 25
juta ton hingga 50 juta ton biji-bijian atau 75 juta ton hingga 150 juta ton
umbi-umbian per tahun.
Petani kecil memiliki potensi besar untuk
mengubah hitungan tersebut menjadi kenyataan, bukan korporasi atau para pemburu
rente ekonomi. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar