Kebijakan Mendorong Sektor Kelautan
Herman Khairon, WAKIL KETUA KOMISI IV DPR
Sumber : SUARA MERDEKA, 13
Februari 2012
Sebagai negara kepulauan atau negara bahari,
Indonesia mempunyai potensi sangat besar yang belum tergali secara optimal di
sektor kelautan dan perikanan. Kekayaan laut, dan keindahan pantainya merupakan
potensi kekuatan ekonomi yang sangat signifikan baik melalui sektor pariwisata,
ataupun hasil perikanannya.
Untuk mendukung terciptanya pendapatan negara,
dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pemerintah melalui Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) dan beberapa kementerian terkait lainnya terus
mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis untuk membangun dan menjadikan
sektor ini sebagai sektor yang strategis untuk memaksimalkan potensi ekonomi
itu.
Namun demikian, lagi-lagi kebijakan baik yang
dikeluarkan belum menjamin hasil yang diperoleh akan baik pula. Sampai sejauh
ini, sejumlah kebijakan yang telah diberlakukan sudah tergolong baik tetapi
tidak demikian dengan implementasinya. Bukan sebuah apologi jika persoalan
demikian disebut bukan fenomena baru, karena ia sudah sejak lama menjadi
persoalan krusial, bahkan sejak Indonesia merdeka.
Justru pada era sekarang banyak upaya serius dan
semakin kuat kecenderungannya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim
yang sesungguhnya. Begitu juga pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang
diyakini sebagai keniscayaan masa depan Indonesia. Entah berapa kali
dikemukakan sejumlah ahli dan berbagai studi bahwa pembangunan kelautan dan
perikanan merupakan bidang yang penting digarap terlebih karena Indonesia
memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang begitu besar.
Sebagai gambaran umum, kondisi geografis
Indonesia lebih dari 70 persen merupakan lautan. Di sisi lain ada sejumlah
permasalahan yang belum bisa sepenuhnya diatasi, belum tersedianya teknologi
kelautan secara memadai, terbatasnya sumber permodalan yang dapat digunakan
untuk investasi dan sebagainya.
Bandingkan dengan sejumlah negara seperti Korea
Selatan, Thailand, Islandia, dan Norwegia, yang relatif berhasil dalam
membangun sektor perikanan dan kelautan sebagai sebuah industri yang
berkontribusi besar bagi kemakmuran rakyatnya.
Bayangkan jika Indonesia bisa melakukannya,
betapa besar efek menyebar (multiplier effect) yang bisa diciptakan bagi
kesejahteraan masyarakat. Mengingat potensi yang begitu besar Indonesia
berpeluang menjadi eksportir perikanan terbesar di dunia. Bukan menjadi
bukannya menjadi importir, tentunya jika se-mua stakeholder serius menggarap sektor
tersebut. Sejak dari hulu potensi perikanan di sektor hulu sangat besar, yaitu
perikanan tangkap, perikanan budi daya, dan industri bioteknologi perairan.
Begitu juga di hilirnya. Tetapi fakta menunjukkan bahwa potensi itu belum
memberikan nilai tambah yang besar karena masih lemahnya industri sektor
pengolahan produk perikanan.
Oleh berbagai sebab, seperti faktor distribusi,
sebagian besar atau sekitar 60 persen dari seluruh hasil tangkapan di laut saat
ini masih dipasarkan dalam keadaan mentah atau belum diolah, 22 persen diolah
secara tradisional, dan 4 persen diolah secara modern. Secuil fakta itu cukup
menunjukkan bahwa industrialisasi sektor perikanan merupakan sesuatu yang
sangat penting untuk mengaktualisasikan atau menjadikan fungsional sejumlah
potensi kelautan dan perikanan yang dimiliki Indonesia.
Dalam kaitan dengan Sistem Logistik Ikan
Nasional (SLIN) dan industrialisasi sektor perikanan, KKP belum lama ini
mengeluarkan kebijakan untuk mengembangkan sistem logistik ikan nasional. Itu,
sebagai langkah membenahi distribusi ikan di tanah air. Pemerintah bersama
stakeholders terkait menyiapkan SLIN untuk membangun mata rantai distribusi
ikan dari daerah, sebagai langkah membenahi distribusi produk perikanan.
Alasannya, penyebaran distribusi ikan dari sentra produksi belum optimal,
sementara aspek kontuinitas pasokan sangat diperlukan sebagai kebutuhan
konsumsi dan industri pengolahan perikanan. Kebijakan dengan kredo SLIN,
merupakan bagian dari pengembangan Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS).
Apapun sebutan dan namanya, konsep tersebut
merupakan sesuatu yang tepat dan perlu mendapat dukungan karena faktanya
persoalan logistik dan distribusi perikanan Indonesia masih menjadi masalah
serius. Bukan sesuatu yang baru terjadi bahwa pada waktu tertentu di sejumlah
tempat sering kekurangan pasokan ikan dan membuat harga ikan relatif mahal yang
juga berakibat rendahnya konsumsi masyarakat terhadap ikan. Kondisi ini salah
satu sebabnya karena persoalan sistem logistik dan distribusi perikanan yang
belum berjalan baik.
Lebih serius lagi persoalannya jika dikaitkan
dengan fakta bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau
sehingga persoalan infrastruktur (sarana dan prasarana) untuk distribusi
perikanan menjadi isu yang krusial guna mengoptimalkan potensi perikanan.
Logika ini sebangun dengan persoalan sektor lain yang juga menghadapi persoalan
yang relatif sama. Tidak heran jika persoalan sistem logistik dan distribusi
perikanan juga menjadi sesuatu yang sangat penting bagi pemantapan
industrialisasi perikanan nasional, sebagai suatu kebijakan mendorong sektor
kelautan.
Dengan pemetaan logistik dan alur distribusi
yang baik, setidaknya secara tidak langsung bisa diharapkan tingkat konsumsi
perikanan masyarakat Indonesia menjadi lebih tinggi kuantitas dan kualitasnya.
Diakui, sampai saat ini aspek penyebaran atau
distribusi ikan dari sentra produksi belum optimal untuk mendorong tumbuhnya
usaha atau industri produk perikanan agar semakin efisien dan ekonomis. Ini
tantangan yang harus dijawab agar pelaku kalangan usaha perikanan tidak
mengambil jalan pintas, melakukan impor ikan atau bahkan transhipment. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar