Senin, 07 November 2011

Kapitalisme di Akhir Sejarah?


Kapitalisme di Akhir Sejarah?
Amich Alhumami, PENELITI SOSIAL DI UNIVERSITY OF SUSSEX, UNITED KONGDOM
Sumber : SINDO, 07 November 2011



Dalam perseteruan panjang di pentas sejarah dunia, pertarungan dua ideologi besar berakhir ketika Tembok Berlin runtuh tahun 1989, yang menandai kemenangan kapitalisme atas sosialisme.

Menganut sosialisme, Jerman Timur tertinggal jauh dalam pencapaian kemakmuran ekonomi dibandingkan Jerman Barat yang menganut kapitalisme. Merujuk Karl Marx yang sangat masyhur dengan karya magnum opus-nya, Das Kapital —sebuah kritik atas kapitalisme dan manifesto ideologi ekonomi-politik—,warga masyarakat Jerman kerap menyitir ungkapan jenaka-satirikal: Marx left capital in West Germany and bequested just manifesto to East Germany. Ketika kedua negara sepakat reunifikasi, dunia meyakini kereta sejarah telah sampai di stasiun paling akhir.

Dunia pun merayakan kemenangan kapitalisme ketika sosialisme telah tersingkir di pojok sejarah. Salahkah manifesto ekonomi- politik dalam Das Kapital Karl Marx? Apakah sosialisme benar-benar sudah menjadi fosil, terkubur dalam sejarah? Seberapa kuat daya tahan kapitalisme sebagai ideologi hegemonik di pentas dunia? Bila kita periksa ulang pemikiran Marx, sosialisme belum sepenuhnya tamat dan, sebaliknya, kapitalisme pada akhirnya akan mengalami pembusukan (decomposition).

Saksikan, pada dekade pertama abad ke-21 kapitalisme diguncang krisis hebat, yang mungkin akan mengantarkannya sampai di akhir hayat.”Kapitalisme akan mati,” Joseph Schumpeter (1942) meramal, ”bukan karena gagal mengoperasikan sistem ekonominya, tetapi justru karena pencapaian gemilang yang berhasil diraihnya.” Sungguh ironis,kesuksesan kapitalisme justru menciptakan situasi ekonomi-politik yang tak kondusif dan kurang favourable bagi para penganutnya.

Kesuksesan kapitalisme telah memicu sentimen negatif dan sikap antipati, melahirkan apa yang disebut atmosphere of almost universal hostility to its own social order. Gejala ini jelas mengemuka dalam rangkaian demonstrasi menentang kapitalisme di New York dan kotakota lain di Amerika Serikat. Bahkan para demonstran mengekspresikan kebencian pada kapitalisme dengan menduduki Wall Street: jantung kapitalisme global.Rangkaian demonstrasi melawan kapitalisme juga marak di Eropa: Yunani, Inggris,Spanyol, Prancis, dan mungkin akan terus menjalar ke negara-negara lain.

Cacat Bawaan

Bagaimana Schumpeter, 70 tahun silam, begitu tepat meramal bahwa kebencian sebagian masyarakat dunia pada kapitalisme akan merebak? Schumpeter jelas merujuk Marx yang berabad silam telah memprediksi bahwa kapitalisme akan runtuh karena ideologi ini mengandung apa yang disebut the seeds of its own destruction. Kapitalisme juga menyimpan cacat bawaan: primitive accumulation, naluri purba untuk menumpuk modal dengan cara mengeksploitasi segenap sumber daya ekonomi tanpa batas, tanpa kendali.

Primitive accumulation, yang menjelma dalam bentuk keserakahan para pelaku ekonomi dan pemburu rente, menjadi pangkal segala masalah. Primitive accumulation menyebabkan sistem ekonomi kapitalis kehilangan keseimbangan dan akhirnya runtuh. Praktik ekonomi kapitalis yang digerakkan oleh naluri purba—menguasai seluruh moda produksi dan menumpuk kapital— beroperasi di seluruh bidang dalam aktivitas perekonomian. David Harvey, ahli geografi dan antropologi beraliran Marxis, menggambarkan bagaimana sistem ekonomi kapitalis beroperasi tanpa limitasi dan kontrol.

Kapital seyogianya dipahami sebagai suatu proses sosial ketika uang bergerak dinamis. Nilai uang dilipatgandakan melalui beragam aktivitas ekonomi, yang bertujuan mengakumulasi kapital. Para kapitalis pun menjelma dalam aneka wajah.Para kapitalis finansial berburu uang melalui bank komersial; mereka meminjamkan uang untuk meraih keuntungan melalui bunga pinjaman.Mereka juga menjadi spekulan dalam pasar saham demi meraup keuntungan material dan mendominasi pergerakan modal.

Para tuan tanah dan pemilik properti berburu uang dengan menyewakan tanah dan properti karena keduanya menjadi sumber daya langka bernilai ekonomi tinggi. Bahkan institusi negara sekalipun bisa bertindak sebagai kapitalis dengan menggunakan uang pajak, yang diinvestasikan untuk pembangunan infrastruktur demi memacu pertumbuhan dan kemudian dapat memungut uang pajak lebih banyak lagi (lihat The Enigma of Capital and the Crises of Capitalism, 2010).Cara kerja sistem ekonomi kapitalis ini merefleksikan karakter primitiveaccumulation, yang mencerminkan keserakahan para kapitalis.

Melawan

Namun, yang menarik— sekaligus merupakan ironi— dari sistem ekonomi kapitalis adalah ia melahirkan lapisan critical mass, kaum intelektual dan golongan terpelajar, yang kemudian membangkitkan sikap kritis-rasional terhadap ideologi ekonomi-politik ini. Mereka tumbuh menjadi kekuatan baru yang pada akhirnya justru melawan sistem sosial-ekonomi yang dibangun berbasis ideologi kapitalisme.

Kaum intelektual dan kelompok terdidik inilah yang menggalang aksi demonstrasi di berbagai negara untuk melawan dominasi dan hegemoni kapitalisme global.Kemunculan lapisan massa kritis merupakan akibat tak sengaja dari sistem ekonomi kapitalis. Generasi antikapitalis justru terlahir dari rahim kapitalisme sendiri,seperti yang diramalkan Schumpeter tujuh dekade silam.

Pada saat kapitalis mesedang dilanda krisis, akankah dunia kembali ke sosialisme seperti keyakinan Karl Marx? Hipotesis Marx: masyarakat sosialis akan terbentuk ketika masyarakat kapitalis membusuk. Namun, bagi Winston Churchill, baik sosialisme maupun kapitalisme potensial menciptakan nestapa kemanusiaan. Ia menegaskan, ”The inherent vice of capitalism is the unequal sharing of blessings; the inherent vice of socialism is the unequal sharing of miseries.” Sangat jelas,kedua ideologi ekonomi-politik ini mengandung paradoks: kemakmuran ekonomi hanya dinikmati kelompok elite, sementara kaum alit tetap bergelut dalam kesengsaraan tak berkesudahan.

Keduanya tak menawarkan solusi bagi aneka masalah global yang demikian kompleks. Inilah tantangan utama bagi bangsa-bangsa di dunia untuk mencari “Jalan Ketiga” agar dapat mencairkan kebuntuan antara kapitalisme dan sosialisme. Bangsa Indonesia menawarkan apa? Ekonomi konstitusi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar