Indahnya
Indonesia
Komaruddin Hidayat ; Guru
Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
|
KORAN SINDO, 25 November
2016
Ada sebuah cerita, tinggallah sebuah keluarga besar di rumah
yang kecil sehingga mereka merasa sempit, kurang nyaman ketika semuanya tidur
malam hari. Untuk memperluas bangunan, biaya tidak punya. Maka mereka
terpaksa menerima kondisi rumah seadanya meskipun hati merasa kecewa.
Merasa tidak tahan, sang ayah datang ke Pak Lurah menyampaikan
keluhannya dan minta saran karena keluarga itu mulai uring-uringan akibat
merasa sumpek. Pak Lurah pun menyanggupi memberi solusi asal mau menaati
nasihatnya. Sang ayah pun mengangguk. Lalu Pak Lurah bertanya, “Apakah kamu
punya kambing?” “Punya,” dia memberi jawaban. “Apakah punya ayam?” “Punya,”
jawabnya.
“Berapa kambing dan ayammu?” “Empat ekor kambing dan lima ekor
ayam,” jawab si ayah. “Bagus,” kata Pak Lurah. “Mulai malam ini selama
seminggu kambing dan ayammu mesti kamu masukkan rumah agar mereka tidur
bersama keluargamu. Sekian dulu nasihatku, minggu depan kamu ke sini lagi.
Kalau malam hari aku mau kontrol,” tegas Pak Lurah penuh wibawa.
Sang ayah pun pulang, menceritakan nasihat Pak Lurah yang mesti
ditaati. Maka mulai malam itu setiap malam empat ekor kambing dan lima ekor
ayam ikut tidur di dalam rumah yang kecil itu sehingga suasana semakin terasa
sempit dan sesak. Anak-anaknya sulit tidur karena terganggu kambing dan ayam.
Mereka menganggap nasihat Pak Lurah itu konyol dan tambah
menyiksa, bukannya malah membuat enak. Mereka kesal terhadap Pak Lurah, tapi
takut melawan. Dengan terpaksa mereka melaksanakan perintahnya. Mereka
menghitung malam dan hari, kapan siksaan ini akan berakhir. Waktu seminggu
dirasakannya lama sekali, kapan terbebas dari tidur bersama kambing dan ayam
di rumah kandang yang sempit itu.
Setelah seminggu berlalu, selanjutnya kambing dan ayam itu tidak
lagi tidur bareng-bareng. Lalu sang ayah menghadap Pak Lurah sesuai janjinya.
“Ada cerita apa dengan keluargamu,” tanya Pak Lurah. Sang ayah pun menjawab,
“Alhamdulillah. Kami serasa lebaran. Selama seminggu kami tersiksa sekali
setiap mau tidur. Kondisi rumah yang sudah sempit menjadi semakin sempit,
ditambah lagi bau kotoran kambing dan ayam. Tapi mulai tadi malam rumah kami
terasa lapang dan nyaman setelah kambing dan ayam tak lagi tidur di dalam
rumah.”
“Jadi, ternyata, yang mengubah rumahmu menjadi lapang itu adalah
mindset. Cara pandang. Salah satunya adalah pandai mensyukuri anugerah yang
sudah di tangan. Tidak mesti secara fisik rumahmu diperbesar, melainkan hati
dan pikiranmu yang mesti dibuat lapang,” kata Pak Lurah sambil mengulurkan
hadiah uang sebagai penghargaan atas kesabaran sang ayah.
Cerita di atas saya analogikan dengan kondisi Indonesia. Kadang
kala saya dan mungkin juga Anda merasa sumpek, sesak, dan bising tinggal di
Indonesia. Ingin rasanya pindah membayangkan kehidupan negara lain yang lebih
damai dan nyaman. Tapi ketika jalan-jalan dan tinggal di negeri orang, betapa
hati ingin segera pulang ke Indonesia. Pengalaman yang paling kontras adalah
ketika jalan-jalan ke Timur Tengah atau India.
Di Arab Saudi, misalnya, cuaca panas, gersang. Langka pepohonan.
Orang beraktivitas dari ruang ke ruang untuk menghindari sengatan panas
matahari. Ke luar kota bukannya ketemu sawah dan hutan, tetapi padang pasir
dan unta. Orang memelihara pohon layaknya memelihara ternak yang memerlukan
perawatan. Sangat jauh dari negeriku Indonesia yang serbahijau. Kalau saja
tak ada kewajiban berhaji, tidak cukup menarik orang datang ke sana untuk
berwisata.
Begitu pun ketika jalan-jalan ke India, ke Calcutta (Kolkata)
misalnya, betapa kumuh kotanya, kotor, lalu lintas semrawut, banyak orang
miskin. Sungguh tidak seindah yang digambarkan dalam film India. Sampai-sampai
ada guyonan, jika Anda terlahir sebagai seekor sapi di India, nasib Anda akan
lebih mulia daripada terlahir sebagai manusia. Lagi-lagi, ketika jalan-jalan
di India, terbayang betapa indahnya negeriku Indonesia.
Demikianlah, kita perlu menjaga mindset yang sehat. Konstruktif
dan produktif. Pandai-pandai mensyukuri anugerah Tuhan berupa hamparan alam
yang sedemikian hijau, indah, dan kaya. Juga kekayaan budayanya yang sangat
beragam. Kita syukuri kebinekaan ini sebagai anugerah Ilahi. Makanya
sekali-sekali perlu juga Anda jalan-jalan ke India, ke kota-kota pelosoknya. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar