Jumat, 31 Juli 2026

 

Catatan dari London (9)

KETIKA KEKAYAAN BERCAMPUR DENGAN KISAH CINTA DAN AURA KERAJAAN

- Kisah Mall Mewah Harrods, Dodi Al Fayed, dan Lady Di

Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 31 Juli 2026

 

                                                

 

Suatu malam, sebuah cincin belum sempat dikenakan. Sebuah mobil melaju menembus lorong kota. Seorang ayah kehilangan anaknya. Seorang ibu kehilangan putri yang dicintai dunia.

 

Sebuah department store paling mewah di London berubah menjadi altar kenangan. Bertahun-tahun kemudian, bangunan yang sama menyimpan kisah lain yang tak kalah kelam.

 

Di sanalah saya memahami bahwa kekayaan dapat membeli hampir segala sesuatu, kecuali kepastian nasib dan ketenangan hati.

 

-000-

 

Hari terakhir di London. Sore yang teduh. Saya duduk di sebuah kafe kecil di seberang Harrods. Orang-orang datang membawa tas belanja berwarna hijau tua yang menjadi simbol kemewahan. Di balik etalase yang berkilau, parfum, jam tangan, dan perhiasan dipajang dengan presisi nyaris sempurna.

 

Tetapi tak seorang pun membawa jawaban mengapa bangunan ini juga menyimpan begitu banyak kesedihan.

 

Sulit membayangkan bahwa gedung megah itu pernah menjadi pusat salah satu tragedi paling menyayat dalam sejarah modern Inggris.

 

Saya memandangi pintu utama Harrods cukup lama. Orang-orang keluar dengan wajah puas membawa tas belanja, sementara saya justru membawa pulang pertanyaan. Berapa banyak kebahagiaan yang sungguh dapat dibeli manusia?

 

Di balik dinding yang memamerkan kemewahan, saya merasa sedang berdiri di depan sebuah museum yang menyimpan cinta, duka, ambisi, dan kehancuran dalam waktu yang bersamaan.

 

Harrods dibeli Mohamed Al Fayed pada 1985 melalui akuisisi House of Fraser senilai sekitar 615 juta pound sterling. Selama seperempat abad ia menjadikannya ikon global. Namun, di balik kejayaan bisnis itu, perhatian dunia justru tertuju kepada putranya, Dodi Al Fayed.

 

Musim panas 1997 menjadi musim yang mengubah sejarah. Diana, Putri Wales, baru setahun bercerai dari Pangeran Charles. Ia berusaha membangun hidup baru setelah bertahun-tahun hidup dalam sorotan publik. Pada saat itulah keluarga Al Fayed mengundangnya berlibur di Saint-Tropez.

 

Di atas kapal pesiar Jonikal, hubungan Diana dan Dodi berkembang dengan cepat. Foto mereka berpelukan dan berciuman beredar ke seluruh dunia.

 

Sebagian melihatnya sebagai kisah cinta yang tulus. Sebagian lain menganggapnya romansa yang masih terlalu muda untuk disebut sebagai komitmen hidup.

 

Yang pasti, mereka tampak menemukan ruang untuk tertawa di tengah tekanan yang selama bertahun-tahun mengelilingi Diana.

 

Pada 30 Agustus 1997 mereka tiba di Paris. Malam itu mereka makan malam di Hôtel Ritz Paris, hotel yang juga dimiliki keluarga Al Fayed. Menjelang tengah malam mereka meninggalkan hotel melalui pintu belakang untuk menghindari paparazzi.

 

Beberapa menit kemudian Mercedes yang mereka tumpangi memasuki Terowongan Pont de l’Alma dengan kecepatan tinggi.

 

Mobil menghantam pilar beton.

 

Henri Paul, sang pengemudi, meninggal di lokasi. Dodi Al Fayed meninggal seketika. Diana masih sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi mengembuskan napas terakhir beberapa jam kemudian pada dini hari 31 Agustus 1997.

 

Hubungan mereka hanya berlangsung sekitar enam minggu.

 

Namun enam minggu itu mengubah sejarah monarki Inggris, dunia media, dan cara dunia memandang hubungan antara ketenaran, privasi, dan kematian.

 

-000-

 

Mohamed Al Fayed tidak pernah menerima kesimpulan bahwa anaknya meninggal karena kecelakaan.

 

Sebagai seorang ayah, ia merasa terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab. Ia percaya Dodi dan Diana dibunuh melalui sebuah konspirasi.

 

Menurut keyakinannya, hubungan keduanya tidak dapat diterima oleh sebagian kalangan karena Diana diduga akan menikah dengan seorang Muslim keturunan Mesir.

 

Selama lebih dari satu dekade, Al Fayed mengampanyekan keyakinan itu. Ia mendorong penyelidikan baru, mengajukan berbagai permohonan hukum, dan menyampaikan tuduhan terhadap badan intelijen Inggris serta unsur-unsur keluarga kerajaan.

 

Tekanan publik akhirnya melahirkan Operation Paget, penyelidikan besar Metropolitan Police yang memeriksa ratusan saksi, ribuan dokumen, rekaman CCTV, data forensik, hingga arsip badan intelijen.

 

Kesimpulannya tegas. Tidak ditemukan bukti adanya konspirasi pembunuhan. Penyelidikan menyatakan kematian Diana dan Dodi merupakan akibat kombinasi kecepatan kendaraan yang sangat tinggi, kondisi pengemudi yang berada di bawah pengaruh alkohol, serta pengejaran paparazzi.

 

Pada 2008, juri koroner Inggris menyatakan kematian mereka sebagai unlawful killing. Artinya, kematian terjadi akibat kelalaian berat, bukan pembunuhan yang direncanakan.

 

Bagi hukum, perkara selesai. Bagi seorang ayah, mungkin tidak pernah benar-benar selesai. Duka memiliki logikanya sendiri yang sering kali berbeda dengan logika pengadilan.

 

-000-

 

Pada 2010 Mohamed Al Fayed menjual Harrods kepada Qatar Holding, bagian dari Qatar Investment Authority, dengan nilai sekitar 1,5 miliar pound sterling.

 

Secara bisnis ia memperoleh keuntungan besar dibanding harga pembelian dua puluh lima tahun sebelumnya. Ia mengatakan ingin pensiun dan menyerahkan Harrods kepada pemilik yang memiliki kemampuan finansial menjaga reputasinya.

 

Namun sejarah belum selesai menulis bab terakhir. Setelah Al Fayed meninggal pada 2023, BBC menayangkan dokumenter Al Fayed: Predator at Harrods.

 

Dokumenter itu memicu gelombang kesaksian baru. Ratusan perempuan mengaku mengalami pelecehan seksual dan kekerasan seksual ketika bekerja di Harrods maupun perusahaan lain milik Al Fayed.

 

Sekitar 400 perempuan kemudian menghubungi tim hukum yang mewakili para penyintas. Kepolisian Inggris menerima lebih dari seratus laporan resmi. Karena Al Fayed telah wafat, proses pidana terhadap dirinya tidak mungkin dilakukan.

 

Harrods memilih membangun skema kompensasi independen. Perusahaan menyisihkan lebih dari 60 juta pound sterling. itu setara dengan 1,5 trilyun rupiah untuk uang damai.

 

Dalam skema tersebut, kompensasi maksimum bagi satu penyintas dapat mendekati 400 ribu pound sterling, sekitar 10 milyar rupiah per-orang, tergantung tingkat kerugian dan bukti yang diajukan.

 

Ironi itu sulit diabaikan. Seorang pengusaha yang pernah dipuja karena membangun salah satu pusat belanja paling prestisius di dunia, pada akhir hidupnya justru dikenang pula oleh tuduhan yang sangat berat.

 

Sejarah ternyata mampu menyimpan pujian dan dakwaan di halaman yang sama.

 

Di titik inilah kemewahan Harrods memperlihatkan ilusi paling rapuh yang disembunyikannya. Uang mungkin dapat membangun kesunyian, menunda keberanian, bahkan mengarahkan cerita sesuai kehendak mereka yang berkuasa.

 

Namun kebenaran memiliki kesabarannya sendiri. Ia dapat terlambat datang, tetapi tidak selamanya dapat dikubur. Pada akhirnya, sejarah akan membuka topeng yang paling indah sekalipun, lalu memperlihatkan wajah asli yang selama bertahun-tahun disembunyikan oleh kemewahan.

 

-000-

 

Di sinilah letak dimensi moral yang paling gelap. Kekayaan Al Fayed tidak hanya gagal melindungi putranya dari maut di Paris.

 

Kekayaan itu juga menjadi perisai yang selama puluhan tahun membungkam suara perempuan-perempuan muda yang bekerja di bawah kuasanya. Uang yang membangun kemewahan Harrods ternyata adalah uang yang sama yang membeli diam para korban.

 

Dua buku ini dapat memperkaya wawasan kita untuk memahami isu di atas. Buku pertama berjudul: The Diana Chronicles. Penulisnya Tina Brown, 2007

 

Buku ini merupakan salah satu biografi paling berpengaruh mengenai Putri Diana. Tina Brown tidak hanya menulis perjalanan hidup Diana sebagai anggota keluarga kerajaan, tetapi juga memotret kesepiannya sebagai manusia.

 

Bagian yang paling relevan adalah penjelasan mengenai musim panas 1997. Brown menunjukkan bahwa hubungan Diana dan Dodi berkembang dalam konteks pencarian identitas baru setelah perceraian, bukan sekadar romansa glamor yang dibentuk media.

 

Buku ini membantu pembaca memahami bahwa tragedi Paris tidak dapat dipisahkan dari budaya selebritas, tekanan paparazzi, dan institusi monarki yang sedang berubah.

 

Nilai terbesar buku ini adalah kemampuannya mengembalikan Diana dari ikon menjadi manusia yang rapuh, penuh harapan, sekaligus penuh keraguan.

 

-000-

 

Buku kedua berjudul The Power of Myth. Buku ini ditulis oleh Joseph Campbell bersama Bill Moyers, 1988.

 

Sekilas buku ini tidak berbicara tentang Diana maupun keluarga Al Fayed. Namun justru di sinilah relevansinya. Campbell menjelaskan bahwa setiap zaman membangun mitos baru melalui tokoh-tokoh yang hidup di ruang publik.

 

Masyarakat membutuhkan kisah yang melampaui fakta karena kisah membantu manusia memberi makna pada penderitaan.

 

Tragedi Diana dan Dodi berkembang menjadi mitos modern. Di dalamnya terdapat cinta, kekuasaan, pengkhianatan, media, konspirasi, dan kematian.

 

Campbell mengingatkan bahwa mitos bukan selalu kebohongan. Ia adalah cara manusia menyusun pengalaman agar penderitaan dapat dipahami.

 

Perspektif ini membuat kita melihat tragedi Paris bukan hanya sebagai kecelakaan, tetapi juga sebagai cermin kebutuhan manusia akan makna.

 

-000-

 

Semakin besar kekayaan dan ketenaran seseorang, semakin kecil wilayah pribadinya. Dalam masyarakat modern, ketenaran menciptakan paradoks: semakin dikenal seseorang, semakin sulit ia memiliki kehidupan.

 

Sebagian orang akan mengatakan bahwa kisah Diana dan Dodi hanyalah gosip selebritas yang dibesar-besarkan media. Ada benarnya. Kehidupan pribadi mereka memang menjadi komoditas yang menguntungkan industri berita.

 

Namun berhenti pada kesimpulan itu membuat kita kehilangan pelajaran yang lebih dalam. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana ketenaran dapat menghapus batas antara ruang publik dan ruang pribadi.

 

Ia memperlihatkan bagaimana media mampu membentuk ingatan kolektif. Ia juga menunjukkan bahwa bahkan keluarga terkaya sekalipun tidak mampu membeli perlindungan dari duka, reputasi, dan penilaian sejarah.

 

Harrods tetap berdiri megah. Para pembeli terus datang. Lampu-lampu etalase terus menyala. Namun bagi saya, bangunan itu tidak lagi hanya menjual barang-barang mewah.

 

Ia menjual kesadaran bahwa sejarah manusia selalu lebih rumit daripada kemewahan yang tampak di permukaan.

 

Saya meninggalkan London dengan satu pelajaran yang terus tinggal di dalam hati. Kekayaan dapat membangun istana, cinta dapat menghidupkan harapan, dan kekuasaan dapat memengaruhi sejarah.

 

Tetapi pada akhirnya, hanya karakter yang menentukan bagaimana seseorang akan dikenang. Sebab sejarah memang mengabadikan siapa yang paling kaya. Tapi sejarah lebih mengabadikan siapa yang paling bermakna bagi orang banyak.

 

REFERENSI

 

1. The Diana Chronicles. Tina Brown. Doubleday. 2007.

 

2. The Power of Myth. Joseph Campbell & Bill Moyers. Doubleday. 1988

 

Sumber :     https://www.facebook.com/share/p/1HePvQwYed/   

 

 

Bahaya Laten Narkoba Etomidate

Redaktur Editorial :  Redaksi Kompas

KOMPAS, 31 Juli 2026

 

 

                                                           

Etomidate yang sejatinya anestasi medis kerap disalahgunakan sebagai campuran vape atau rokok elektronik. Indonesia mesti hati-hati karena kian banyak pemakai vape.

 

Tahun 2018, Singapura melarang vape atau rokok elektronik sebagai tindakan preventif, terutama untuk mencegah penyalahgunaan obat penenang etomidate.

 

Etomidate sejatinya adalah sejenis anestasi untuk penanganan medis darurat. Etomidate bekerja cepat dalam membuat pasien tidak sadarkan diri dalam waktu singkat dan umumnya tidak terlalu memengaruhi kerja jantung ataupun tekanan darah sehingga dinilai lebih aman digunakan pada pasien dengan penyakit jantung atau tekanan darah. Dalam dunia medis, etomidate memiliki banyak manfaat dalam berbagai tindakan yang membutuhkan pembiusan.

 

Namun, etomidate juga rentan disalahgunakan sebagai narkoba campuran vape. Baru-baru ini, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya kembali mengungkap peredaran etomidate di enam lokasi di Jakarta Selatan. Sindikat ini diduga merupakan bagian dari jaringan internasional. Polisi pun menyita sebanyak 8.698 katrid yang mengandung cairan etomidate (Kompas.id, 29/7/2026).

 

Salah satu pertimbangan Pemerintah Singapura melarang vape, antara lain, untuk mencegah penyalahgunaan etomidate sebagai campuran bahan cair dalam katrid rokok elektronik tersebut. Sejak pelarangan tersebut, pengguna vape di Singapura memang kucing-kucingan dengan otoritas setempat. Mereka menyelundupkan vape dari Malaysia atau Indonesia.

 

Pelarangan vape di Singapura sempat membuat Batam menjadi tempat alternatif bagi warga negara tersebut untuk menikmati vape. Bukan sebuah kebetulan apabila berita pengungkapan penyalahgunaan etomidate pertama kali muncul di Kompas.id pada Mei 2025 lalu ada kaitannya dengan fenomena ini. Saat itu, Kepolisian Daerah Kepulauan Riau mengungkap adanya laboratorium mini rahasia di Apartemen Harbour Bay Residence, Batu Ampar, Batam, yang antara lain digunakan untuk mengemas etomidate.

 

Menurut Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Ahmad David, etomidate sengaja dikemas dalam vape agar tidak mudah terdeteksi. Pengedar narkoba jenis etomidate dan ketamin ini juga mengincar segala lini pengguna, mulai dari remaja hingga warga usia produktif (17-30 tahun), karena mudahnya zat tersebut dicampur ke dalam vape.

 

Di sisi lain, pengguna vape di Indonesia terus meningkat saat regulasinya juga terlalu longgar. Prevalensi penggunaan rokok elektronik di Indonesia meningkat dari 0,3 persen pada 2019 menjadi 3 persen pada 2021. Saat ini diperkirakan jumlah perokok vape juga lebih besar lagi.

 

Berbeda dengan Singapura yang melarang total penggunaan vape, di Indonesia vape tetap produk legal meski diatur seperti produk tembakau atau zat adiktif. Memang ada beberapa pembatasan penjualan, seperti untuk kategori usia tertentu dan tempatnya. Namun, pengaturan yang cenderung longgar ini membuat vape dengan mudah dijadikan sarana penyalahgunaan etomidate dan ketamin. Indonesia harus sangat hati-hati dengan bahaya laten penyalahgunaan etimodate ini, terutama jika melihat peningkatan jumlah perokok vape. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/bahaya-laten-narkoba-etomidate?open_from=Tajuk_Rencana_Page

 

 

Tan Malaka, Madilog, dan Kritik Hierarki Sosial: Membedah Akar Polemik Nasab di Indonesia

Gus Aziz Jazuli, Lc, MH. :  Santri yang pernah menempuh pendidikan di pesantren di Pasuruan, Jawa Timur, sebelum melanjutkan studi ke kota Tarim di Hadramaut, Yaman.

ORBIT INDONESIA, 04 Juli 2026

 

                                                

 

Sebelum masuk ke kritiknya atas hierarki sosial, penting untuk memahami posisi Tan Malaka sebagai pemikir. Tan Malaka ditempatkan bukan sebagai tokoh komunis yang sekadar "pengikut" Moskow. Sebaliknya, Tan Malaka digambarkan sebagai sosok nasionalis yang memegang teguh kemandirian berpikir.

 

Tan Malaka memutus hubungan dengan Komintern pada 1920 karena menolak diktat Uni Soviet yang dinilainya tidak memahami realitas lokal Asia Tenggara. Hal ini menjadi pembeda kontras dengan D.N. Aidit yang, menurut sejarawan, berperan sebagai "agen internasional" dengan menjaga hubungan diplomatik dan ideologis yang sangat erat dengan Uni Soviet dan Beijing demi legitimasi politik global.

 

Tan Malaka percaya pada aksi massa radikal, perjuangan fisik, dan gerilya. Ia menolak sistem parlemen yang ia anggap borjuis dan menuntut kemerdekaan 100% tanpa kompromi. Yang tak kalah penting, berbeda dengan stigma yang sering dilekatkan pada komunisme, Tan Malaka tidak memusuhi agama. Beliau bahkan secara berani membela Pan-Islamisme pada tahun 1922—suatu sikap yang bertolak belakang dengan gaya PKI era Aidit yang kerap bergesekan dengan kelompok keagamaan di akar rumput.

 

Madilog sebagai Senjata Mental Bangsa

 

Ditulis pada masa penjajahan Jepang (1942–1943), Madilog adalah upaya Tan Malaka untuk menyusun "senjata mental" bagi bangsa Indonesia. Buku ini memiliki misi besar: melawan logika mistik dan membangun rasionalitas.

 

Tan Malaka menyoroti bahwa keterpurukan bangsa Indonesia selama ratusan tahun disebabkan oleh pola pikir yang dikuasai oleh hal-hal mistis, tahayul, fatalisme, dan kepercayaan pada "kesaktian" individu tertentu. Ia mendorong masyarakat untuk meninggalkan pola pikir yang menggantungkan diri pada hal gaib. Ia ingin rakyat melihat dunia berdasarkan fakta nyata, kondisi ekonomi, dan nalar yang sistematis.

 

Ancaman seperti "kualat" kepada Habib atau ancaman masuk neraka bagi mereka yang kritis, sebagaimana dicatat dalam berbagai narasi, merupakan alat penjajahan mental yang sangat efektif untuk membungkam nalar publik. Madilog disusun untuk memutus rantai penjajahan mental tersebut.

 

Kritik atas Sistem Kasta dan Privilese "Sayid"

 

Data primer dari Madilog menunjukkan bahwa kritik Tan Malaka terhadap hierarki keturunan sangatlah eksplisit dan langsung menyasar realitas Indonesia.

 

Pertama, ia menulis tentang sistem kasta Hindu:

 

"Bermula sekali masyarakat Hindu sudah dibagi atas 4 kasta terbesar. 1. Kasta Brahmana, ialah kasta pendeta. Kasta ini kasta tertinggi... 2. Satria, ialah Kasta Raja dan Ningratnya... 3. Kasta Waisa, yang terdiri dari golongan saudagar, magang, tukang atau tani. 4. Kasta Sudra, ialah kasta orang 'jembel', seperti penyamak kulit atau tukang sapu jalan. Keempat kasta di atas tiada bisa campur satu sama lainnya, tiada boleh campur makan atau tidur. Apalagi kawin..."

 

Kedua, ia secara langsung menghubungkan kasta Brahmana dengan kasta Sayid di Indonesia:

 

"Ini tiadalah mustahil, karena 99 di antara 100 calon suwarga dari kasta Brahmana itu hidupnya dengan membungakan uang, seperti kasta Sayid di Indonesia ini juga. Kasta Satria berpuncak pada Raja atau Maha Raja, alias perampok gadis itu, tiada lain melainkan Tuan Tanah penghisap tani Hindustan, kaki tangannya Imperialisme Inggris."

 

Kutipan ini adalah data primer yang tak terbantahkan. Tan Malaka tidak hanya mengkritik sistem kasta Hindu secara abstrak, tetapi secara sadar dan eksplisit menyamakan privilese ekonomi dan sosial kasta Brahmana di India dengan privilese kasta Sayid di Indonesia.

 

Ketiga, ia secara khusus menyoroti privilese kaum "Sayid"—sebutan bagi mereka yang mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW:

 

"Janganlah tuan pembaca marah, tetapi periksalah surga yang tuan idamkan itu... Pakailah pikiran nuchter, jernih! Lihatlah sekitar tuan saja! Bukankah 'feramfuan' suatu barang yang nomer wahid buat tuan Said, turunan Nabi MUHAMMAD SAW? Begitu penting ini barang, sampai ketika dua kali saya lalui dan singgah di Mesir, kaum Ibu masih disimpan baik-baik di antara 4 batu tembok, tak boleh keluar. Yang keluar mesti dikudungi betul-betul, tak boleh manusia lain, orang Islam pun melihatnya."

 

Di sini Tan Malaka menyoroti bagaimana privilese keturunan diterjemahkan dalam praktik sosial yang diskriminatif—pengurungan dan penutupan wajah kaum perempuan dari kalangan tertentu.

 

Kritik atas Wayang dan Dominasi Budaya Hindu

 

Tan Malaka juga menyoroti bagaimana kebudayaan Hindu—yang dibawa oleh kelompok yang mengklaim superioritas keturunan—telah mendistorsi budaya asli Indonesia:

 

"Saya memang sudah lama berniat hendak mempelajari wayang lebih dalam... bahwa wayang itu bukan berasal Hindu, melainkan kepunyaan Indonesia... wayang, bayang, memang tepat berarti satu bayangan masyarakat nenek moyang bangsa Indonesia."

 

Baginya, wayang sebelum pengaruh Hindu adalah cerminan masyarakat Indonesia yang praktis, berdasarkan bukti, berani memulai pekerjaan baru, dan berjiwa merdeka. Namun, setelah masuknya pengaruh Hindu dan Arab, terjadi perubahan besar:

 

"Kenapa para Satria dalam cerita Indonesia Tulen bisa diganti, didesak ke sudut atau diperolok-olokkan (Petruk, Gareng dan Semar) oleh cerita Hindu dan Arab, sedangkan satria Indonesia ialah pemimpin dari masyarakat sebenarnya."

 

Kritik ini penting karena menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak hanya menolak kasta sebagai struktur sosial, tetapi juga menolak narasi budaya yang merendahkan nilai-nilai lokal dan menggantinya dengan mitologi asing yang justru melanggengkan hierarki dan fatalisme. Ia menegaskan bahwa peneliti Indonesia harus memiliki "semangat orang merdeka yang mencari perubahan baik", bukan sekadar menjadi pengagum budaya asing.

 

Kritik atas Praktik Ekonomi Rentenir Arab (Sayid)

 

Tan Malaka juga memberikan contoh konkret bagaimana privilese keturunan—dalam hal ini kelompok Arab/Sayid—diterjemahkan ke dalam praktik ekonomi yang menghisap rakyat kecil. Dalam bab tentang "Pertentangan" dalam Madilog, ia menulis kisah tentang "Halal bin Fulus", seorang tuan tanah Arab yang berprofesi sebagai rentenir:

 

"Pencaharian Arab di daerah tempat saya menulis Madilog ini, yakni daerah Jakarta, terutama sekali memperbangkan uang umum di pasar-pasar dipinjamkan Arab pada Indonesia R 1,- dengan bunga 5 sen sehari. Berupa kecil, tetapi menurut perhitungan Matematika bunga semacam itu 1,825% setahun... Dengan kerja semacam itu dari turunan keterurunan, mereka menjadi kaya, ada kaya raya mempunyai tanah dan rumah."

 

Kemudian ia menggambarkan bagaimana seorang petani Indonesia terjerat hutang dan akhirnya kehilangan tanah, rumah, bahkan anak perempuannya, sementara pengadilan—yang didominasi oleh kepentingan kelas berpunya—selalu memenangkan pihak rentenir Arab:

 

"Dalam 99 di antara 100 perkara semacam itu, tentulah tuan Halal bin Fulus... yang menang."

 

Tan Malaka dengan tegas menyatakan bahwa keadilan tidak bisa diputuskan dengan logika "hutang harus dibayar" semata, karena persoalan ini berada dalam kerangka pertentangan kelas antara yang berpunya dan tak berpunya:

 

"Tuan Fulus Muslimin yang Berpunya, sebagian besar dari kaum Ulama dan Pemerintah berdasarkan 'kepunyaan sendiri', tentulah 100% membenarkan putusan itu. Petani berhutang dan hutang mesti dibayar. Ini cocok dengan semua Undang kemodalan dan cocok dengan semua Agama. Sebaliknya filsafat kaum Tak Berpunya... 100% pula akan memutuskan bahwa putusan Hakim 'tidak' adil."

 

Ia bahkan memberikan alternatif hukum yang radikal: jika ia berkuasa, ia akan mengusir rentenir asing atau menjadikannya pekerja selama 13 tahun. Di sini, Tan Malaka menunjukkan bahwa privilese keturunan tidak hanya soal simbol kehormatan, tetapi memiliki dampak material yang nyata—penghisapan ekonomi, penguasaan tanah, dan perampasan martabat rakyat kecil.

 

Titik Temu Keduanya: Melawan Hierarki Keturunan

 

Titik temu paling jelas antara Tan Malaka dan KH Imaduddin Utsman adalah sama-sama menolak nasab sebagai dasar superioritas yang tidak perlu diuji.

 

Tan Malaka menolak kasta karena ia menganggapnya bertentangan dengan kesetaraan manusia dan menjadi alat penghisapan ekonomi. KH Imaduddin menolak klaim nasab jika tidak lolos verifikasi ilmiah dan metodologis. Keduanya sama-sama mengusik kenyamanan otoritas mapan—Tan Malaka menyerang aristokrasi, feodalisme, dan hegemoni budaya asing; KH Imaduddin menyerang klaim genealogis yang telah lama diterima publik sebagai sumber karisma keagamaan.

 

Namun, titik temu itu jangan menutupi perbedaan besar: Tan Malaka menempatkan persamaan sebagai prinsip sosial-politik universal, sementara Imaduddin menempatkan pembuktian nasab sebagai persoalan keilmuan dalam tradisi Islam. Tan Malaka lebih radikal secara ideologis, sedangkan Imaduddin lebih teknis-metodologis.

 

Implikasi Sosial-Politik: Polemik Nasab sebagai Cermin Ketimpangan Simbolik dan Material

 

Perbandingan kedua tokoh menunjukkan bahwa persoalan nasab di Indonesia bukan sekadar soal silsilah keluarga. Ia berkaitan dengan otoritas agama, simbol kehormatan, stratifikasi sosial, ekonomi, bahkan rasa percaya diri umat. Kritik terhadap nasab sering memicu reaksi emosional karena yang dipertaruhkan bukan hanya benar-salahnya silsilah, tetapi juga posisi sosial yang selama ini melekat padanya.

 

Kritik atas "Tarimisasi" dan Dominasi Budaya Asing

 

Terdapat narasi mengenai upaya "Tarinisasi" (dominasi budaya dari Tarim, Hadramaut) yang berusaha menancapkan pengaruhnya di Nusantara. Sebutan Ajam yang digunakan untuk merendahkan masyarakat pribumi—sebagaimana dicatat Tan Malaka dalam kritiknya atas feodalisme dan privilese keturunan—kini telah dibongkar oleh data-data sejarah dan sains modern. Klaim nasab yang tidak dibarengi dengan bukti sejarah yang kuat runtuh di hadapan penelitian ilmiah dan tes DNA.

 

Resistensi terhadap Penjajahan Mental

 

Ancaman seperti "kualat" kepada Habib atau ancaman masuk neraka bagi mereka yang kritis, sebagaimana dicatat dalam berbagai narasi, merupakan alat penjajahan mental yang sangat efektif untuk membungkam nalar publik. Tan Malaka dan KH Imaduddin, dari jalur yang berbeda, sama-sama berjuang memutus rantai penjajahan mental tersebut—Tan Malaka melalui Madilog yang menuntut rasionalitas, KH Imaduddin melalui verifikasi tekstual yang menuntut akuntabilitas.

 

Introspeksi dan Masa Depan Bangsa

 

Alih-alih menyalahkan pihak yang membongkar nasab, saya mengajak pihak yang selama ini mengklaim nasab untuk melakukan introspeksi diri atas perilaku masa lalu yang mengatasnamakan Nabi demi kepentingan materiil. Kajian ini diakhiri dengan apresiasi bagi tokoh seperti Tan Malaka yang memelopori keberanian untuk berpikir rasional, agar bangsa Indonesia tidak lagi mudah dibodohi oleh siapapun yang mengeksploitasi simbol agama dan nasab untuk melanggengkan hierarki sosial.

 

Penutup: Kehormatan Sejati Lahir dari Ilmu dan Integritas

 

Pada akhirnya, Tan Malaka dan KH Imaduddin Utsman sama-sama mengajukan pertanyaan yang mengguncang: apakah manusia harus dihormati karena dirinya, atau karena darah yang mengalir dalam tubuhnya?

 

Tan Malaka menjawab lewat kritik atas kasta—sebuah kritik yang secara eksplisit menyasar praktik sosial di Indonesia, sebagaimana terbukti dalam tulisannya: "seperti kasta Sayid di Indonesia ini juga", "Bukankah 'feramfuan' suatu barang yang nomer wahid buat tuan Said", kritik atas wayang Hindu yang merendahkan budaya lokal, dan kisah Halal bin Fulus yang menggambarkan penghisapan ekonomi oleh rentenir Arab. Baginya, privilese keturunan hanyalah bayangan dari struktur feodal yang harus dihancurkan demi keadilan sosial, ekonomi, dan budaya.

 

KH Imaduddin menjawab lewat pembatalan nasab yang tidak memenuhi syarat ilmiah—sebuah kritik yang berbasis pada verifikasi kitab-kitab nasab, metode syuhrah wal istifadlah, dan penolakan terhadap klaim yang muncul tanpa dalil yang kuat.

 

Jika dibaca bersama, keduanya mengajarkan bahwa kehormatan paling kuat adalah yang lahir dari ilmu, integritas, dan manfaat sosial, bukan dari garis keturunan yang tak boleh dipersoalkan. Dalam sejarah pemikiran Indonesia, itu adalah kritik yang sangat penting karena menyasar sumber-sumber lama dari ketimpangan simbolik—dan material—yang masih hidup hingga hari ini.

 

Sumber:

 

-Madilog (Tan Malaka, 1942–1943).

 

-Ulama Nusantara Menggugat Nasab Palsu (KH Imaduddin Utsman al-Bantani, 2024),

 

- https://youtu.be/MZKMP4wakYI

 

Sumber :     https://orbitindonesia.com/detail/VVDKyiRPCT/tan-malaka-madilog-dan-kritik-hierarki-sosial-membedah-akar-polemik-nasab-di-indonesia