The Fall of Athens
Imam Sugema, EKONOM
Sumber : REPUBLIKA, 13
Februari 2012
Ini bukan judul film yang menceritakan tenI tang runtuhnya
peradaban di kerajaan Yunani kuno. The fall of Athens yang dimaksud pada rubrik
ini adalah cerita tentang bertekuk lututnya para penguasa di Athena terhadap
masalah utang yang sekarang ini mereka hadapi.
Minggu ini adalah minggu yang paling kritis bagi Perdana
Menteri Lucas Papademos dan kabinetnya. Mereka harus mengambil keputusan apakah
akan memenuhi permintaan para pemimpin pemerintahan negara-negara yang ter
gabung dalam Zona Euro atau memilih untuk ngemplang.
Dengan tingkat utang sebesar 160 persen dari produk domestik
bruto (PDB), pilihan bagi Yunani relatif sangat terbatas. Pertama adalah
memenuhi permintaan troika sehingga dana talangan dapat dicairkan. Troika
adalah sebutan bagi tritunggal penyedia dana talangan, yakni Komisi Eropa, Bank
Sentral Eropa, dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Mereka telah menyetujui penyediaan dana talangan tahap dua
sebesar 130 miliar euro bagi Yunani sehingga negara tersebut dapat membayar
utangnya dengan aman sampai 2020. Hanya saja, seperti kasus IMF versus
Indonesia, pencairanya dilakukan secara ber tahap yang disesuaikan dengan
pemenuhan conditionality atau persyaratan pencairan dana. Inilah yang sangat
berat untuk dipenuhi oleh Pemerintah Yunani.
Syarat yang paling berat adalah pemotongan anggaran sebesar
3 miliar euro. Yunani telah setuju dengan hal tersebut, tetapi detail rencana
anggaran apa saja yang dipotong tidak memuaskan troika. Pil pahit yang harus
ditelan adalah pemotongan gaji pensiunan, PHK terhadap 15 ribu pegawai negeri,
dan 20 persen pemotongan upah minimum. Kontan persyaratan ini memicu kerusuhan
sosial di seantero Yunani.
Masalah ini menjadi pelik karena tingkat pengangguran telah
mencapai 19 persen di mana satu di antara dua pemuda di negara tersebut tidak
memiliki pekerjaan. Pertumbuhan ekonomi tahun lalu adalah minus enam persen dan
kemungkinan tahun ini juga masih negatif. Dengan situasi perekonomian yang
sangat suram seperti ini, pemotongan anggaran hanya akan mengakibatkan situasi
menjadi lebih buruk. Yang dibutuhkan mestinya adalah ekspansi anggaran, bukan
pemotongan anggaran.
Namun, itulah situasi ketika sebuah negara sedang bangkrut.
Ia harus mau bertekuk lutut di hadapan kreditur. Pil pahit harus ditelan untuk
sekadar memastikan bahwa pencairan dana berikutnya akan lancar. Kalau tak
ditelan, uang tak bisa cair. Bukankah ini mirip pengalaman Indonesia pada waktu
yang lalu? Mirip sih, tapi situasi di Yunani sekarang ini jauh lebih parah dari
yang pernah kita hadapi.
Kebijakan ekonomi Yunani saat ini praktis dikendalikan oleh
troika. Judul dari persyaratan yang dikehendaki oleh troika adalah economic
reform atau reformasi ekonomi dengan dua komponen utama, yakni pemotongan
anggaran dan penjualan aset-aset negara. Yang terakhir ini sering dihaluskan
menjadi privatisasi. Yang terjadi adalah menjual aset negara secara murah kepada
pihak asing.
Tidak asing di telinga kita kan? Timbul pertanyaan paling
mendasar adalah sejauh mana masyarakat Yunani tahan dengan obat yang amat pahit
ini?
Standar hidup pasti merosot tajam. Para penganggur telah menjadi pengemis dan demonstran. Kejahatan amatiran, seperti mencopet, mencuri, dan merampok dengan kekerasan semakin meningkat.
Standar hidup pasti merosot tajam. Para penganggur telah menjadi pengemis dan demonstran. Kejahatan amatiran, seperti mencopet, mencuri, dan merampok dengan kekerasan semakin meningkat.
Penjara semakin penuh sesak. Bagaimana kalau kerusuhan
sosial menjadi semakin akut? Akan adakah politikus yang sanggup mengatasinya?
ataukah pertikaian politik akan semakin tajam? Sesungguhnya, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari.
ataukah pertikaian politik akan semakin tajam? Sesungguhnya, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Dengan format reformasi ekonomi yang demikian, satu hal yang
pasti, yakni krisis di Yunani, masih akan berlangsung cukup lama. Krisis utang
sedang bertransformasi menjadi krisis sosial-politik.
Alternatif yang kedua adalah ngemplang alias memutuskan
untuk tidak membayar utang selama 10 tahun. Ini bukan hal baru. Argentina
pernah melakukan hal ini semasa pemerintahan mendiang Nestor Kirchner. Waktu
itu, uang yang seharusnya dipakai untuk membayar utang direalokasi menjadi dana
pembangunan dan program sosial. Langkah Kirchner telah terbukti mendorong
pertumbuhan ekonomi, menyediakan lapangan kerja, dan mengurangi jumlah orang
yang kelaparan. Argentina pada akhirnya mampu membayar utang lebih cepat dari
yang seharusnya.
Mungkin hal serupa bisa saja terjadi di Yunani. Syaratnya
hanya satu, yakni memiliki pemimpin yang kuat dalam visi pembangunan. Mungkin
itu yang sulit untuk dicari saat ini. Lagi pula, langkah tersebut pastinya
ditentang oleh negaranegara Zona Euro karena akan mengakibatkan guncangan
dahsyat di pasar finansial di seluruh Eropa. Maklum, kreditur terbesar negara
tersebut adalah lembaga keuangan swasta di kawasan Eropa.
Manakah yang akan dipilih Yunani, apakah pil pahit atau ngemplang?
Kita tunggu saja keputusannya. Mudah-mudahan yang terbaik yang akan dipilih. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar