Kamis, 06 September 2012

Membangun Asa dari Krisis Global


Membangun Asa dari Krisis Global
Joseph Henricus Gunawan ;  Alumnus University of Southern Queensland
(USQ), Australia
SUARA KARYA , 05 September 2012


Krisis utang di zona euro sampai sekarang belum berakhir dan perekonomian zona euro semakin parah. Gejolak finansial yang berawal dari krisis utang di Yunani itu, kini semakin meluas dan menyeret negara-negara pemakai euro ke dalam jurang resesi. Belum terlepas dari gejolak krisis finansial Spanyol yang berada di peringkat keempat negara yang menguasai perekonomian zona euro dan peringkat ke-12 kekuatan ekonomi dunia, masalah kebangkrutan mulai semakin meluas ke Siprus yang menjadi negara selanjutnya yang terkena efek domino dari krisis utang.

Krisis finansial zona euro yang semakin membelit serta belum menemukan titik terang penyelesaiannya, justru kian mencemaskan pasar dan kawasan zona euro serta dunia. Mendung kelabu ekonomi global kian menggantung. Apalagi, setelah Italia, yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar ketiga di zona euro, kian terancam menjadi korban krisis finansial dalam zona euro. Sebelumnya, ada beberapa negara zona euro yang telah terkena badai krisis, yakni Yunani, Irlandia, dan Portugal.

Bahkan, tingkat pengangguran di zona euro menembus rekor tertinggi baru pada Mei 2012, yakni 11,1 persen. Sebanyak 17,56 juta jiwa kehilangan pekerjaan di 17 negara zona euro sepanjang bulan Mei 2012, terutama di Prancis dan Spanyol. Badan Statistik Uni Eropa (UE) atau Eurostat menyatakan bahwa data tersebut adalah rekor baru sejak 1995. Eurostat melaporkan bahwa jumlah warga zona euro yang kehilangan pekerjaan bertambah hampir 2 juta jiwa dalam 14 bulan terakhir ini.

Momentum Indonesia

Indonesia dengan struktur pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi domestik dan ekspor produk manufaktur yang didominasi komoditas setengah jadi seperti minyak sawit mentah (CPO/Crude Palm Oil), hortikultura, agribisnis, dan kelompok usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) seharusnya dapat memanfaatkan momen peluang di tengah memburuknya krisis ekonomi yang melanda Eropa dan ekonomi China yang mulai melambat (slow down). Apalagi, tingkat pertumbuhan ekonomi zona euro rendah pada beberapa bulan ke depan, bahkan bisa terjadi kontraksi pada periode Juli-September 2012. Walaupun, kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa di Brussels, Belgia, akhir Juni lalu dinilai berhasil meringankan beban negara-negara yang menjadi korban zona euro sekaligus mengurangi kecemasan pasar.

Kepala Dewan Eropa, Herman Achille Van Rompuy menyatakan bahwa rekapitalisasi langsung dari dana talangan sebesar 500 miliar euro baru akan bisa diimplementasikan sesudah terbentuk satu badan khusus yang akan ditugasi Uni Eropa sebagai mitra kerja Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mengawasi perbankan seluruh Eropa.

Para pemimpin dari 27 negara anggota UE sepakat mengizinkan dana penyelamatan bernama Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM) diaktifkan menggantikan Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF) untuk memulihkan kembali kepercayaan pasar, menstabilkan utang pemerintah negara-negara anggota UE sekaligus mengendalikan pasar finansial atau untuk menurunkan bunga surat utang anggota yang bermasalah. Antara lain, dengan membeli langsung surat utang anggota yang bermasalah tanpa mewajibkan anggota mengadopsi kebijakan pengetatan anggaran atau disiplin fiskal. Ini diharapkan akan banyak mengangkat negeri Matador dan Italia dari ketidakpercayaan pasar pada kemampuan pelunasan utang kedua negara.

Namun, Finlandia dan Belanda, kreditor garis keras di zona euro bersikukuh mementahkan kesepakatan KTT Uni Eropa tersebut. Jerman pun menolak, bahkan Kanselir Jerman, Angela Dorothea Merkel menekankan betapa kebangkrutan dan pil pahit harus ditelan negara-negara zona euro untuk membuka jalan, memperbaiki disiplin ekonomi, dan mengatasi akar masalah di zona euro. Krisis zona euro masih jauh dari berakhir.

Oleh karena itu, Indonesia harus mewaspadai imbas krisis utang dan penurunan pertumbuhan ekonomi di Eropa yang telah mengerem laju perekonomian AS, dapat meluber berdampak pada krisis global dan berisiko besar menghambat pertumbuhan ekonomi dunia mengingat tren pelemahan ekspor Indonesia sebagaimana tercermin defisit dalam nilai neraca perdagangan Indonesia selama 3 bulan berturut-turut sejak April 2012.

Indonesia yang didukung dengan kekayaan sumber daya alam yang begitu melimpah ruah, konsumsi domestik yang kuat dengan jumlah penduduk 237,56 juta jiwa, investasi yang tumbuh pesat, serta fiskal yang sehat, niscaya dunia masih tetap melirik Indonesia. Dunia pasti melirik potensi ekonomi Indonesia yang masih bisa bertumbuh untuk jangka panjang apabila pemerintah sukses membenahi birokrasi, mempercepat pembangunan infrastruktur sekaligus menyelesaikan persoalan ketersediaan sumber daya energi yang kurang memadai, menurunkan berbagai ekonomi biaya tinggi.

Pemerintah dengan langkah sistematik harus memfasilitasi pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang cakap, mampu, cekatan, sehat, inovatif, dan menguasai iptek, sekaligus memfasilitasi pengusaha nasional mengubah mindset, orientasi, strategi bisnis dari lokal dan regional menuju global serta mampu menaikkan daya saing. Selain itu, pemerintah harus memperbaiki law enforcement dan menyediakan kepastian hukum bagi pelaku dunia usaha dengan segera merampungkan regulasi, perbaikan transmisi kebijakan keuangan serta kebijakan energi, kebijakan industri nasional, kebijakan investasi pada sektor ekonomi rakyat produktif, dan krusialnya koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Hal ini penting agar mampu memicu pertumbuhan berkualitas dan pemerataan ekonomi yang berakselerasi, bisa melaju, dan berlari lebih kencang lagi mengejar ketertinggalan dari negara lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar