Mendidik Mental Pengemis
Benny Susetyo, PEMERHATI SOSIAL
Sumber : SINAR HARAPAN, 11
Februari 2012
Cara-cara pemerintah untuk
mengurangi angka kemiskinan sejauh ini masih harus mendapatkan sorotan tajam.
Misalnya rencana mengalokasikan Rp 1,8 triliun untuk Program Keluarga Harapan
(PKH) tahun ini dengan sasaran 1,5 juta rumah tangga sangat miskin (Media
Indonesia, 21/1). Bahkan rencananya, program bantuan langsung tunai itu akan
berlangsung hingga 2014 dengan target 3 juta keluarga miskin dengan dana Rp 4,2
triliun.
Orientasi kebijakan tersebut
menunjukkan pemerintah seolah tidak pernah belajar dari pengalaman. Suatu cara
berpikir kebijakan yang tidak bervisi dalam mengatasi kemiskinan sesungguhnya.
Apa yang dilakukan justru hanya akan mendidik rakyat bermental pengemis, dan
jauh dari menciptakan kemandirian.
Dapat ditebak dengan cepat
bahwa kebijakan tersebut bersifat pragmatis hanya untuk mencari dukungan
politik. Orientasi penguasa sekadar mencari dukungan politik sesaat.
Kemerdekaan rakyat tidak menjadi perhatian utama, alih-alih justru menciptakan
rakyat ke dalam jurang kesengsaraan.
Sudah terbukti di masa lalu
bahwa kebijakan seperti itu gagal mengatasi kemiskinan. Angka kemiskinan justru
semakin meningkat. Dengan bantuan langsung rakyat tidak mampu menjadi manusia
mandiri. Kebijakan tersebut hanya akan mendorong rakyat bermental pengemis.
Tanpa disadari bahwa hal
tersebut akan semakin membuat rakyat berada dalam posisi tergantung pada
penguasa. Pada akhirnya penguasa dengan mudah merekayasa kepentingan demi
kekuasaan. Rakyat pun potensial kehilangan posisi tawar dalam berbagai
pengambilan keputusan politik. Rakyat mudah digiring dalam berbagai kemauan
politik penguasa. Berbagai kecurigaan pun muncul bahwa ini semua dilakukan agar
rakyat mudah dikendalikan menjadi alat kekuasaan.
Negara Sinterklas
Negara Sinterklas
Tak pelak kebijakan bantuan tunai seperti Program Keluarga Harapan (PKH) menuai
banyak kritik tajam. Dalam upaya mengatasi kemiskinan, pemerintah lebih
cenderung berusaha mengatasi rasa sakit jangka pendek. Rakyat akan terdidik
bermental konsumtif.
Pemerintah tidak serius
dalam membongkar akar kemiskinan sesungguhnya selama ini. Padahal, dana besar
yang disalurkan dalam bantuan tunai melalui PKH akan lebih efektif jika
dimanfaatkan untuk program jangka panjang, misalnya dalam bentuk keterampilan
dan modal.
Kecuali dalam keadaan
darurat, hampir tidak ada argumentasi apa pun yang secara rasional masuk di
akal sehat kebijakan membagi-bagi uang kepada masyarakat. Justru kebijakan
tersebut dicurigai sarat dengan berbagai kepentingan politik dan pencitraan
kekuasaan. Kemiskinan Indonesia tidak akan bisa tuntas dengan model kebijakan
seperti ini. Kita justru akan semakin sengsara bila mendasarkan kebijakan yang
seolah-olah memihak rakyat, tapi nyatanya sama sekali tidak demikian.
Negara bukanlah sosok
sinterklas yang hanya datang pada momen-momen tertentu untuk menghibur
anak-anak. Negara bukan untuk menghibur, melainkan melindungi warganya dari
penderitaan. Hiburan itu sangat kecil maknanya dibandingkan dengan beban penderitaan
yang akan ditanggung rakyat dari sebuah kebijakan yang dilakukan tanpa visi
yang sehat.
Negara harus benar-benar
menyadari bahwa problem kemiskinan di negeri ini benar-benar pelik. Kita bahkan
terlalu sering meributkan mengenai berapa banyak jumlah orang miskin di negeri
ini. Penguasa selalu bermulut manis melaporkan angka kemiskinan yang terus
berkurang. Faktanya, kita semua merasakan, tidaklah seperti demikian.
Tak bisa dipungkiri faktor
politik merupakan penyebab kemiskinan di Indonesia, di masa lalu dan sampai
sekarang. Pengalaman di era Orde Baru pertumbuhan ekonomi yang semakin bagus
bagi sebagian besar orang justru merupakan bencana. Tak lain karena antara yang
bertumbuh dan merana semakin dalam jurang pemisahnya. Banyak orang yang dibuat bangga
dalam kubangan kemiskinan.
Membanggakan angka
pertumbuhan yang tidak berurat nadi pada kenyataan hidup sebagian besar rakyat
Indonesia.
Sesat Pikir Kebijakan
Sesat Pikir Kebijakan
Sudah semenjak dulu kemiskinan hanya dijadikan alat atau isu belaka. Tidak
pernah dicarikan jalan keluar secara serius untuk mengatasi kemiskinan.
Kemiskinan menjadi isu yang terbaik untuk mencari dukungan rakyat miskin.
Sungguh ironis karena tanpa elite menyadarinya, mereka terlalu sering menjual
rakyat miskin atas nama kemiskinan mereka.
Sulit akal sehat bisa
menerima fakta bahwa di negara yang terus-menerus melakukan pembangunan ekonomi
dan memiliki konstitusi jelas meningkatkan kesejahteraan rakyat, jumlah kaum
miskin dan mereka yang kelaparan justru meningkat. Diakui atau tidak, krisis ekonomi
tidak selalu menjadi alasan yang baik untuk memberikan penjelasan soal ini.
Ketidakjelasan orientasi kebijakan ekonomi serta kondisi politik bangsa inilah
yang menyebabkan sulitnya Indonesia keluar dari krisis.
Sumber bencana utama negeri
ini sangat mungkin terjadi karena kebijakan ekonomi tidak diarahkan atau
berpihak pada penguatan masyarakat kecil. Kebijakan ekonomi terlalu mendongak
ke atas dan tak jarang menjadikan rakyat kecil sebagai “batu injakan” saja.
Alih-alih memperkuat ekonomi rakyat dan memperjuangkan dengan sungguh-sungguh
nasib rakyat dari derita kemiskinan dan pengangguran, justru yang terjadi
kesejahteraan rakyat kecil diabaikan.
Layak disadari oleh semua
pihak bahwa akar kemiskinan di Indonesia lebih banyak disebabkan
masalah-masalah struktural. Rakyat Indonesia bukan bangsa pemalas dan dengan
demikian miskin karena sikap malasnya. Umumnya kemiskinan Indonesia karena
pemerintah dan kebijakannya abai dan sering menutup serta membatasi akses
perekonomian rakyat.
Banyak situasi yang menyebabkan
masyarakat tidak bisa melakukan kegiatan produktifnya secara penuh. Adanya
kebijakan pembangunan yang tidak tepat sasaran merupakan sebab struktural yang
penyelesaiannya harus melalui tindakan struktural pula.
Selain itu, selama ini
pembangunan tidak memperhatikan aspek kehidupan dalam jangka panjang dan hanya
berorientasi memenuhi kebutuhan material.
Pembangunan bukan saja telah
gagal mensejahterakan manusia, melainkan juga merupakan biang dari masalah.
Selama ini pembangunan tidak menciptakan kemerdekaan dan kesejahteraan di
tengah masyarakat. Pembangunan sekadar alat bagi kapital untuk berkuasa.
Pemerintah perlu belajar
banyak dari pengalaman mengelola problem kemiskinan yang terjadi. Itu semua
perlu dipertimbangkan agar pemerintah terhindar dari tuduhan hanya
mempermainkan orang miskin untuk kepentingan kekuasaan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar