Senin, 13 Mei 2013

Babak Baru Demokrat


Babak Baru Demokrat
Ridho Imawan Hanafi  ;  Analis Politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate Jakarta
SUARA MERDEKA, 11 Mei 2013


SUSILO Bambang Yudhoyono saat itu tentu berada dalam posisi siap penuh ketika memutuskan menerima mandat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Sebagai presiden dan memikul sederet jabatan penting di partai, Yudhoyono tahu persis bahwa keputusannya itu akan memiliki rIsiko politik tidak ringan.
Yudhoyono paham akan suara-suara eksternal yang mengingatkan bahwa partai modern tidak boleh bergantung pada figur perseorangan. Namun, ia tampaknya lebih merasakan kebutuhan internal yang terbaik bagi partai sehingga ia sementara meminggirkan kritikan dari berbagai penjuru.

Yudhoyono memang berhadapan dengan situasi internal Demokrat yang serba umit. Menjelang waktu penyelenggaraan Pemilu 2014 yang tidak lagi panjang, persiapan Demokrat tersendat oleh dua beban: kepemimpinan dan elektabilitas. Mencari pengganti Anas Urbaningrum ternyata bukan persoalan mudah. Keberhentian Anas masih menyisakan kekhawatiran bahwa siapa pun yang mengganti masih berisiko pada tak terhentinya perseteruan internal antarfaksi.

Dengan kata lain, siapa pun pemimpin baru Demokrat juga bisa terganggu membangun konsolidasi. Padahal, Demokrat memerlukan soliditas internal yang kukuh untuk menyambut kompetisi.  

Sebagai partai pemenang Pemilu 2009, elektabilitas kekinian Demokrat yang berada dalam rentang satu digit dianggap mencemaskan. Butuh daya dongkrak kuat untuk memulihkan elektabilitas, setidak-tidaknya dalam angka yang cukup agar bisa bersaing dengan partai besar lain. Beban elektabilitas seperti itu akan kesulitan dicapai dalam waktu singkat bila Demokrat tidak mempunyai pemimpin yang bisa menjamin soliditas internal sekaligus memiliki daya elektoral tinggi. Untuk menjawab dua beban terdekat itu, hanya Yudhoyono yang mungkin dilihat internal bisa memecahkan.

Saat ini, sudah lebih dari satu bulan, sejak akhir Maret 2013, Demokrat menjalani babak baru  dalam kendali Yudhoyono. Sebelum ini, posisi Yudhoyono di internal seperti ìtidak tersentuhî. Posisinya serbalevel atas. Pada posisi seperti itu, figur dia memiliki jarak yang cukup dengan level kepengurusan di bawahnya. Maka dalam figur Yudhoyono menempel pengaruh kewibawaan yang kuat.

Ketika partai sedang menuai sentimen positif, Yudhoyono akan juga memperoleh ganjaran. Sebaliknya, saat partai sedang dalam kondisi terpuruk, ia masih tetap terjaga citranya. Dalam posisi ketua umum sekarang, meminjam Michael Foley (2002), telah membuat Yudhoyono sebuah komoditas bincang yang secara terus-menerus diuji dan dievaluasi kualitas kepemimpinannya.

Jika melihat struktur baru kepengurusan partai, Yudhoyono memang sudah menanggalkan beberapa jabatan penting, seperti Ketua Dewan Pembina dan Ketua Dewan Kehormatan, namun upaya untuk makin menguatkan pondasi pengaruh kepemimpinannya juga terlihat. Hampir seluruh kanal pengambil keputusan penting di Demokrat dicagak kubu Yudhoyono.

Langkah ini mengartikan bahwa tidak ada pintu celah bagi loyalis non-Yudhoyono memasuki area inti partai. Meskipun demikian upaya akomodasi juga terlihat karena tidak seluruhnya loyalis non-Yudhoyono tidak masuk kepengurusan. Langkah seperti itu memang patut ditempuh guna mencoba membangun puing internal yang selama ini retak. Dengan kata lain, menjelang 2014 internal partai sebisa mungkin tidak ada suasana gaduh.

Konvensi Capres

Kini, Demokrat bergegas ingin memulihkan elektabilitas. Selama ini, persepsi negatif publik terhadap Demokrat memang perlahan mulai mengarat. Keterseretan beberapa kader partai dalam kasus korupsi membuat publik kian tak percaya pada partai penguasa itu. Kemenangan pada Pemilu 2009 rupanya tidak dijadikan mandat kepercayaan, tetapi sudah dilihat publik sebagai instrumen penyimpangan. Inilah yang barangkali akan membuat popularitas Yudhoyono tidak serta merta berbanding lurus dengan kenaikan elektabilitas partai, apalagi jika kinerja pemerintahan juga tidak menunjukkan prestasi  luar biasa.

Di samping itu, setelah menyelesaikan urusan penyusunan daftar caleg, Demokrat juga sedang menggodok rencana konvensi menjaring calon presiden, yang akan dimulai Juni 2013. Konvensi dilakukan  semiterbuka. Lewat konvensi, Demokrat ingin membuka kesempatan kepada tokoh potensial, baik dari internal maupun eksternal, untuk maju sebagai capres dari Demokrat. Pemilik suara dalam konvensi bukan dari internal partai, melainkan melalui penjaringan aspirasi masyarakat secara langsung. Capres pilihan masyarakat tersebut akan diputuskan oleh Majelis Tinggi untuk kemudian diusung dalam Pilpres 2014.

Di luar agenda jangka pendek tersebut, Demokrat semestinya perlu memikirkan tantangan jangka panjang yang tidak kalah penting. Tantangan itu adalah membangun Demokrat sebagai partai modern yang tidak menjangkarkan pengaruh pada figur tertentu. Tidak bisa dimungkiri, Demokrat masih bergantung pada figur Yudhoyono atau saat ini bahkan mengarah pada kemenguatan sentralisasi pengaruh Yudhoyono. Meskipun Yudhoyono  berjanji akan menghilang pelan-pelan (fading away) sehingga partai tidak tergantung kepadanya, langkah tersebut tidak akan mudah, karena basis pengaruh juga sudah ditancapkan dengan dalam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar